Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pare menyelenggarakan Kajian Rutin Ahad Pagi yang diadakan di halaman Klinik Rawat Inap Pelayanan Medik Dasar Siti Fatimah Muhammadiyah, Jalan Ahmad Yani No. 43 Pare, Kediri, Ahad (2/11/2025).
Kegiatan kali ini menghadirkan muballigh asal Kota Malang, Ustadz Rifki Jakfar Tholib.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Rifki mengapresiasi konsistensi Muhammadiyah dalam menyelenggarakan kajian rutin. Ia menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan kegiatan keagamaan meski jumlah jamaah fluktuatif.
“Allah mencintai amalan yang dilakukan secara kontinyu, istiqamah, dan telaten, walaupun sedikit. Itulah ciri khas amalan warga Muhammadiyah, dari ranting ke ranting. Mau hadir tujuh orang, naik dua belas, turun sepuluh, kembali tiga, tetap jalan. Yang penting ilmunya benar,” ujarnya.
Ia menambahkan, kajian semacam ini tidak perlu dipermasalahkan ramai atau sepinya jamaah. Yang terpenting adalah keikhlasan dan manfaatnya bagi umat.
“Semoga Allah Swt mencatatnya sebagai amal yang istiqamah dan bermanfaat bagi kita semua,” tuturnya.
Pertalite Oplosan Disinggung, Jamaah Tertawa
Di tengah ceramahnya, Ustadz Rifki sempat melontarkan candaan yang mengundang tawa jamaah.
“Yang baku dalam kajian Muhammadiyah tidak menyinggung Pertalite oplosan pemicu motor brebet,” katanya disambut tawa gemuruh hadirin.
Candaan tersebut menyinggung isu yang tengah ramai di masyarakat tentang dugaan Pertalite oplosan yang menyebabkan banyak motor brebet. Meski demikian, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, telah menegaskan bahwa BBM di SPBU tidak mengandung campuran etanol (detik.com, 31/10/2025).
Bahas Sifat Munafik
Setelah mencairkan suasana, Ustadz Rifki melanjutkan kajian dengan tema tentang kemunafikan, merujuk pada firman Allah dalam Qs al-Baqarah ayat 204:
وَمِنَ النَّا سِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهٗ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّٰهَ عَلٰى مَا فِيْ قَلْبِهٖ وَهُوَ اَلَدُّ الْخِصَامِ
“Dan di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Muhammad), dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.” (Qs al-Baqarah: 204)
Menurut tafsir Ibnu Katsir, ayat ini merupakan celaan terhadap orang-orang munafik sekaligus pujian bagi kaum beriman.
Ustadz Rifki juga mengutip penjelasan dari al-Bakkali, seorang ahli kitab terdahulu yang menggambarkan golongan manusia yang memanipulasi agama demi kepentingan duniawi “lisannya lebih manis dari madu, tapi hatinya lebih pahit dari kina.”
Tiga Tanda Orang Munafik
Ustadz Rifki kemudian mengingatkan jamaah tentang sabda Nabi Muhammad Saw:
Ayatul munaafiqi tsalaatsun:
idzaa hadatsa kadzaba, wa idzaa wa’ada akhlafa, wa idzaa khosoma fajara
“Tanda-tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara berdusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila bersengketa berbuat curang.”
Untuk memperjelas, ia mencontohkan sosok munafik pada masa Rasulullah, yakni Abdullah bin Ubay bin Salul. Tokoh ini semula disegani di Madinah, namun setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW dan banyak penduduk memeluk Islam, ia merasa kehilangan pengaruh.
“Karena eksistensinya terancam, ia pura-pura masuk Islam dan mulai menyusun strategi untuk menjegal dakwah Nabi,” terang Ustadz Rifki.
Kajian yang disampaikan dengan gaya komunikatif, ringan, dan diselingi humor tersebut mendapat sambutan hangat dari jamaah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments