Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kisah Mahasiswa PUTM Belajar Makna Pelayanan di Masjid Ar-Royyan

Iklan Landscape Smamda
Kisah Mahasiswa PUTM Belajar Makna Pelayanan di Masjid Ar-Royyan
Foto Pemuda Masjid Arroyyan (Arroyyan Youth Squad) dengan Mahasiswa PUTM dan Santri Al-Fattah setelah selesai salah satu kegiatan sosial di Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran. Foto: Hilmi Hidayatulloh P.A. Foto: Ist/PWMU.CO
pwmu.co -

Ramadan 1447 H menghadirkan banyak pelajaran tentang makna pengabdian, salah satunya tercermin dari kisah tiga mahasiswa yang belajar memaknai masjid sebagai tempat melayani, bukan sekadar tempat beraktivitas.

Di tengah ramainya kegiatan ibadah, Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga menanamkan nilai ketulusan dalam melayani sesama jamaah.

Masjid sebagai Ruang Bertumbuh

Masjid Muhammadiyah Ar-Royyan Buduran kembali menerima mahasiswa dari Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) Yogyakarta untuk menjalankan program pengabdian selama satu bulan penuh.

Tiga mahasiswa tersebut yakni M. Zulvan Rais, Muhammad Abdillah, dan Muhammad Rifa’i Sidin, yang datang bukan sekadar menjalankan tugas akademik, tetapi turut hidup bersama masjid selama 24 jam.

Berbeda dari tahun sebelumnya yang diisi pelajar SMAMDA dan Pondok Pesantren Al-Fattah, kehadiran mahasiswa PUTM kali ini membawa nuansa pengabdian yang lebih mendalam.

Pesan Takmir: Semua adalah Pelayan

Dalam momen penerimaan, Ketua Takmir Ridwan Manan menyampaikan pesan penting bahwa di Masjid Ar-Royyan tidak ada perbedaan status.

Semua yang datang memiliki peran yang sama, yaitu melayani jamaah dengan penuh keikhlasan.

Prinsip tersebut menjadi landasan utama bahwa yang diutamakan bukan siapa yang paling menonjol, melainkan siapa yang paling siap untuk mengabdi.

Belajar dari Hal-Hal Sederhana

Selama menjalani pengabdian, aktivitas mereka tidak hanya menjadi imam atau menyampaikan kultum, tetapi juga terlibat dalam berbagai pekerjaan sederhana yang penuh makna.

Mulai dari menyiapkan sahur dan berbuka, merapikan sandal jamaah, membersihkan masjid, hingga ikut serta dalam kegiatan sosial.

Pekerjaan kecil yang sering luput dari perhatian justru menjadi inti dari nilai pelayanan yang sesungguhnya.

Refleksi Mendalam dari Mahasiswa

Salah satu mahasiswa, Zulvan, mengungkapkan refleksi mendalam selama menjalani pengabdian di Masjid Ar-Royyan.

“Satu bulan yang lalu, kami datang sebagai orang asing yang melangkah ragu menuju gerbang Masjid Ar-Royyan. Namun, keraguan itu seketika luruh oleh hangatnya senyum warga dan pelukan ukhuwah yang menyambut kami layaknya saudara yang baru pulang ke rumah.

SMPM 5 Pucang SBY

Hari-hari kami di sini bukan sekadar menjalankan tugas kampus, melainkan pengabdian hati. Menjadi pelayan di rumah-Mu, melayani para tamu Allah dengan segenap tenaga, adalah kehormatan yang tak terlukiskan.

Di setiap saf yang kami rapikan, di setiap ayat yang kami lantunkan, dan di setiap program yang kami jalankan, ada makna yang lebih dalam dari sekadar rutinitas.

Kami belajar bahwa setiap tetes keringat di bawah naungan kubah ini adalah tabungan pahala. Kami belajar mengubah setiap kata ‘lelah’ menjadi ‘lillah’.

Kepada para marbot, sosok-sosok rendah hati yang menjaga rumah Allah ini tetap bercahaya—terima kasih. Kalian bukan lagi sekadar rekan kerja, tapi sudah menjadi keluarga yang mengajarkan kami arti ketulusan tanpa pamrih.

Langkah kaki kami mungkin akan beranjak dari Masjid Ar-Royyan, namun separuh hati kami akan selalu tertinggal di sini. Terima kasih atas satu bulan yang mengubah hidup kami.”

Makna Memakmurkan Masjid

Dari kisah tersebut, terdapat pelajaran penting bahwa memakmurkan masjid bukan hanya soal banyaknya kegiatan, tetapi tentang hadirnya hati yang tulus untuk melayani.

Masjid bukan tempat untuk merasa memiliki, melainkan tempat untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT melalui pelayanan kepada sesama.

Bahkan dalam hal-hal kecil seperti merapikan sandal, menyapu lantai, atau menyambut jamaah dengan senyum, tersimpan nilai ibadah yang besar.

Pelayanan sebagai Jalan Pengabdian

Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik aktivitas sederhana, terdapat makna pengabdian yang mendalam bagi setiap muslim.

Melalui pelayanan yang tulus, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan.

Di situlah letak esensi menjadi pelayan di rumah Allah, yakni menghadirkan keikhlasan dalam setiap langkah dan perbuatan.

Revisi Oleh:
  • Satria - 19/03/2026 17:16
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu