Perjalanan bersama rombongan Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo ke Mesir bukan sekadar kunjungan ke negeri para nabi dan ulama. Perjalanan ini menjadi kesempatan untuk menapaki jejak sejarah peradaban Islam sekaligus belajar dari tempat-tempat yang memiliki peran penting dalam perkembangan keilmuan Islam.
Salah satu pengalaman berkesan adalah ketika kami menunaikan salat Jumat pertama di Mesir. Pada kesempatan itu, kami beribadah di Masjid Al-Azhar, Kairo, sebuah masjid bersejarah yang dikenal sebagai salah satu pusat keilmuan Islam dunia.
Kami tiba sekitar pukul 10.30 waktu setempat. Sejak memasuki kawasan masjid, suasana berbeda langsung terasa. Bangunan bersejarah dengan arsitektur Islam yang khas menyambut kedatangan kami. Pilar-pilar kokoh, halaman luas, ornamen kaligrafi, serta menara-menara yang menjulang seolah menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Islam.
Masjid yang Menjadi Pusat Keilmuan
Masjid Al-Azhar bukan sekadar tempat menunaikan ibadah. Berdiri sejak 970 M dan mulai digunakan untuk kegiatan ibadah pada 972 M, masjid ini kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan Islam. Tradisi keilmuan tersebut terus tumbuh hingga melahirkan Universitas Al-Azhar yang dikenal luas di berbagai penjuru dunia.
Menjelang salat Jumat, jamaah mulai berdatangan dan memenuhi saf-saf masjid. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari masyarakat Mesir, mahasiswa asing, para penuntut ilmu, hingga musafir seperti rombongan kami.
Ketika azan berkumandang, suasana semakin khusyuk. Kami berbaur bersama jamaah lainnya, berdiri dalam satu saf dan menghadap kiblat yang sama. Tidak ada sekat kebangsaan, bahasa, maupun status sosial. Semua hadir sebagai hamba Allah yang memenuhi panggilan-Nya.
Pesan Khutbah tentang Takwa dan Akhlak
Dalam khutbah Jumat, Syekh Dr. Ridho Syuyufi mengajak jamaah meningkatkan ketakwaan dan rasa syukur atas nikmat Allah SWT, terutama nikmat iman, Islam, serta petunjuk Al-Qur’an sebagai cahaya kehidupan.
Ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an memuat tuntunan kehidupan, mulai dari tauhid, akhlak, ibadah, hingga muamalah. Khatib juga mengajak jamaah meneladani akhlak Rasulullah SAW, khususnya dengan bersikap lembut kepada sesama manusia dan berlaku adil kepada siapa pun.
Pesan tersebut mengingatkan kami bahwa ilmu dan akhlak merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan seorang Muslim.
Masjid sebagai Jantung Peradaban
Ada pelajaran penting yang kami dapatkan dari Al-Azhar. Masjid dapat tumbuh melampaui fungsi ritual semata. Masjid juga bisa menjadi pusat pendidikan, dakwah, pembinaan umat, bahkan tempat lahirnya peradaban.
Kemakmuran masjid tidak hanya diukur dari megahnya bangunan atau banyaknya jamaah. Lebih dari itu, sejauh mana masjid mampu melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi kami, perjalanan ini bukan sekadar wisata sejarah. Pengalaman salat Jumat di Masjid Al-Azhar menjadi pelajaran spiritual yang ingin dibawa pulang: terus memakmurkan masjid, mencintai ilmu, menghormati ulama, dan membangun generasi penerus peradaban Islam.
Dari Al-Azhar, kami belajar bahwa peradaban besar dapat dimulai dari masjid. Masjid bukan hanya tempat bersujud, tetapi juga tempat ilmu bertumbuh dan masa depan umat dibangun. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments