Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rupiah Ndlosor, Orang Desa Memang Tak Pakai Dolar

Iklan Landscape Smamda
Rupiah Ndlosor, Orang Desa Memang Tak Pakai Dolar
Rupiah Ndlosor, Orang Desa Memang Tak Pakai Dolar
Oleh : dr. Tjatur Prijambodo, M. Kes Mahasiswa Doktoral Pasca Sarjana Unair

Di negeri +62, kurs dolar kini bergerak seperti harga cabai: naik cepat, turunnya menunggu wangsit. Ketika rupiah menyentuh kisaran Rp17.600 per dolar Amerika Serikat, Presiden Prabowo Subianto dengan santai mengatakan, “Orang desa nggak pakai dolar.”

Kalimat itu terdengar seperti perpaduan pidato ekonomi dan materi stand-up comedy. Di tengah tekanan ekonomi, publik dibuat tersenyum, sementara substansi persoalan justru perlahan menghilang dari pembicaraan.

Padahal ekonomi bukan sinetron yang selesai hanya dengan optimisme verbal. Dolar memang tidak digunakan untuk membeli gorengan di desa, tetapi dampaknya menjalar hingga ke kebutuhan paling dasar masyarakat.

Harga pupuk, pestisida, pakan ternak, hingga solar untuk traktor dan kapal nelayan ikut dipengaruhi pelemahan rupiah. Dalam istilah ekonomi, kondisi ini dikenal sebagai imported inflation dan pass-through effect, ketika kenaikan nilai dolar ikut mendorong naiknya biaya produksi dan harga barang di dalam negeri.

Bahkan tahu dan tempe pun dapat “naik kelas internasional” tanpa perlu paspor.

Di titik inilah pemikiran filsuf Prancis, Jean Baudrillard, terasa relevan. Baudrillard menjelaskan bahwa masyarakat modern hidup dalam simulacra, yakni situasi ketika realitas digantikan oleh citra, simbol, dan narasi yang terasa nyaman untuk dipercaya.

Dalam dunia seperti itu, ucapan “orang desa tidak pakai dolar” menjadi lebih kuat pengaruhnya dibanding kenyataan bahwa kehidupan desa justru sangat dipengaruhi fluktuasi dolar.

Petani mungkin tidak memegang dolar, tetapi ia menggunakan pupuk dan alat pertanian yang harga bahan bakunya mengikuti pasar global.

Nelayan mungkin tidak memiliki rekening valas, tetapi harga solar untuk perahu mereka tetap bergantung pada dinamika geopolitik dan pasar energi dunia.

Bahkan penjual ayam geprek di pinggir sawah diam-diam sudah menjadi bagian dari globalisasi moneter.

Ironisnya, masyarakat Indonesia memiliki kemampuan luar biasa dalam beradaptasi dengan tekanan ekonomi.

SMPM 5 Pucang SBY

Saat rupiah melemah, media sosial dipenuhi meme. Ketika harga kebutuhan naik, rakyat mencoba tetap tenang sambil berkata, “Yang penting masih bisa ngopi.”

Dan ketika pejabat berbicara santai soal dolar, masyarakat ikut tertawa, meski dalam waktu yang sama mereka sedang menghitung cicilan dan pengeluaran rumah tangga.

Barangkali inilah kemampuan khas bangsa ini: mengubah krisis menjadi humor nasional.

Namun ekonomi tetap bekerja dengan logika yang dingin.

Data Bloomberg menunjukkan nilai rupiah telah bergerak jauh dari asumsi APBN 2026 yang berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS. Artinya, terdapat jarak yang semakin lebar antara optimisme pidato dan realitas pasar.

Sayangnya, pasar tidak bisa diyakinkan hanya dengan kalimat motivasi.

Pada akhirnya, benar bahwa dolar tidak digunakan langsung di desa. Namun dampaknya hadir diam-diam melalui harga minyak goreng, pupuk, ongkos transportasi, hingga harga makanan sehari-hari.

Nasi pecel mungkin masih tersedia, tetapi porsinya perlahan menjadi semakin “filosofis”: sedikit, namun penuh makna.

Karena itu, publik tentu berharap para pembuat kebijakan tidak sekadar menenangkan keadaan dengan guyonan atau narasi populis, melainkan benar-benar menghadirkan langkah konkret untuk memperbaiki kondisi ekonomi yang semakin menekan masyarakat kecil.

Revisi Oleh:
  • Satria - 18/05/2026 09:22
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡