Pengajian Ahad Pagi PDM Trenggalek ini tergolong unik karena dilaksanakan di konservasi Penyu Taman Kili Kili Panggul Trenggalek, Ahad (2/11/2025).
Sehari sebelumnya, para jama’ah Muhammadiyah se Trenggalek, terutama panitia pengajian, berdebar debar. Sabtu, 1 November 2025 sore, hingga malam harinya, kabupaten Trenggalek diguyur hujan terus menerus hingga terjadi longsor di desa Depok kecamatan Bendungan.
Pemuda Muhammadiyah yang akan mengamankan pengajian harus membersamai MDMC untuk membantu penanganan bencana yang menelan korban 2 orang meninggal tersebut. Akhirnya penanganan keamanan dan penunjuk jalan di kerjakan oleh Banser kecamatan Panggul.
Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci al Quran, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia dan mars Sang Suryal 10.00. Acara diteruskan dengan sambutan sambutan, diantaranya sambutan Andi Mashari, ketua PCM Panggul, Ari Gunawan, ketua konservasi Penyu Taman Kili Kili. Mereka berdua banyak membahas sejarah konservasi penyu di taman Kili Kili.
Setelah mendengarkan paparan Andi Mashari dan Ari Gunawan terkait perjalanan konservasi penyu di Taman Kili Kili, Agus Tamami, Wakil Ketua PDM Trenggalek mengungkapkan bahwa dirinya baru memahami ternyata jenis kelamin penyu ditentukan oleh suhu inkubasi telur saat menetas, bukan oleh kromosom seks seperti pada manusia dan banyak hewan lainnya.
“Fenomena ini dikenal sebagai TSD (Temperature-Dependent Sex Determination). Pada penyu, suhu inkubasi telur yang lebih tinggi cenderung menghasilkan anak penyu betina, sedangkan suhu yang lebih rendah cenderung menghasilkan anak penyu jantan. Suhu pivotal yang menentukan jenis kelamin penyu berbeda-beda tergantung pada spesies, tetapi umumnya berkisar antara 28-32°C,” jelasnya.
Konservasi Penyu
Agus Tamami yang merupakan guru bidang studi IPA MAN 1 Trenggalek ini meneruskan. Contohnya, pada penyu hijau (Chelonia mydas), suhu inkubasi di bawah 28°C cenderung menghasilkan jantan. Sedangkan suhu di atas 30°C cenderung menghasilkan betina.
“TSD pada penyu memiliki implikasi penting pada konservasi penyu, karena perubahan suhu lingkungan dapat mempengaruhi rasio jenis kelamin populasi penyu dan berpotensi mengancam kelangsungan hidup spesies tersebut. Oleh karena itu, pemahaman tentang TSD sangat penting dalam upaya konservasi penyu,” tuturnya.
Sambutan diteruskan oleh ketua PDM Trenggalek Wicaksono, beliau menceritakan fenomena pengajian Muhammadiyah di Trenggalek.
“Pengajian di Tulungagung selalu ditempatkan di masjid Al Fatah yang sejuk seperti di hotel di Mekah. Sedangkan di Trenggalek selalu ditempatkan di cabang cabang, bergantian. Bulan ini kebagian tempat di Panggul, tempat yang paling jauh di Trenggalek. Perbatasan Pacitan,” paparnya.
Setelah sambutan ketua PDM Trenggalek, perwakilan Forkopimcam Panggul, memberikan sambutan.
“Ustadz Fathurrahman Kamal, di Panggul ini kondusif, sekecil apapun permasalahan, kami cari solusi dengan silaturrahmi, terutama silaturrahmi dengan berbagai lembaga dan instansi sampai organisasi seperti kelompok silat hingga MWC NU dan PCM Panggul,” ujarnya.
Pengajian diakhiri pengajian inti Fathurrahman Kamal, ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah.
Fathurrahman Kamal, dalam salah satu ceramahnya, membenarkan pentingnya konservasi penyu untuk menjaga keseimbangan hidup dalam ekosistem alam yang dijalankan Ari Gunawan dan kawan kawan.
“Pada tahun 80 90an, tidak pernah terbayangkan dalam benak saya, Saudi itu akan mengalami banjir, dan menelan puluhan kurban meninggal dunia. Itu terjadi karena kita tidak menjaga keseimbangan alam,” tutupnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments