Di tengah deru ombak pesisir Desa Labuhan, hadir sepasang pendidik muda yang membawa harapan bagi anak-anak nelayan. Abdul Wachid dan Siti Fatimah datang bukan hanya sebagai guru, tetapi sebagai penggerak perubahan pendidikan di MI GUPPI Labuhan.
Puluhan tahun berlalu, nama keduanya tetap dikenang sebagai sosok yang meletakkan fondasi pendidikan bagi generasi pesisir.
Sebagai pengajar muda, kehidupan Abdul Wachid dan Siti Fatimah jauh dari kata mapan. Selama tujuh tahun mengabdi, mereka tidak memiliki tempat tinggal tetap.
Mereka berpindah-pindah, mulai dari rumah Bapak Suwondo, kemudian ke kediaman H. Nurhasyim, hingga akhirnya menetap di rumah Bapak Ridwan.
“Bapak Wachid bersama isteri pertama kali menetap di rumah Bapak Suwondo, rumah yang tidak jauh dari MI GUPPI Labuhan”, ujar Hj. Masenah, tokoh Labuhan.
Namun keterbatasan tersebut tidak memadamkan semangatnya. Abdul Wachid justru melihat potensi besar pada anak-anak pesisir.
“Anak-anak ini cerdas, mereka hanya butuh keteraturan,” kenangnya Abdul Wachid kala itu.
Tidak hanya mengajar, Abdul Wachid juga melakukan pembaruan sistem pendidikan. Ia menerapkan sistem guru kelas untuk siswa kelas 1–3 agar tercipta kedekatan emosional, serta sistem bidang studi untuk kelas 4–6 guna memperdalam pemahaman ilmu.
Bersama rekan-rekan seperti Bapak Suaidi, Ibu Maemunah, dan Bapak Wahyudi, ia membangun pondasi pendidikan yang kuat di desa tersebut.
Momen penting terjadi saat angkatan pertama siswa harus mengikuti Ujian Negara. Karena belum memiliki izin mandiri, siswa harus mengikuti ujian di Sedayulawas.
“MI GUPPI Labuhan pertama kali mengikuti Ujian Negara pada zaman pak Abdul Wachid”, tutur Suadi, salah satu guru.
Selama satu minggu, Abdul Wachid mendampingi para siswa dengan penuh dedikasi. Ia memastikan kebutuhan makan dan belajar terpenuhi, bahkan dalam keterbatasan penerangan lampu minyak.
Hasilnya, para siswa berhasil membuktikan kemampuan mereka. Prestasi mulai diraih dan stigma terhadap anak pesisir perlahan runtuh.
Tahun 1984 menjadi akhir masa pengabdian Abdul Wachid di Labuhan. Ia menerima tugas baru sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Tuban.
“Saya pergi untuk tugas baru, tapi hati saya akan selalu tertinggal di Labuhan,” ucapnya saat berpamitan.
Perpisahan itu meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat, termasuk tokoh seperti Bapak Moh. Ya’qub Efendi dan Bapak Sarkun.
Kini, meski Abdul Wachid telah menetap di Glodok, Palang, pengabdiannya tetap hidup dalam ingatan masyarakat Labuhan.
Ia menjadi bukti bahwa ketulusan seorang guru mampu mengubah masa depan generasi. Di tengah keterbatasan, ia menyalakan cahaya pendidikan yang terus bersinar hingga hari ini.





0 Tanggapan
Empty Comments