Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kembalinya Teknologi Jadul di Tengah Era Smartphone

Iklan Landscape Smamda
Kembalinya Teknologi Jadul di Tengah Era Smartphone
Oleh : Marjoko Anggota Majelis Pustaka dan Informasi Digital PDM Kota Pasuruan

Di tengah era ketika teknologi semakin pintar, cepat, dan multifungsi, muncul sebuah fenomena yang tampak kontradiktif: orang-orang mulai kembali menggunakan teknologi jadul (jaman dulu) berkemampuan tunggal.

Walkman kembali dipakai untuk mendengarkan musik. Kamera digital jadul kembali diburu. PSP, iPod, hingga feature phone mendadak memiliki pasar baru. Sekilas, tren ini terlihat seperti nostalgia generasi lama yang belum bisa beranjak dari masa lalu.

Namun jika diperhatikan lebih dalam, fenomena ini sebenarnya merupakan respons sosial terhadap kelelahan digital yang semakin nyata.

Selama bertahun-tahun, industri teknologi meyakinkan kita bahwa semakin banyak fungsi dalam satu perangkat, maka hidup akan semakin mudah. Smartphone menjadi simbol utama dari gagasan tersebut.

Dalam satu benda kecil di dalam saku, manusia modern bisa bekerja, berkomunikasi, mencari hiburan, berbelanja, belajar, bahkan mengatur kehidupan pribadi. Tidak ada teknologi lain dalam sejarah yang mampu mengintegrasikan begitu banyak aktivitas sekaligus.

Masalahnya, kemampuan untuk melakukan segalanya ternyata datang bersama konsekuensi yang tidak kecil: perhatian manusia menjadi terfragmentasi.

Hari ini, sangat sulit melakukan satu aktivitas tanpa gangguan dari aktivitas lain. Ketika seseorang membuka ponsel untuk mendengarkan musik, notifikasi pekerjaan ikut muncul. Saat ingin membalas pesan penting, media sosial memancing perhatian.

Ketika mencoba membaca artikel, video pendek dan iklan terus bermunculan. Smartphone tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi telah berubah menjadi pusat distraksi yang bekerja tanpa henti.

Akibatnya bukan hanya soal penurunan produktivitas. Dampak yang lebih serius adalah menurunnya kualitas pengalaman manusia itu sendiri.

Banyak orang merasa lelah meski tidak melakukan pekerjaan fisik yang berat. Mereka merasa pikiran penuh, sulit fokus, dan tidak benar-benar menikmati waktu istirahat.

Fenomena ini sering disebut sebagai digital fatigue atau kelelahan digital—sebuah kondisi ketika otak terus-menerus menerima stimulus tanpa jeda yang cukup untuk memprosesnya secara sehat.

Di titik inilah tren penggunaan perangkat satu fungsi (single-function device) mulai masuk akal.

Ketika seseorang memilih mendengarkan musik lewat Walkman atau pemutar MP3, ia sebenarnya sedang menciptakan ruang fokus yang nyaris hilang dalam kehidupan modern. Tidak ada notifikasi atau godaan membuka aplikasi lain. Juga tidak ada algoritma yang terus meminta perhatian. Yang ada hanya musik dan pendengarnya.

Hal serupa terjadi pada kamera digital. Mengambil foto dengan kamera khusus terasa berbeda dibanding memotret menggunakan smartphone. Karena prosesnya lebih terbatas, orang cenderung lebih sadar terhadap momen yang ingin diabadikan.

Mereka memikirkan komposisi, cahaya, dan timing, bukan sekadar mengambil ratusan gambar untuk dipilih nanti. Aktivitas memotret kembali menjadi pengalaman, bukan refleks otomatis.

SMPM 5 Pucang SBY

Fenomena ini berkaitan erat dengan berkembangnya filosofi digital minimalism—pendekatan hidup yang mendorong penggunaan teknologi secara sadar dan selektif. Filosofi ini tidak anti-teknologi.

Justru sebaliknya, ia mengajak orang mempertanyakan apakah semua fitur yang tersedia benar-benar meningkatkan kualitas hidup, atau hanya menambah kebisingan mental.

Selama ini, masyarakat cenderung menerima perkembangan teknologi tanpa banyak mempertanyakan dampaknya terhadap perhatian dan kesehatan psikologis. Setiap aplikasi berlomba mempertahankan waktu layar pengguna selama mungkin.

Setiap platform dirancang agar manusia terus scrolling, terus membuka aplikasi, dan terus kembali lagi. Dalam ekonomi digital modern, perhatian manusia telah berubah menjadi komoditas utama.

Karena itu, memilih perangkat dengan fungsi terbatas sebenarnya adalah bentuk kontrol diri.

Ini bukan tentang kembali ke masa lalu atau menolak kemajuan. Orang-orang yang membeli Walkman hari ini bukan tidak mampu membeli smartphone terbaru. Banyak dari mereka justru berasal dari generasi yang sangat akrab dengan teknologi modern.

Mereka sadar bahwa teknologi yang terlalu terintegrasi kadang membuat batas antara bekerja, bersantai, dan beristirahat menjadi kabur. Paradoksnya, semakin canggih teknologi berkembang, semakin mahal nilai sebuah fokus.

Dulu manusia membutuhkan teknologi untuk melakukan lebih banyak hal. Sekarang, sebagian orang justru membutuhkan batas agar tidak melakukan terlalu banyak hal sekaligus. Itulah sebabnya perangkat sederhana terasa menarik kembali. Mereka menawarkan sesuatu yang mulai langka: pengalaman yang utuh.

Fenomena ini juga menunjukkan perubahan cara pandang terhadap efisiensi. Selama bertahun-tahun, efisiensi diukur dari seberapa banyak fungsi yang bisa dilakukan dalam satu alat. Namun, kini muncul kesadaran baru bahwa efisiensi mental tidak selalu berjalan searah dengan efisiensi teknis. Perangkat yang mampu melakukan segalanya belum tentu membuat pikiran manusia lebih tenang.

Tentu saja, pendekatan seperti ini bukan solusi universal. Banyak orang tetap nyaman menggunakan smartphone untuk semua aktivitas, dan itu tidak salah. Teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Yang menjadi persoalan adalah ketika manusia kehilangan kendali terhadap cara alat tersebut mengatur perhatian dan perilakunya.

Karena itu, tren single-function device sebaiknya tidak dilihat sebagai sekadar gaya retro atau tren internet sementara. Ia adalah sinyal sosial bahwa sebagian masyarakat mulai menyadari ada yang tidak sehat dalam hubungan manusia dengan teknologi modern.

Mungkin yang sebenarnya dirindukan bukan Walkman-nya. Bukan juga kamera digitalnya. Yang dirindukan adalah rasa tenang ketika melakukan satu hal tanpa gangguan terus-menerus.

Di dunia yang semakin bising, kemampuan untuk hadir sepenuhnya dalam satu momen menjadi sesuatu yang mewah. Dan ironisnya, untuk mendapatkan kembali kemewahan itu, manusia modern justru mulai kembali pada perangkat-perangkat sederhana yang dulu mereka tinggalkan.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 17/05/2026 21:39
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡