Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Pesan Dakwah dan Konsolidasi di Hari Terakhir Muktamar Muhammadiyah 1926 Surabaya

Iklan Landscape Smamda
Pesan Dakwah dan Konsolidasi di Hari Terakhir Muktamar Muhammadiyah 1926 Surabaya
Surat Kabar De Locomotief terbutan 4 Maret 1926 yang memberitakan Kongres --Muktamar-- Muhammadiyah 1926 di Surabaya (Foto: Kholid/PWMU.CO)
Oleh : Muh Kholid Asyadulloh Pengajar Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura)

Rabu Pagi. Tanggal 3 Maret 1926. Ia menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian Kongres –sekarang Muktamar– ke-15 Muhammadiyah di Surabaya. Setelah berlangsung beberapa hari, Muktamar memasuki hari terakhir. Persidangan mempertemukan para utusan dari berbagai cabang Muhammadiyah di Hindia Belanda.

Muktamar di Surabaya 1926 berlangsung sejak 25 Februari 1926. Dalam sejarah Muhammadiyah, perhelatan ini memiliki arti penting. Sebab, untuk pertama kalinya acara puncak –saat itu belum 5 tahunan– digelar di luar Yogyakarta. Surabaya menjadi kota pertama yang dipercaya menjadi tuan rumah.

Pada pagi 3 Maret, sebuah sidang kembali digelar. Ketua Pengurus Besar –sekarang Pimpinan Pusat– Muhammadiyah, K.H. Ibrahim, memimpinnya. Hadir para utusan dari berbagai cabang, petugas kepolisian, serta wakil-wakil pers yang mengikuti rangkaian kegiatan Muktamar.

Kehadiran polisi dan pers memperlihatkan bahwa Muktamar Muhammadiyah bukan sekadar pertemuan internal organisasi. Aktivitas Muhammadiyah saat itu telah menarik perhatian masyarakat luas dan pemerintah kolonial. Pers juga menjadi salah satu sarana penting untuk memberitakan perkembangan organisasi. Apalagi dalam beberapa tahun sebelumnya, tepatnya 1921, Muhammadiyah terus memperluas cabangnya ke berbagai daerah.

Sesaat sebelum pembahasan dimulai. Sekretaris PP Muhammadiyah M. Hoesni, membacakan pokok-pokok usulan yang akan dibicarakan. Setelah itu, para pembicara dan utusan memperoleh kesempatan menyampaikan pandangan.

Pembicara pertama adalah H. A. Moekti (terkait dengan profil yang bersangkutan bisa dibaca di: Mayjend KH Abdul Mukti: Berjasa Tentukan Tanggal Proklamasi RI, Rintis Muhammadiyah Madiun). Dalam pidatonya, Moekti berbicara secara singkat dan lugas mengenai Islam. Pokok pembicaraannya menekankan pentingnya mengembalikan kehidupan umat kepada ajaran Al-Qur’an.

Menurut Moekti, Muhammadiyah memiliki tugas untuk mengarahkan umat Islam, termasuk kaum perempuan. Agar kembali berpegang teguh kepada ajaran agama. Para pemimpin pun dituntut menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan dalam menjalankan kehidupan dan perjuangan.

Corak dakwah Muhammadiyah sejak awal ditujukan pada masyarakat luas. Perempuan juga ditempatkan sebagai bagian penting dalam gerakan pembaruan Islam.

Hal itu sejalan dengan perkembangan Aisyiyah yang pada masa itu telah menjadi bagian penting dalam gerakan Muhammadiyah. Muktamar Surabaya sendiri kemudian dikenang karena keterlibatan Nyai Ahmad Dahlan atau Siti Walidah dalam forum Muktamar dan aktivitas Aisyiyah yang mendapat perhatian pers pada masa itu.

Setelah Moekti, giliran R.H. Hadjid menyampaikan pandangannya. Tokoh yang dikenal sebagai salah satu murid K.H. Ahmad Dahlan itu meminta seluruh utusan agar tidak berhenti pada Muktamar. Setiap keputusan yang telah diambil harus dibawa pulang. Selanjtnya disampaikan kepada warga Muhammadiyah di cabang masing-masing.

Pesan itu menunjukkan pentingnya konsolidasi organisasi. Muktamar bukan hanya tempat untuk membicarakan persoalan. Tapi juga sarana menyatukan langkah cabang-cabang Muhammadiyah yang mulai tersebar di berbagai wilayah.

Hadjid kemudian menguraikan perkembangan Islam dalam perspektif sejarah. Ia menyampaikan tentang perkembangan Islam di jazirah awal pada masa Nabi Muhammad saw. Bahwa setelah 23 tahun perjuangan yang gigih, seluruh Jazirah Arab telah memeluk Islam. Sekitar seratus tahun kemudian, menurut uraian yang disampaikannya, Islam telah meluas dari Spanyol hingga pantai-pantai Tiongkok.

Namun, kata Hadjid, kejayaan itu kemudian menghadapi ragam soal. Perselisihan keagamaan disebut sebagai salah satu faktor yang menyebabkan kekuatan umat Islam terpecah. Sejak jatuhnya Spanyol, kekuatan umat Islam terus mengalami kemunduran secara perlahan tetapi pasti.

Bagi Hadjid, keadaan itu bukan alasan untuk menyerah. Sebaliknya, umat Islam memiliki kewajiban untuk terus menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat. Dakwah harus dilakukan meskipun menghadapi tantangan dan penentangan.

SMPM 5 Pucang SBY

Ia kemudian mengangkat keteguhan Nabi Muhammad dalam menjalankan dakwah. Nabi, menurut Hadjid, tidak berhenti menghadapi berbagai bahaya dan kesulitan. Keteguhan tersebut seharusnya menjadi teladan bagi Muhammadiyah dalam menjalankan perjuangannya.

Pandangan Hadjid memperlihatkan dakwah Muhammadiyah pada masa itu tidak hanya berbicara tentang ritual keagamaan. Dakwah adalah perjuangan panjang untuk membangun kesadaran umat. Karena itu, keberadaan cabang-cabang Muhammadiyah di berbagai daerah harus disertai kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan keputusan organisasi kepada masyarakat.

Setelah Hadjid, seorang utusan dari Klaten memperoleh kesempatan berbicara. Ia tidak menyampaikan pokok persoalan baru. Melainkan memberikan tanggapan terhadap pendapat para pembicara sebelumnya.

Forum kemudian berlanjut dengan laporan dari seorang utusan Batavia. Ia menyampaikan keadaan kas organisasi di daerahnya. Laporan keuangan seperti ini menjadi bagian penting dari Muktamar Muhammadiyah karena pertumbuhan organisasi membutuhkan pengelolaan dana yang tertib.

Muhammadiyah pada dekade 1920-an memang sedang mengalami perkembangan organisasi yang cukup pesat. Cabang-cabang baru bermunculan di berbagai daerah. Perluasan itu membuat persoalan administrasi, keuangan, pendidikan, dan koordinasi antarwilayah semakin penting untuk dibahas dalam forum Muktamar.

Setelah laporan dari Batavia, seorang utusan Pekalongan memperoleh kesempatan berbicara. Ia memberikan penjelasan mengenai ajaran Islam serta adat istiadat yang berkembang di Sumatera.

Pembahasan mengenai perbedaan adat dan kehidupan keagamaan di berbagai wilayah menunjukkan semakin luasnya cakupan perhatian Muhammadiyah. Organisasi tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan masyarakat di Yogyakarta atau Jawa. Perkembangannya telah membawa Muhammadiyah bersentuhan dengan keragaman sosial dan budaya di berbagai daerah.

Pembicara berikutnya adalah utusan dari cabang Pasuruan. Ia mengakui bahwa tidak banyak hal baru yang dapat ditambahkan karena pembicara sebelumnya telah menguraikan hampir seluruh persoalan penting.

Namun, ia tetap menyampaikan satu pesan utama: seluruh anggota Muhammadiyah harus mengerahkan kemampuan untuk memberikan dukungan sepenuhnya kepada organisasi.

Pesan itu menjadi semacam penutup moral bagi rangkaian pembicaraan pagi tersebut. Muktamar Muhammadiyah tidak cukup menghasilkan keputusan di atas kertas. Keputusan harus diterjemahkan menjadi kerja nyata di cabang-cabang.

Pagi 3 Maret 1926 bukan sekadar catatan tentang berakhirnya sebuah sidang dalam sebuah muktamar Muhammadiyah. Ia menjadi gambaran tentang bagaimana Muhammadiyah pada masa awal membangun konsolidasi organisasi sekaligus meneguhkan identitasnya sebagai gerakan dakwah dan pembaruan Islam.

Sekitar pukul 11.50, K.H. Ibrahim menutup sidang. Berakhirnya sidang pagi itu bukan penghujung rangkaian Muktamar Muhammadiyah ke-15 di Surabaya. Karena penutupan baru akan dilaksanakan pada malam harinya.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 12/10/2026 22:48
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu