Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Teladan Nabi Melalui Beasiswa untuk Membangun Bangsa

Iklan Landscape Smamda
Teladan Nabi Melalui Beasiswa untuk Membangun Bangsa
Oleh : Prof Triyo Supriyatno Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW bukan hanya seorang rasul yang tugasnya hanya menyampaikan risalah tentang ketuhanan. Lebih dari itu, beliau juga sebagai teladan paripurna dalam membangun peradaban dan mencerdaskan umat.

Salah satu dimensi keteladanan beliau yang jarang dibicarakan secara langsung adalah kepeduliannya pada pendidikan dan pengembangan potensi umat.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa ilmu adalah cahaya yang menuntun manusia menuju kemuliaan hidup. Dalam sabdanya beliau menyampaikan bahwa “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim, laki-laki maupun perempuan.” (HR. Ibnu Majah).

Spirit ini sebenarnya bisa kita tarik ke konteks modern, yakni bagaimana suatu bangsa memberi perhatian serius pada pendidikan rakyatnya melalui kebijakan beasiswa.

Beasiswa bukan sekadar fasilitas finansial, melainkan instrumen keadilan sosial agar setiap anak bangsa, tanpa memandang latar belakang ekonomi, dapat mengenyam pendidikan yang bermutu.

Keadilan dalam mengakses ilmu

Keteladanan Nabi Muhammad SAW mencerminkan prinsip inklusivitas dalam menuntut ilmu. Beliau tidak pernah membedakan siapa yang berhak mendapatkan ilmu.

Di dalam Masjid Nabawi, majelis ilmu terbuka untuk semua golongan: dari sahabat yang miskin dan berasal dari rakyat jelata hingga kaum bangsawan Quraisy, dari orang Arab hingga non-Arab.

Bahkan seorang tawanan perang pun dapat menebus dirinya hanya dengan mengajarkan baca-tulis kepada kaum muslimin. Kebijakan ini menunjukkan bahwa Rasulullah tersebut menempatkan ilmu sebagai hak asasi, bukan privilese kelompok tertentu.

Bangsa yang menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan, maka harus menjadikan prinsip ini sebagai dasar.

Beasiswa harus berorientasi untuk sarana pemerataan akses ilmu, bukan sekadar simbol prestise.

Dalam konteks Indonesia, berbagai jenis beasiswa seperti KIP Kuliah, LPDP, maupun beasiswa daerah sebagai upaya nyata negara dalam menjalankan fungsi profetiknya — yaitu: memastikan tidak ada anak bangsa yang terhalang mimpi karena faktor ekonomi.

Amal jariyah kolektif berupa beasiswa

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila manusia meninggal, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh.” (HR. Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa memberi akses pendidikan hakekatnya adalah amal jariyah. Menyediakan beasiswa adalah untuk membuka jalan bagi hadirnya ilmu yang bermanfaat dan lahirnya generasi anak saleh yang mendoakan kebaikan.

Bangsa yang visioner memahami bahwa investasi terbesar bukanlah pada infrastruktur fisik semata, melainkan pada kecerdasan warganya.

Beasiswa adalah bentuk sedekah jariyah kolektif bangsa, yang manfaatnya akan melampaui satu generasi. Ia menciptakan siklus kebaikan: penerima beasiswa yang sukses kelak akan memberi kembali kepada masyarakat, baik dalam bentuk ilmu, karya, maupun kesempatan pendidikan bagi yang lain.

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” (QS. An-Nahl: 90).

Prinsip keadilan ini sejalan dengan gagasan distribusi kesempatan pendidikan.

Beasiswa harus dipandang sebagai instrumen untuk meruntuhkan tembok ketimpangan. Ketika beasiswa hanya diberikan pada kalangan yang sudah mapan, ia berubah menjadi privilege.

Namun bila diberikan dengan adil, menyasar mereka yang memiliki potensi tetapi kurang mampu, ia menjadi penggerak mobilitas sosial.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Inilah bentuk nyata iqamah al-‘adl (menegakkan keadilan) dalam konteks kebijakan publik.

Menghindari komersialisasi pendidikan

Di sisi lain, kita juga perlu bercermin pada peringatan Rasulullah SAW terhadap praktik duniawi yang dzalim kepada rakyat kecil.

Beliau menolak segala bentuk komersialisasi yang menghalangi orang lemah memperoleh haknya.

Pendidikan yang terlalu dikomodifikasi berpotensi menyingkirkan kaum dhuafa. Maka peran negara, ormas, maupun filantropi Islam adalah menghadirkan beasiswa yang tulus, bukan sekadar retorika.

Muhammadiyah, misalnya, telah menunjukkan kepedulian melalui berbagai lembaga pendidikan dan program beasiswa.

Tradisi filantropi ini selaras dengan spirit Nabi dalam menolong kaum (dhuafa) agar mampu bangkit melalui pendidikan.

Bila teladan ini bisa menyeluruh ke seluruh negeri, bangsa ini akan memiliki modal sosial yang kokoh untuk menghadapi persaingan global.

Mengukur kekuatan bangsa yang besar tidak bisa dari kekayaan alamnya semata. Lebih dari itu juga kualitas manusia yang dihasilkannya.

Nabi SAW berhasil membangun peradaban Madinah bukan karena emas atau kekuatan militer, tetapi karena kecerdasan spiritual, moral, dan intelektual umatnya.

Beasiswa dalam konteks modern merupakan salah satu jalan untuk meraih cita-cita. Ia membuka kesempatan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk menjadi profesor, menjadi dokter, bahkan bagi anak yatim untuk tumbuh sebagai pemimpin.

Semua ini sejalan dengan misi rahmatan lil ‘alamin, bahwa Islam menghendaki kemaslahatan universal, termasuk dalam bidang pendidikan.

Keteladanan sepanjang masa

Keteladanan Nabi SAW menegaskan bahwa ilmu adalah hak setiap insan, bukan milik segelintir orang.

Beasiswa, dalam kerangka ini, adalah wujud nyata implementasi ajaran beliau: menghadirkan keadilan, membuka akses, dan menyiapkan generasi unggul.

Bangsa yang meneladani Nabi SAW dalam bidang pendidikan akan menuai keberkahan, bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

Kini, tantangannya adalah bagaimana memastikan semua jenis beasiswa dikelola secara transparan, tepat sasaran, dan berorientasi pada keadilan sosial.

Sebab sesungguhnya pada setiap rupiah yang kita investasikan untuk pendidikan rakyat adalah amal jariyah bangsa yang akan terus mengalir pahalanya.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡