Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

81 Tahun Merdeka, Ke Mana Budaya Kita?

Iklan Landscape Smamda
81 Tahun Merdeka, Ke Mana Budaya Kita?
ilustrasi AI
Oleh : Rivaldi Darmawan Mahasiswa Doktoral UIN Sunan Kalijaga Anggota Bidang Riset & Pengembangan Sumberdaya PDPM Kota Yogyakarta

Tepat pada 17 Agustus 2026, Indonesia memasuki usia 81 tahun. Lebih dari delapan dekade bangsa ini menapaki perjalanan panjang, melewati berbagai perubahan zaman, pergantian generasi, serta pergeseran cara masyarakat menjalani kehidupan.

Namun, di tengah perayaan kemerdekaan yang setiap tahun kita rayakan dengan penuh semarak, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan: ke mana arah kebudayaan kita?

Pertanyaan ini penting karena sejak awal Indonesia dikenal sebagai bangsa yang memiliki kekayaan budaya luar biasa. Kita memiliki ratusan kelompok etnis, bahasa daerah, kesenian, tradisi, kuliner, serta nilai-nilai sosial yang tumbuh dari pengalaman panjang masyarakat Nusantara.

Ironisnya, semakin terbuka dunia dan semakin maju teknologi, kita justru perlu bertanya apakah kekayaan tersebut masih benar-benar menjadi fondasi kehidupan bangsa atau perlahan hanya menjadi ornamen dalam berbagai seremoni.

Bangsa yang Mengalami Kekosongan Budaya?

Kekosongan kebudayaan bukan berarti kebudayaan berhenti berkembang. Budaya selalu bergerak, berubah, dan beradaptasi dengan zaman. Namun, ketika negara, lembaga pendidikan, keluarga, komunitas, dan masyarakat tidak cukup kuat memberikan orientasi kebudayaan, pihak lain akan dengan mudah mengisi ruang kosong tersebut.

Haidar Bagir, dalam bukunya Islam Tuhan Islam Manusia, mengingatkan bahwa negeri ini telah lama bergerak ke arah ketunabudayaan, meskipun jargon tentang penguatan budaya terus kita dengungkan.

Ketika masyarakat mengalami kekosongan orientasi budaya, pasar mulai mengisinya dengan logika konsumsi. Industri hiburan menawarkan selera komersial. Sementara itu, algoritma media sosial menyajikan apa yang paling banyak menarik perhatian.

Pada titik inilah persoalan budaya Indonesia tidak lagi sekadar menyangkut lunturnya kesenian tradisional.

Persoalan yang jauh lebih mendasar ialah pertanyaan tentang siapa yang kini membentuk cara kita berpikir, berbicara, berpakaian, menikmati hiburan, bahkan menentukan apa yang kita anggap penting dalam kehidupan.

Budaya dalam Kepungan Pasar

Prof. Alo Liliweri dalam bukunya Pengantar Studi Kebudayaan menjelaskan bahwa budaya pada dasarnya selalu mengalami perubahan. Tidak ada kebudayaan yang benar-benar statis.

Sejarah Indonesia sendiri memperlihatkan bagaimana kebudayaan Nusantara tumbuh melalui perjumpaan panjang antara berbagai masyarakat, agama, bahasa, dan peradaban.

Karena itu, masuknya unsur budaya dari luar tidak perlu selalu kita pandang sebagai ancaman. Bangsa Indonesia sejak dahulu justru tumbuh melalui proses perjumpaan dan pengolahan berbagai pengaruh dari luar.

Persoalannya bukan terletak pada masuknya budaya asing, melainkan pada ketimpangan kekuatan yang menyertai perjumpaan tersebut.

Budaya yang didukung modal besar, teknologi canggih, dan jaringan media luas tentu lebih mudah mendominasi ruang publik dibandingkan budaya lokal yang tidak memiliki kekuatan serupa.

Hari ini masyarakat Indonesia tidak hanya berhadapan dengan budaya asing melalui interaksi antarmanusia. Kita berhadapan dengan industri budaya global yang memiliki modal besar dan jaringan distribusi luas. Industri tersebut mampu memproduksi tren secara massal, menyebarkannya dalam waktu singkat, lalu menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.

Fashion, makanan, permainan, musik, hingga gaya hidup seseorang dapat diproduksi dan dipasarkan sebagai komoditas.

Budaya pun perlahan mengikuti logika pasar.

Seseorang membeli pakaian tertentu bukan semata-mata karena membutuhkan pakaian. Ia membeli simbol, identitas, dan citra tertentu yang melekat pada produk tersebut. Pada titik inilah kapitalisme bekerja melalui kebudayaan. Ia tidak hanya menjual barang, tetapi juga menjual gaya hidup.

Media Sosial dan Algoritma yang Membentuk Selera

Perubahan besar dalam kehidupan budaya hari ini juga datang dari perkembangan teknologi digital.

Algoritma bekerja dengan menawarkan konten yang dianggap mampu mempertahankan perhatian pengguna. Ia membaca apa yang kita sukai, berapa lama kita menonton, apa yang kita cari, hingga jenis konten yang membuat kita kembali membuka layar.

Proses tersebut menciptakan sebuah lingkaran.

Ketika kita melihat dan menyukai sesuatu, algoritma akan menyajikan lebih banyak konten serupa. Semakin sering kita melihatnya, semakin akrab kita dengan selera tersebut. Pada akhirnya, sesuatu yang terus-menerus muncul dapat terasa biasa, menarik, bahkan menjadi bagian dari kebutuhan.

Karena itu, algoritma tidak hanya berfungsi sebagai alat distribusi informasi. Ia juga ikut membentuk selera dan, dalam batas tertentu, memengaruhi arah kebudayaan.

Pemerintah melalui berbagai pernyataan tentang kebudayaan dan generasi muda juga telah mengakui bahwa arus budaya asing semakin cepat masuk melalui teknologi dan media sosial. Arus tersebut membawa pengaruh besar terhadap pola pikir dan gaya hidup generasi muda.

Masalahnya, kita sering kali menyalahkan generasi muda sebagai kelompok yang mudah terpengaruh, tetapi lupa bertanya: siapa yang menyediakan ruang alternatif bagi mereka?

Jika budaya lokal hanya hadir dalam seremoni, buku pelajaran, atau acara peringatan tertentu, sementara budaya global hadir setiap hari melalui telepon genggam, maka pertarungan tersebut sejak awal sudah berlangsung dalam kondisi yang tidak seimbang.

Saat Budaya Lokal Kalah oleh Logika Viral

Salah satu persoalan kebudayaan hari ini muncul dari bergesernya ukuran nilai.

Kita semakin sering menggunakan ukuran sederhana untuk menentukan sesuatu dianggap penting atau tidak: viral atau tidak viral.

Sesuatu dianggap menarik ketika banyak orang menontonnya. Sesuatu disebut keren ketika masuk tren. Seseorang dianggap berhasil ketika memperoleh jutaan pengikut dan tanda suka.

Padahal, kebudayaan tidak selalu bekerja dengan logika tersebut.

Gotong royong mungkin tidak seviral budaya populer seperti K-Pop, tetapi nilainya sangat penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Mendengarkan cerita orang tua mungkin tidak menarik perhatian media sosial, tetapi tradisi tersebut dapat menjadi jalan untuk mewariskan pengalaman dan nilai kehidupan.

SMPM 5 Pucang SBY

Konten yang mengangkat bahasa daerah mungkin tidak selalu ramai penonton, tetapi bahasa merupakan bagian penting dari identitas sebuah masyarakat.

Karena itu, kita tidak seharusnya menilai kebudayaan hanya berdasarkan jumlah penonton, pengikut, atau seberapa sering sesuatu masuk dalam daftar tren.

Banyak nilai budaya tidak pernah viral, tetapi memiliki arti besar bagi kehidupan masyarakat.

Jika masyarakat hanya sibuk mengejar keviralan, budaya yang membutuhkan proses panjang untuk dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya akan semakin sulit bertahan.

Kita akhirnya berisiko menciptakan generasi yang mengenal begitu banyak tren global, tetapi semakin asing dengan cerita, bahasa, nilai, dan tradisi yang tumbuh di lingkungan mereka sendiri.

Dari Konsumen Menjadi Produsen Budaya

Indonesia tidak boleh berhenti sebagai konsumen budaya.

Kita perlu lebih serius memperkenalkan dan mengembangkan kekayaan budaya lokal sebagai kekuatan kreatif. Keragaman budaya Indonesia terlalu besar jika hanya kita jadikan tontonan atau bahan nostalgia.

Kita memiliki bahasa, kesenian, tradisi, kuliner, pengetahuan lokal, serta nilai-nilai sosial yang dapat berkembang menjadi karya baru sesuai dengan perkembangan zaman.

Karena itu, kita tidak cukup hanya melestarikan budaya. Kita juga harus menghidupkan dan mengembangkannya.

Budaya harus tumbuh di tengah masyarakat. Keluarga harus menjadi ruang pertama untuk mengenalkan nilai dan tradisi. Lembaga pendidikan harus memberi ruang bagi peserta didik untuk memahami kebudayaan di sekitarnya. Komunitas harus berani melakukan eksperimen dan menciptakan bentuk-bentuk ekspresi baru.

Negara pun harus hadir melalui kebijakan yang memberikan ruang dan fasilitas bagi pengembangan kebudayaan.

Jangan sampai agenda pengembangan budaya hanya bertahan melalui program pemerintah atau acara seremonial tahunan.

Kita membutuhkan kebudayaan yang benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat. Kebudayaan yang mengakar, tetapi tidak takut berubah. Kebudayaan yang terbuka terhadap dunia, tetapi tetap memiliki kemampuan untuk menjaga jati dirinya.

Budaya asing boleh datang. Kita tentu dapat belajar darinya.

Namun, kita juga harus memiliki kemampuan untuk memilih, mengolah, dan menciptakan.

Jangan hanya menjadi peniru.

Kita perlu mengolah berbagai pengaruh tersebut menjadi sesuatu yang sesuai dengan pengalaman, kebutuhan, dan karakter bangsa Indonesia.

81 Tahun Merdeka

Memasuki usia 81 tahun kemerdekaan, Indonesia seharusnya menjadikan momentum ini sebagai kesempatan untuk membangun kembali kepercayaan diri terhadap kebudayaannya sendiri.

Kita tidak perlu menutup pintu rapat-rapat terhadap pengaruh luar. Dunia telah berubah, dan perjumpaan budaya menjadi sesuatu yang tidak mungkin kita hindari.

Namun, keterbukaan tidak boleh membuat kita kehilangan kemampuan untuk memilih.

Kita harus mampu menyerap yang baik, mengolah yang sesuai, dan menolak apa yang bertentangan dengan nilai serta kepentingan kehidupan bangsa.

Teknologi akan terus berkembang. Budaya global akan terus datang. Tren akan silih berganti.

Namun, bangsa yang memiliki kebudayaan kuat tidak akan mudah kehilangan arah hanya karena berhadapan dengan perubahan.

Kemerdekaan seharusnya tidak hanya kita maknai sebagai kebebasan dari penjajahan politik. Kemerdekaan juga harus memberi kita kemampuan untuk menentukan arah kehidupan sendiri, termasuk arah kebudayaan.

Jangan sampai, setelah 81 tahun merdeka, kita hanya menjadi pasar bagi budaya orang lain, sementara kekayaan budaya sendiri perlahan kehilangan ruang di tengah masyarakat.

Budaya asing boleh tiba kapan saja dan teknologi boleh berkembang secepat apa pun. Namun, kita tetap membutuhkan akar.

Dan akar itu adalah kebudayaan kita sendiri.

Maka, pertanyaan pada usia 81 tahun Indonesia bukan sekadar seberapa jauh bangsa ini telah berkembang, melainkan juga ke mana kita membawa kebudayaan kita setelah merdeka selama lebih dari delapan dekade?

Sebab, sebuah bangsa mungkin mampu tumbuh secara ekonomi dan maju secara teknologi. Namun, tanpa kebudayaan yang hidup dan menjadi kesadaran bersama, bangsa itu berisiko kehilangan kemampuan untuk mengenali dirinya sendiri.***

SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu