Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mudik Sebagai Upaya Menghidupkan Sunnah

Iklan Landscape Smamda

Istilah “mudik” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) seringkali disinonimkan dengan istilah pulang kampung.

Secara teknis, ia merujuk pada kegiatan para perantau atau pekerja migran yang kembali ke tanah kelahiran atau kampung halaman mereka.

Di Indonesia, kultur mudik telah menjelma menjadi tradisi tahunan yang selalu mencapai puncaknya menjelang hari raya keagamaan, khususnya Idulfitri.

Fenomena ini begitu melekat dalam sanubari umat Islam, hingga muncul ungkapan populer di tengah masyarakat: “Kalau tidak mudik, rasanya ada sesuatu yang hilang.”

Namun, jika kita menyelami lebih dalam, mudik bukan sekadar fenomena migrasi musiman atau sekadar ajang pamer keberhasilan di perantauan.

Esensi utama dari kultur mudik adalah anjangsana—sebuah upaya untuk kembali ke akar, menghidupkan kembali nilai-nilai luhur, dan yang paling krusial adalah mempererat ikatan kekeluargaan melalui tali silaturahim.

Momen berkumpul bersama orang tua, sanak saudara, mulai dari saudara kandung hingga saudara sepupu dalam satu jalur nasab, adalah inti dari perjalanan panjang nan melelahkan yang ditempuh para pemudik.

Landasan Nubuwah dalam Praktik Mudik

Menariknya, praktik mengumpulkan kerabat dekat dan jauh ini memiliki sandaran yang sangat kuat dalam tarikh Islam.

Hal ini mengingatkan kita pada sebuah hadis Rasulullah SAW yang sangat relevan dengan semangat mudik. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ لَمَّا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ { وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ } دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُرَيْشًا فَاجْتَمَعُوا فَعَمَّ وَخَصَّ فَقَالَ يَا بَنِي كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي مُرَّةَ بنِ كَعْبٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي هَاشِمٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ النَّارِ يَا فَاطِمَةُ أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنْ النَّارِ فَإِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبَلَالِهَا

Dari Abu Hurairah dia berkata, “Ketika turun ayat: ‘(Berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat)’ (QS. Asy-Syu’ara: 214), maka Rasulullah SAW menyeru kaum Quraisy hingga mereka semua berkumpul. Rasulullah SAW kemudian berbicara secara umum dan secara khusus. Beliau bersabda: ‘Wahai Bani Ka’ab bin Luaiy, selamatkanlah diri kamu dari Neraka. Wahai Bani Murrah bin Ka’ab, selamatkanlah diri kamu dari Neraka. Wahai Bani Abdul Syams, selamatkanlah diri kamu dari Neraka. Wahai Bani Abdul Manaf, selamatkanlah diri kamu dari Neraka. Wahai Bani Hasyim, selamatkanlah diri kamu dari Neraka. Wahai Bani Abdul Mutthalib, selamatkanlah diri kamu dari Neraka. Wahai Fatimah, selamatkanlah diri kamu dari Neraka. Sesungguhnya aku tidak memiliki kekuatan sedikit pun untuk menolak siksaan Allah kepadamu, selain kalian adalah kerabatku, maka aku akan menyambung tali kerabat tersebut.’”

Hadis di atas memberikan gambaran visual yang sangat jelas mengenai bagaimana Rasulullah SAW berupaya mengumpulkan seluruh anggota keluarganya.

Mulai dari kabilah yang secara silsilah cukup jauh seperti Bani Abdi Manaf, hingga putri tercinta beliau, Fatimah binti Rasulullah.

Tindakan mengumpulkan keluarga besar ini menunjukkan bahwa dalam Islam, memperhatikan urusan kerabat adalah prioritas utama sebelum melangkah ke urusan masyarakat yang lebih luas.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Dua Pesan Besar di Balik Silaturahim

Ibnu Hajar Al-Asqalani, menjelaskan bahwa peristiwa pengumpulan keluarga tersebut mengandung dua pesan fundamental yang sangat relevan dengan konteks mudik kita saat ini:

Pertama, keluarga memiliki peran besar dalam proses nasihat-menasihati. Mudik adalah momentum emas di mana keluarga besar berkumpul di satu ruang yang sama.

Di sinilah proses saling mengingatkan dalam kebaikan (tawashau bil haqq) terjadi.

Orang tua menasihati anaknya, antar saudara saling berbagi pengalaman hidup, dan keluarga besar saling menguatkan dalam menghadapi tantangan zaman.

Inilah fungsi protektif keluarga agar setiap anggotanya terhindar dari perilaku yang menjerumuskan ke “api neraka”, baik secara harfiah maupun kiasan dalam bentuk kerusakan moral.

Kedua, silaturahim adalah hal krusial guna menjaga hubungan kekeluargaan dalam Islam.

Hubungan darah atau nasab tidak boleh dibiarkan kering atau terputus hanya karena jarak geografi.

Rasulullah SAW menekankan kalimat, “Aku akan menyambung tali kerabat tersebut,” yang dalam bahasa hadis aslinya bermakna membasahi hubungan yang kering dengan air kebaikan.

Mudik adalah cara kita “membasahi” hubungan yang mungkin sempat mengeras atau renggang selama setahun akibat kesibukan di perantauan.

Mudik sebagai Manifestasi Sunnah

Jika kita menarik benang merah antara tradisi dan dalil, maka kita dapat menyimpulkan bahwa budaya mudik bukan sekadar kebiasaan turun-temurun atau sekadar rindu kampung halaman.

Lebih dari itu, mudik adalah sebuah upaya sadar untuk menghidupkan sunnah. Sunnah untuk menyambung silaturahim, sunnah untuk memberikan peringatan kepada kerabat terdekat, dan sunnah untuk menjaga keutuhan umat yang dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡