SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman atau SD Mumtaz kembali menggelar kegiatan Karya Ilmiah Siswa (KIS) pada semester genap Tahun Ajaran 2025/2026.
Presentasi hasil penelitian siswa kelas VI tersebut berlangsung selama empat hari, mulai Senin (18/5/2026) hingga Kamis (21/5/2026) di lingkungan sekolah.
KIS tahun ini mengusung tema lingkungan dan sosial yang selaras dengan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Para siswa menampilkan berbagai inovasi sederhana namun kreatif, mulai dari pemanfaatan limbah plastik menjadi kerajinan bernilai, pembuatan edible straw dari tepung beras, hingga pengolahan daun kelor menjadi camilan sehat.
Kepala Urusan Bidang Kurikulum SD Mumtaz, Dewoto Kusumo, M.Pd., menjelaskan bahwa KIS menjadi wadah bagi siswa untuk belajar berpikir kritis, peduli terhadap lingkungan sekitar, serta mampu menemukan solusi atas berbagai persoalan sehari-hari.
“Kegiatan ini menjadi sarana penguatan kompetensi abad 21 dan implementasi pembelajaran yang bermakna bagi siswa,” ujarnya.
Menurutnya, tujuan KIS adalah menumbuhkan empati serta kemampuan pemecahan masalah melalui penerapan literasi dan numerasi secara terintegrasi.
Selain itu, kegiatan tersebut juga mendukung penguatan kompetensi abad 21 berbasis 6C serta ketercapaian 8 Dimensi Profil Lulusan.
Perbedaan utama KIS tahun ini dibanding tahun sebelumnya terletak pada penerapan tahapan design thinking dalam proses pembelajaran.
Siswa diajak untuk membangun empati, mengidentifikasi masalah, merumuskan solusi kreatif, membuat produk, hingga mempresentasikan hasil penelitian secara sistematis.
Hasil karya ilmiah siswa tidak hanya berupa produk fisik, tetapi juga gagasan yang mampu memberikan solusi bagi permasalahan lingkungan dan sosial di sekitar mereka.
Beberapa judul penelitian yang dipresentasikan antara lain pemanfaatan minyak kayu putih dan tawas menjadi deodoran, analisis kebersihan air sekolah, pengaruh sarapan terhadap konsentrasi belajar siswa, pemanfaatan bunga jantung pisang menjadi teh herbal, hingga pengolahan limbah rumah tangga menjadi sabun antiseptik.
Selain itu, terdapat pula inovasi berupa sabun cair antiseptik dari limbah kulit nanas, es krim berbahan kulit buah naga, hingga alat penyerap air hujan untuk membantu pencegahan banjir.
Salah satu siswa kelas 6C, Justin, mengaku bangga dapat terlibat dalam kegiatan KIS tahun ini.
“Saya senang bisa membuat karya ilmiah bersama teman-teman. Kami belajar banyak hal baru, mulai dari mencari ide, melakukan eksperimen, sampai presentasi di depan guru dan orang tua. Ini pengalaman yang tidak akan saya lupakan,” ujarnya.
Sebelum pelaksanaan KIS, siswa kelas VI dibagi ke dalam beberapa kelompok belajar. Masing-masing kelompok didampingi guru pembimbing mulai dari penentuan tema, observasi, penyusunan laporan ilmiah, pembuatan produk, hingga persiapan presentasi.
Dewoto Kusumo menegaskan bahwa KIS memiliki keterkaitan erat dengan penguatan kompetensi 6C.
Menurutnya, siswa belajar critical thinking saat menganalisis masalah dan mencari solusi. Mereka juga mengembangkan creativity dalam menciptakan ide maupun produk inovatif.
Selain itu, proses kerja kelompok melatih kemampuan collaboration, sementara diskusi dan presentasi mengasah communication.
Kegiatan tersebut juga membentuk character siswa seperti disiplin, tanggung jawab, dan percaya diri. Adapun aspek citizenship tercermin dari kepedulian siswa terhadap masalah lingkungan dan sosial di sekitar mereka.
Wakil Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sidoarjo bidang pendidikan, Taufiqurrahman, M.Pd., yang hadir sebagai penguji KIS turut memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Menurutnya, para siswa menunjukkan keberanian dan kreativitas luar biasa saat mempresentasikan karya ilmiah mereka di depan umum.
“Anak-anak hebat semua. Saya sangat terkesan dengan keberanian dan kreativitas mereka dalam mempresentasikan karya ilmiah di depan umum. Yang lebih membanggakan, ada juga anak inklusi yang terlibat di dalamnya. Mereka tampil percaya diri dan aktif. Ini bukti bahwa pendidikan inklusif di SD Mumtaz berjalan dengan baik dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua anak untuk berkembang,” ungkap Taufiqurrahman.
Dewoto Kusumo berharap KIS dapat menjadi pengalaman belajar yang berkesan bagi seluruh siswa.
“Harapannya, KIS dapat menjadi pengalaman belajar yang bermakna dan tidak mudah dilupakan oleh siswa,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan memiliki bekal keterampilan, pengetahuan, dan karakter yang bermanfaat untuk jenjang pendidikan berikutnya maupun kehidupan sehari-hari.
Dengan antusiasme tinggi dari siswa, guru, dan orang tua, pelaksanaan KIS 2026 di SD Mumtaz berlangsung meriah sekaligus penuh inspirasi.





0 Tanggapan
Empty Comments