Ahad pagi (29/3/2026), suasana Masjid Al-Ghoihab Al Mizan Putra terasa berbeda. Langit masih menyisakan kesejukan Syawal, sementara langkah-langkah para santri, wali santri, guru, dan keluarga besar Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan berjalan penuh harap menuju satu titik: pertemuan hati dalam balutan Istihlal 1447 Hijriah.
Sejak awal acara, nuansa kekhidmatan begitu terasa. Lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadz Fairuz Javier mengalun lembut, seakan menjadi jembatan yang menghubungkan setiap jiwa pada makna kembali; kembali kepada Allah, kembali kepada sesama, dan kembali kepada fitrah.
Acara yang dihadiri Badan Pembina, Mudir beserta jajaran, dewan asatidzah, para guru dari berbagai lembaga pendidikan di bawah naungan Al Mizan, karyawan, hingga wali santri ini bukan sekadar seremoni tahunan. Namun ruang batin untuk saling membuka hati.
Fitrah yang Tak Sekadar Kata
Dalam kajian iftitahnya, Ketua Badan Pembina Al Mizan, Drs. KH Soepandi, mengajak seluruh hadirin untuk merenungi makna fitrah secara lebih mendalam.
“Sejak 1 Syawal kita kembali kepada fitrah. Tapi fitrah itu ada dua makna,” tuturnya.
Ia menjelaskan, makna pertama bersifat lahiriah; kembali kepada kebolehan setelah sebulan menahan diri. Namun makna kedua jauh lebih dalam: kembali kepada kesucian, bersih dari dosa.
“Ini yang harus kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Apakah kita benar-benar kembali dalam keadaan bersih?” ujarnya, mengajak hadirin untuk tidak sekadar merayakan, tetapi juga mengintrospeksi.
Dalam suasana penuh kehangatan itu, beliau juga menyampaikan permohonan maaf atas nama lembaga. Sebuah sikap rendah hati yang justru mempererat ikatan.
Istihlal: Tradisi yang Sarat Makna
Berbeda dengan kebanyakan tempat yang mengenal Halalbihalal, Al Mizan memiliki tradisi khas: Istihlal.
Mudir Al Mizan, Mujianto, M.Pd.I, menjelaskan bahwa istilah ini bukan tanpa sejarah. Ia merupakan warisan dari KH Abdul Fatah, mudir pertama Al Mizan, yang mengandung makna “meminta dilepaskan” atau “dibebaskan”.
“Di Al Mizan ini istimewa. Kita tidak menyebutnya Halalbihalal, tapi Istihlal. Ini tradisi yang tidak ada di tempat lain,” ungkapnya.
Makna Istihlal menjadi semakin terasa ketika Mujianto mengajak seluruh hadirin untuk benar-benar mengikhlaskan setiap kekhilafan yang mungkin terjadi selama proses pendidikan dan interaksi.
“Jangan sampai kita keluar dari pondok masih membawa ganjalan di hati,” pesannya.
Dengan penuh ketulusan, ia mewakili keluarga besar Al Mizan memohon maaf kepada seluruh wali santri. Sebuah momen yang tidak hanya menyentuh, tetapi juga menguatkan hubungan emosional antara pondok dan orang tua santri.

Doa dan Harapan yang Mengalir
Tidak hanya berisi permohonan maaf, Istihlal juga menjadi ruang untuk menumbuhkan harapan. Mujianto menyampaikan rasa terima kasih kepada wali santri yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya di Al Mizan.
“Mudah-mudahan dari tempat proses ini, lahir pemimpin-pemimpin bangsa,” harapnya.
Ia juga memohon doa agar seluruh program pondok berjalan lancar, serta para guru dan ustadz-ustadzah diberikan kesehatan dan kelapangan rezeki.
Doa yang dipimpin oleh H. Ahmad Fanani, M.Pd menutup rangkaian acara dengan penuh kekhusyukan. Namun sejatinya, penutup bukanlah akhir.
Selepas acara, satu per satu wali santri bersalaman dengan pimpinan, guru, dan pengasuh pondok. Tangan-tangan yang saling menggenggam itu menjadi simbol luruhnya ego, runtuhnya sekat, dan mengalirnya keikhlasan.
Di momen itulah, Istihlal menemukan maknanya yang paling nyata: bukan hanya diucapkan, tetapi dirasakan.
Silaturahmi yang terjalin pada hari itu bukan sekadar pertemuan fisik, melainkan pertautan hati. Sebuah ikhtiar bersama untuk menjaga ukhuwah, memperkuat kepercayaan, dan melangkah ke depan dengan jiwa yang lebih lapang.
Sebagaimana harapan yang menggema di akhir acara, semoga pertemuan ini membawa barokah, menjadi penguat tali silaturahmi antara pondok dan wali santri, serta menjadi bekal untuk terus menapaki jalan pendidikan dan dakwah dengan penuh keikhlasan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments