Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Ngopaq MPQ UMS Bahas Adab Kritik, Ketaatan, dan Demonstrasi dalam Islam

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Ngopaq MPQ UMS Bahas Adab Kritik, Ketaatan, dan Demonstrasi dalam Islam
NGOPAQ MPQ UMS Bahas Adab Kritik, Ketaatan, dan Demonstrasi dalam Islam. (Anqiya/PWMU.CO)
pwmu.co -

Apakah ketaatan selalu berarti menerima tanpa kritik? Ataukah menyampaikan kritik justru menjadi bentuk kepedulian terhadap sesama dan bangsa? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu bahasan dalam kegiatan Ngobrol Seputar Qur’an (Ngopaq) #2 yang diselenggarakan Mahasiswa Pencinta Al-Qur’an (MPQ) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (17/10/2026).

Mengusung tema “Ketaatan Tanpa Kritik: Kesalehan atau Pembungkaman? (Hakikat Kritik dan Demonstrasi dalam Perspektif Islam)”, diskusi berlangsung di Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI), Kampus 2 UMS. Kegiatan ini diikuti sekitar 27 orang, termasuk pemantik dan moderator.

Forum tersebut menjadi ruang dialog bagi mahasiswa untuk membahas hubungan antara ketaatan, kritik, dan penyampaian aspirasi dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan berpikir dan bertindak.

NGOPAQ #2 menghadirkan dua pemantik, yakni Azhar Ardiansyah, Ketua Umum PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sukoharjo 2026, dan Tholhah Hananah, Ketua Departemen Musabaqoh Pembinaan Huffazh MPQ UMS 2026. Diskusi dipandu Fauziyah Salma Anfihar, Sekretaris Departemen Syiar MPQ UMS 2026.

Ketaatan Bukan Berarti Menutup Ruang Kritik

Dalam pemaparannya, Tholhah Hananah menjelaskan konsep ketaatan kepada pemegang kekuasaan atau ulil amri sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 59. Menurutnya, ketaatan kepada pemimpin tidak memiliki kedudukan yang sama dengan ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Ia mengajak peserta memahami bahwa kritik tidak selalu identik dengan pembangkangan. Kritik dapat menjadi bagian dari upaya mengingatkan dan memperbaiki keadaan selama disampaikan dengan cara yang tepat.

“Di dalam Al-Qur’an kan disebutkan memang ayatnya berbunyi ‘Athi’ullaha wa athi’ur-rasula wa ulil amri minkum’. Tapi di situ terdapat perbedaan sebenarnya terkait bagaimana cara kita memandang untuk mematuhi ataupun menaati daripada hal tersebut,” kata Tholhah.

Ia menambahkan, “Ada satu paradigma yang mengatakan bahwasanya kritik itu berbeda dengan ketidaktaatan.”

Tholhah juga mengutip QS An-Nahl ayat 125 sebagai landasan mengenai pentingnya kebijaksanaan dalam menyampaikan nasihat maupun kritik.

“Ud’u ila sabili rabbika bil-hikmati.” Menurutnya, hikmah dapat dipahami sebagai kebijaksanaan dalam memilih cara dan metode penyampaian yang tepat agar pesan yang disampaikan memberikan dampak positif.

“Yang pertama tentunya dengan hikmah. Hikmah di sini kalau kita boleh memahami adalah dengan kebijaksanaan, yang mana salah satu artinya adalah dengan memilih cara ataupun metode yang sekiranya berdampak,” jelasnya.

Sementara itu, Azhar Ardiansyah menekankan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat perlu diarahkan pada persoalan yang dikritik, terutama kebijakan, bukan menyerang pribadi seseorang.

“Oh, kita bebas berekspresi. Oh, kita bebas menyuarakan kritik terhadap kebijakan, ya, bukan personalitas, bukan personal,” ujar Azhar.

Ia memandang kritik sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Karena mengkritik itu bentuk satu bentuk cinta, ya, cinta tanah air,” tambahnya.

Azhar juga mengingatkan bahwa kritik harus didukung argumentasi dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

“Kritik itu yang saya pahami adalah ketika kita benar-benar membawa satu isu dengan data. Membawa satu isu dengan data, membawa satu keresahan dengan data,” tegasnya.

Mahasiswa Diajak Kritis dan Tidak Sekadar Ikut-ikutan

Diskusi berlangsung dinamis ketika Zulfikar, mahasiswa semester tujuh Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) UMS, menyampaikan pandangannya mengenai fenomena demonstrasi mahasiswa.

Ia menyoroti pentingnya memahami substansi persoalan sebelum mengikuti aksi penyampaian pendapat. Menurutnya, partisipasi dalam demonstrasi perlu disertai pengetahuan yang memadai agar tidak sekadar mengikuti arus.

“Mayoritas mereka ikut demo itu hanya sekadar FOMO, atau bahasa yang ke-Arab-araban itu taklid buta,” ujar Zulfikar.

Ia juga mendorong pentingnya edukasi dan pemahaman historis terhadap pandangan ulama dalam menyikapi persoalan tersebut.

Menanggapi pandangan itu, para pemantik menekankan bahwa penyampaian aspirasi perlu didasari ilmu, adab, dan orientasi pada perbaikan. Kritik bukan sekadar meluapkan ketidakpuasan, melainkan juga upaya menyampaikan persoalan secara bertanggung jawab.

Tholhah mengingatkan bahwa sikap diam terhadap ketidakadilan tidak serta-merta menunjukkan ketaatan. Sebaliknya, keberanian menyampaikan pendapat juga perlu diiringi etika.

“Diam di hadapan kezaliman bukan berarti taat, teman-teman. Kemudian, berteriak tanpa adab juga bukan berarti sebagai tanda keberanian,” ungkapnya.

Ia menegaskan, “Tentunya ketika kita mengkritik, ketika kita menyampaikan aspirasi, tentunya harus dengan ilmu, adab, dan kalau bisa sebisa mungkin kita juga berkontribusi untuk menawarkan solusi.”

Aspirasi Bisa Disampaikan melalui Tulisan dan Karya

Selain demonstrasi, Azhar mengajak mahasiswa memanfaatkan berbagai saluran lain untuk menyampaikan gagasan dan kritik. Menurutnya, tulisan ilmiah, artikel, dan publikasi media dapat menjadi sarana untuk mengangkat persoalan publik sekaligus menawarkan solusi.

“Mungkin dari saya closing statement, ya. Teman-teman, mengeluarkan aspirasi tuh enggak harus demo. Teman-teman bisa tulis esai, tulis artikel, bisa mengeset-eset tentang isu-isu daerah, tentang sampah atau banjir dan sebagainya,” tandas Azhar.

Pesan tersebut memperluas pembahasan mengenai partisipasi mahasiswa dalam kehidupan masyarakat. Penyampaian aspirasi dapat dilakukan melalui beragam cara, baik aksi langsung maupun karya berbasis pengetahuan, sesuai dengan persoalan dan konteks yang dihadapi. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 19/10/2026 21:09
  • Nadjib Hamid - 19/10/2026 20:19
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu