Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Peran Guru dalam Mengembangkan Amal Usaha Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Peran Guru dalam Mengembangkan Amal Usaha Muhammadiyah
Kajian dan iftar Ramadan 1447 H di Aula H. Amanullah Adnan SD Almadany. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Keluarga besar SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Kebomas Gresik menggelar kajian dan buka puasa bersama Ramadan 1447 Hijriah di Aula H. Amanullah Adnan, Jumat (6/3/2026). Kegiatan ini diikuti oleh para guru dan tenaga kependidikan sebagai bagian dari penguatan spiritual sekaligus refleksi peran pendidik di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah.

Dalam kegiatan tersebut, panitia menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik, Prof. Dr. Syamsul Sodiq, M.Pd., sebagai pemateri utama.

Dalam kajiannya, Prof. Syamsul menyampaikan bahwa peran guru dalam memajukan Amal Usaha Muhammadiyah tidak hanya sebatas mengajar di kelas, tetapi juga mencakup pembentukan karakter, dakwah, serta penguatan sistem pendidikan yang bersinergi.

Ia menjelaskan bahwa pendidikan harus mampu melahirkan siswa yang inklusif dan progresif. Artinya, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menjadi agen transformasi sosial di masyarakat.

Menurutnya, sekolah tidak seharusnya menjadi tempat sekadar menyampaikan sejarah pengetahuan. Sekolah juga bukan tempat yang membatasi kreativitas siswa ataupun menjadi sarana dominasi kekuasaan orang dewasa terhadap anak didik.

Ia mengutip hasil penelitian Tony Buzan yang menunjukkan bahwa tingkat kreativitas manusia cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Kreativitas anak usia taman kanak-kanak berada pada kisaran 95 hingga 98 persen, kemudian menurun menjadi sekitar 50 hingga 70 persen pada tingkat sekolah dasar. Ketika memasuki jenjang SMP, SMA hingga perguruan tinggi, tingkat kreativitas tersebut menurun lagi menjadi sekitar 30 hingga 50 persen, bahkan pada orang dewasa bisa berada di bawah 20 persen.

Pembelajaran Bermakna

Prof. Syamsul juga mengutip pemikiran David Ausubel, tokoh teori pembelajaran bermakna (Meaningful Learning). Menurut Ausubel, faktor terpenting yang memengaruhi proses belajar adalah apa yang sudah diketahui oleh peserta didik. Oleh karena itu, guru perlu memahami pengetahuan awal siswa sebelum menentukan strategi pembelajaran yang tepat.

Dalam proses pembelajaran, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga membimbing siswa agar memahami dan mengingat pengetahuan secara bermakna. Guru perlu mampu memilih, mengorganisasikan, serta menggunakan materi pembelajaran secara sistematis dengan pendekatan yang berpusat pada siswa (student centered learning).

Selain itu, guru juga diharapkan mampu merancang berbagai alat bantu pembelajaran seperti pengatur grafis (graphic organizer) dan instrumen literasi yang dapat membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam. Proses pembelajaran juga perlu dilengkapi dengan teknik dan instrumen penilaian yang autentik agar perkembangan kemampuan siswa dapat terukur secara lebih komprehensif.

Lebih lanjut, Prof. Syamsul menegaskan bahwa guru di lingkungan Muhammadiyah juga memiliki peran sebagai pendidik sekaligus dai atau daiyah. Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan karakter dan nilai-nilai keislaman melalui keteladanan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Guru perlu mencontohkan cara berpikir yang logis dan berbasis fakta, menunjukkan sikap kesungguhan dalam menjalani kehidupan, serta bersikap terbuka terhadap kebenaran tanpa dilandasi sikap sombong. Selain itu, kebenaran harus didasarkan pada ilmu pengetahuan, bukan sekadar kebiasaan atau tradisi yang diwariskan.

Ia juga menekankan pentingnya membiasakan penggunaan akal untuk mengevaluasi keyakinan, tujuan hidup, serta perilaku sehari-hari. Guru juga harus berani mempertahankan kebenaran tanpa takut kehilangan dukungan sosial, serta bersedia berkorban demi kemajuan umat.

Pembelajaran ilmu dan amal, lanjutnya, perlu dilakukan secara bertahap dan konsisten atau istiqamah agar membentuk karakter Muslim yang baik. Menurutnya, keislaman tidak cukup hanya diyakini dalam hati, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.

“Keislaman bukan hanya Allah ada di dalam jiwamu, tetapi kehidupan Islam harus nyata melalui perilakumu,” ujarnya.

Kualitas Spiritual

Guru Besar Bahasa Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tersebut juga menambahkan bahwa guru di Muhammadiyah seharusnya memiliki kualitas spiritual, intelektual, fisik, dan moral yang seimbang. Hal itu tercermin dari ibadah yang baik, kecerdasan berpikir, kesehatan fisik, serta akhlak yang mulia.

Selain peran guru, Prof. Syamsul juga menekankan pentingnya sinergi dalam penyelenggaraan pendidikan. Menurutnya, penyelenggara sekolah harus mengubah pola kepemimpinan dari sikap penguasaan menjadi sikap pelayanan dan pengabdian.

Ia mengingatkan bahwa sekolah, termasuk sekolah bertaraf internasional atau sekolah kader Muhammadiyah, tidak seharusnya dipandang sebagai ladang penghasilan semata, tetapi sebagai sarana dakwah dan pengembangan pendidikan.

Lebih lanjut, penyelenggara pendidikan perlu merumuskan arah pengembangan sekolah berdasarkan visi pendirian yang jelas. Visi tersebut harus dipahami bersama oleh seluruh penyelenggara, diyakini kebenarannya, serta menjadi sumber motivasi untuk mewujudkannya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu