Dalam banyak ayat Al-Quran dan hadis, kita telah banyak mendengar mengenai ciri manusia terbaik, mulai dari orang yang beriman dan selalu mengerjakan amal saleh, orang yang paling bermanfaat bagi manusia, hingga orang yang senantiasa mempelajari Al-Quran dan mengamalkannya. Riwayat-riwayat tersebut bisa kita pedomani untuk menyelamatkan diri kita dari siksa Allah di dunia maupun di akhirat.
Namun selain itu, kita juga harus tahu siapa saja yang kelak hidupnya sia-sia dan tidak mendapat rahmat dari Allah. Hal ini perlu kita pahami agar kita dapat terhindar darinya. Sebagaimana dalam sebuah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
سَيَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ هِمَّتُهُمْ بُطُوْنُهُمْ وَشَرَفُهُمْ مَتَاعُهُمْ وَقِبْلَتُهُمْ نِسَاؤُهُمْ وَدِيْنُهُمْ دَارَهِمُهُمْ وَدَنَانِيْرُهُمْ اُوْلئِكَ شَرُّ الْخَلْقِ لاَخَلاَقَ لَهُمْ عِنْدَ الله في الأخرة
“Akan tiba suatu zaman atas manusia di mana perhatian (obsesi) mereka hanya tertuju pada urusan perut dan kehormatan mereka hanya pada kekayaan (benda) semata, kiblat mereka hanya urusan wanita (seks) dan agama mereka adalah uang (harta, emas dan perak). Mereka adalah makhluk Allah SWT yang terburuk dan tidak akan memperoleh bagian di sisi Allah SWT di akhirat kelak.” (HR. Ad-Dailami).
Mementingkan Urusan Perut
Salah satu keinginan manusia dalam hidup adalah memiliki perut yang kenyang dengan berbagai jenis makanan. Namun, yang membahayakan adalah jika segala sesuatu dilakukan untuk kepentingan perut. Fenomena itulah yang kini banyak terjadi pada masyarakat kita.
Mementingkan perut berarti seseorang ingin memperoleh kekayaan dengan menghalalkan segala cara.
Akibat lain yang sangat berbahaya dari mementingkan perut adalah seseorang menjadi takut lapar, khawatir tidak mendapatkan rezeki sehingga membuatnya takut menanggung risiko dalam menjalani kehidupan secara benar. Padahal Allah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Allah berfirman,
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS. Huud: 6).
Rakus Pada Harta
Dalam hidup ini, manusia menghiasi dirinya dengan berbagai perhiasan hidup seperti rumah, kendaraan, pakaian, emas permata, dan lain sebagainya. Semua itu sering kali dijadikan ukuran bagi kemuliaan seseorang, padahal benda-benda itu hanya aksesoris belaka.
Rasulullah berpesan kepada kita bahwa manusia tamak kelak akan memperoleh penyesalan yang abadi.
إنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإمَارَةِ وَسَتَكونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَة
“Sesungguhnya engkau akan begitu tamak pada kekuasaan. Dan kelak di hari kiamat, engkau akan benar-benar menyesal.” (HR. Bukhari no. 7148).
Generasi terburuk menjadikan perhiasan hidup sebagai tolok ukur kemuliaan seseorang, sementara kemuliaan seseorang di mata Allah akan diukur dari seberapa besar ketakwaannya.
Menuruti Syahwat
Di akhir zaman, wanita kelak menjadi salah satu ujian terberat bagi kaum laki-laki. Maka laki-laki diperintahkan untuk menundukkan pandangan serta menurunkan obsesi terhadap wanita.
Karena tidak sedikit masalah kecil menjadi besar hanya karena urusan wanita. Rasulullah bersabda,
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بْنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاء
“Sesungguhnya dunia ini manis dan indah. Dan sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menguasakan kepada kalian untuk mengelola apa yang ada di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian berbuat. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah yang pertama kali terjadi pada Bani Israil adalah karena wanita.” (HR. Muslim, no. 2742).
Gila Harta
Dalam Islam, harta merupakan sesuatu yang boleh dicari dan dimiliki. Namun, semua itu harus dalam kendali manusia, bukan justru manusia yang dikendalikan harta.
Meski demikian, manusia memang diciptakan dengan membawa fitrah untuk melakukan sesuatu yang membuat hatinya merasa puas, meskipun yang dilakukannya dapat menimbulkan kerugian bagi orang lain atau bahkan bagi dirinya sendiri di kemudian hari. Allah berfirman,
وَتُحِبُّونَ ٱلْمَالَ حُبًّا جَمًّا
“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20).
Banyak orang menjadikan harta seolah sebagai tujuan utama hidup sehingga melalaikan mereka. Banyaknya harta membuat seseorang semakin rakus dan merasa kurang.
Padahal tanpa disadari, kecintaan berlebihan terhadap harta merupakan sesuatu yang sia-sia dan tidak membawa keuntungan apa pun bagi kehidupan selanjutnya. Karena sejatinya, harta yang kita miliki di dunia hanyalah materi yang tidak kekal dan tidak abadi.





0 Tanggapan
Empty Comments