Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menghadirkan layanan konseling sebaya gratis melalui program Ramah (Ruang Aman Mahasiswa). Program yang digagas Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Umsida ini mendapat sambutan antusias dari mahasiswa hingga pelaksanaannya diperpanjang menjadi dua hari.
Kegiatan tersebut berlangsung pada 8–9 Oktober 2026 di Kampus 1 Umsida, bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober. Pelaksanaannya melibatkan mahasiswa Program Studi Psikologi dan menghadirkan pendampingan psikolog profesional.
Ramah dirancang sebagai ruang aman bagi mahasiswa untuk berbagi cerita, mengungkapkan perasaan, dan memperoleh dukungan ketika menghadapi persoalan yang berkaitan dengan kesehatan mental.
Ketua Satgas PPKPT Umsida, Ir. Boy Isma Putra, S.T., M.M., IPM, menjelaskan bahwa program ini memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk berbicara dengan teman sebaya dalam suasana yang nyaman, dengan pendampingan tenaga profesional.
“Dalam pelaksanaannya, mahasiswa dapat berbagi cerita dengan teman sebaya yang didampingi oleh psikolog profesional, sehingga mereka dapat memperoleh dukungan secara lebih terarah,” terang Boy.
Boy menjelaskan, Ramah merupakan salah satu bentuk komitmen Satgas PPKPT Umsida dalam menerapkan tiga pilar, yakni peduli, preventif, dan protektif.
Melalui program ini, mahasiswa diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan mental dan tidak ragu mencari bantuan ketika menghadapi kesulitan. Lingkungan kampus juga diharapkan semakin terbuka dalam memberikan dukungan serta mengurangi stigma terhadap persoalan psikologis.
Boy menyampaikan terima kasih kepada mahasiswa yang telah mempercayakan Ramah sebagai tempat untuk berbagi cerita.
“Terima kasih kepada semua yang telah mempercayakan ruang Ramah sebagai tempat untuk berbagi cerita,” tutur dosen Program Studi Teknik Industri tersebut.
Menurutnya, keberanian untuk terbuka dan menceritakan apa yang dirasakan merupakan langkah penting yang patut dihargai. Dukungan terhadap kesehatan mental dapat dimulai dengan memberi ruang bagi seseorang untuk menyampaikan perasaannya tanpa takut dihakimi.
“Setiap cerita memiliki makna, dan setiap langkah kecil untuk mencari dukungan merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri,” ungkap Boy.
Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia di Kampus 1 Umsida juga diwarnai aksi berbagi kebahagiaan yang dilakukan mahasiswa Program Studi Psikologi pada Kamis (8/10/2026).
Mereka membagikan sejumlah hadiah sederhana, seperti permen, cokelat, bunga, dan gantungan kunci hasil kerajinan tangan mahasiswa. Setiap hadiah dilengkapi kutipan positif yang berisi pesan hangat dan motivasi bagi penerimanya.
Aksi tersebut menjadi bentuk kepedulian mahasiswa Psikologi dalam menyebarkan energi positif sekaligus mengingatkan bahwa kebahagiaan dapat hadir melalui hal-hal sederhana.
Ketua Program Studi Psikologi Umsida, Zaki Nur Fahmawati, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa kesehatan mental bukan berarti seseorang harus selalu merasa bahagia atau terbebas dari masalah.
“Kesehatan mental adalah perjalanan. Orang dengan kesehatan mental yang baik tidak berarti akan bahagia terus dan lepas dari masalah,” ujar Zaki.
Ia menjelaskan, setiap orang dapat mengalami beragam peristiwa dan emosi dalam kehidupan sehari-hari. Kesehatan mental yang baik, menurutnya, berkaitan dengan kemampuan menerima dan mengelola emosi serta melakukan hal-hal yang baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Zaki juga menekankan pentingnya menemukan cara untuk memperbanyak pengalaman dan emosi positif dalam kehidupan sehari-hari.
Tingginya minat mahasiswa untuk memanfaatkan ruang konseling menjadi salah satu hal yang menonjol selama kegiatan berlangsung.
Semula, Ramah direncanakan hanya digelar selama satu hari, yakni pada 8 Oktober 2026. Namun, karena banyak mahasiswa ingin berbagi cerita dan memperoleh dukungan psikologis, Satgas PPKPT Umsida memperpanjang layanan hingga Jumat (9/10/2026).
Perpanjangan tersebut menunjukkan kebutuhan mahasiswa terhadap ruang berbagi yang nyaman dan dukungan dalam menghadapi persoalan pribadi maupun emosional.
Melalui Ramah dan aksi berbagi yang digelar mahasiswa Psikologi, Umsida berupaya membangun lingkungan kampus yang lebih peduli terhadap kesehatan mental. Mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami pentingnya menjaga kondisi psikologis diri sendiri, tetapi juga mampu memberikan dukungan kepada orang-orang di sekitarnya.





0 Tanggapan
Empty Comments