Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Memacu Ghirah Belajar Al-Qur’an

Iklan Landscape Smamda
Memacu Ghirah Belajar Al-Qur’an
pwmu.co -

Oleh Maslahul Falah – Sekretaris PCM Laren Lamongan, Koord Divisi Hisab dan Falak MTT PDM Lamongan

PWMU.CO – Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan dan hati, agar kalian bersyukur.” (QS An-Nahl 78).

Sebelum menafsirkan ayat ini, Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menuturkan bahwa setelah Allah menjelaskan kekuasaan dan kebesaran-Nya yang meliputi seluruh langit dan bumi, serta menggenggam rahasia alam dan kunci waktu terjadinya kiamat—yang bisa terjadi dalam sekejap mata—manusia mendapat perintah untuk kembali mengingat diri sendiri, agar dapat membandingkan kemuliaan dan kebesaran Tuhan dengan keterbatasan serta kehinaan diri sendiri.

Hamka sendiri merinci ayat ini menjadi dua tafsiran. Pertama, pada pangkal ayat 78 tafsiran Hamka adalah gelap dunia ini kita hadapi. Hanya dengan tangis kita menghadapi dunia ketika kita mulai keluar dari perut ibu. Tidak ada yang kita ketahui selain dari anugerah Ilahi yang bernama gharizah atau naluri. Menangis kala terasa dingin, menangis kala terasa lapar, dan menangis kala terasa panas.

Kedua, (artinya) “Dan dijadikan-Nya untuk kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. Menurut Hamka adalah dengan berangsur-angsur tumbuhlah pendengaran, maka terdengarlah suara-suara dari yang dekat sampai pada yang jauh. Bersamaan dengan itu, berkembang pula penglihatan  sehingga dapat membedakan berbagai warna dan dapat mengenali wajah ibu yang sedang menyusui.

Kemudian, pendengaran dan penglihatan itu dipandu oleh hati, perasaan, dan pikiran. Seiring bertambahnya usia, manusia berkembang secara bertahap menjadi semakin matang, hingga akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang berbudi bahasa, sopan, dan santun. Ia pun menjadi mampu memikul taklif, yaitu beban tanggung jawab dari Allah di atas pundaknya, serta menjadi anggota penuh dari umat manusia.

“Agar kamu bersyukur” (akhir Surah An-Nahl: 78). Menurut Hamka, makna bersyukur adalah menggunakan nikmat-nikmat Allah di dunia ini sebaik-baiknya, sehingga kita menjadi manusia yang berarti. Bersyukur berarti berterima kasih, sedangkan lawan dari syukur adalah kufur, yaitu tidak mengenal budi.


Saat kita lahir, kita berada dalam keadaan tidak mengetahui apa pun. Namun, di sisi lain, kita telah bersumpah di hadapan Allah untuk mengakui bahwa Dia adalah Tuhan kita (bertauhid), sebagaimana termaktub dalam QS. Al-A’raf ayat 172. Kita juga lahir ke dunia ini untuk beribadah kepada-Nya (QS. Adz-Dzariyat ayat 56) dan mengemban misi sebagai khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah ayat 30). Selain ketiga hal tersebut, manusia juga memikul amanat-amanat lainnya.

Sebagai insan yang bertauhid, kita harus memahami Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam agar tidak tersesat selama-lamanya, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Imam Malik. Al-Qur’an, yang berbahasa Arab, terdiri atas 30 juz, 114 surat, dan lebih dari 6.000 ayat. Allah menganugerahkan kepada kita empat kunci pengetahuan, yaitu pendengaran, penglihatan, af’idah (hati dan akal) sebagaimana tercantum dalam QS. An-Nahl ayat 78, serta al-bayan (kemampuan berkomunikasi) dalam QS. Ar-Rahman ayat 4, untuk mengenal Tuhan, diri sendiri, dan lingkungan. Hakikat Tuhan, diri, dan lingkungan tersebut tertulis dalam Al-Qur’an.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Salah satu bentuk dan cara kita memahami Al-Qur’an adalah dengan mempelajari dan mengajarkannya. Mempelajari Al-Qur’an membutuhkan proses, dan paling tidak harus memulai dari belajar dasar alif-ba`-ta`-tsa`…. lalu a-ba-ta-tsa …. Demikian pula untuk mengajarkannya, tentu membutuhkan proses yang harus dijalani dengan penuh kesabaran.

Kesibukan dalam mempelajari dan mengajarkan ilmu itu secara singkat dapat narasikan:
Perlahan-lahan, kita mendengar di surau suara anak-anak yang mengeja a-ba-ta-tsa, berusaha mengucapkan dengan benar dan membedakan antara ‘ain dan hamzah. Dari musholla, terdengar pula sang guru mengulang-ulang bacaan ghorib musykilat agar para santri tidak salah dalam melafalkannya. Di seberang sana, hati kita tersentuh oleh lantunan fawatihus suwar yang di baca dengan tepat—tanpa kesalahan—hingga hati ini terasa semakin tenteram.

Dari ketidaktahuan menjadi tahu, dari yang tidak berilmu menjadi berilmu. Dalam proses ini, ada guru—atau sebutan lainnya—yang membimbing mereka. Di samping itu, peran orang tua juga sangat besar dalam memberikan landasan untuk belajar Al-Qur’an.
Kami, bersama-sama, mendidik anak-anak kita dengan penuh kesabaran, mengenalkan huruf demi huruf Al-Qur’an.
Oleh karena itu, marilah kita panjatkan doa untuk mereka yang telah mendahului kita maupun yang masih hidup, agar senantiasa mendapatkan ampunan, kekuatan, keberkahan, dan naungan dari Allah Swt.

Umat Islam dipersatukan oleh kecintaan terhadap Al-Qur’an. Marilah kita kobarkan semangat, gairahkan hati, dan gerakkan seluruh potensi diri kita untuk mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an. Mari kita didik anak-anak dan para santri agar belajar dan memahami Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya.

Jika ada yang berpendapat bahwa terdapat lima tingkatan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an—yaitu mendengarkan (al-istima’), membaca (at-tilawah), menghafal (al-hifzh), merenungkan (at-tadabbur), dan mengamalkan (al-‘amal)—maka kita meyakini bahwa setiap huruf yang kita pelajari, eja, baca, dan ajarkan pasti akan memberikan dampak positif bagi diri kita. Namun, yang juga perlu kita yakini adalah bahwa hidayah Allah Swt merupakan faktor utama yang menetap dalam hati manusia.

Oleh karena itu, mari kita selaraskan keinginan kita untuk belajar dan mengajarkan Al-Qur’an dengan kedekatan kita kepada Allah Swt., agar hidayah-Nya hadir dan menetap di dalam hati kita. Semoga kesabaran pun tertanam kokoh dalam jiwa kita sebagai para pecinta Al-Qur’an—baik sebagai pendidik, penghafal, penerjemah, penafsir, pentadabbur, pengamal, pendakwah, pembaca, maupun penikmat. (*)

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu