Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tak Sekadar Belajar, Siswa Kelas 3 SD Mumtaz Perdalam Ke-Muhammadiyahan di Masjid Syuhada’

Iklan Landscape Smamda
Tak Sekadar Belajar, Siswa Kelas 3 SD Mumtaz Perdalam Ke-Muhammadiyahan di Masjid Syuhada’
Para siswa kelas 3 SD Mumtaz saat belajar Kemuhamadiyahan secara langsung di Masjid Syuhada, Selasa (28/04/2026). (Wildan Mucholladun/ PWMU.CO).
pwmu.co -

Suasana berbeda menyapa Masjid Syuhada’ pada Selasa pagi (28/04.2026). Bukan hanya suara azan atau gemuruh takbir yang biasa terdengar, tetapi juga celoteh ceria puluhan siswa kelas 3 SD Muhammadiyah 1 & 2 Taman atau SD Mumtaz—memenuhi setiap sudut ruangan.

Mereka tak datang untuk salat berjamaah saja. Pagi itu, ruang utama masjid berubah menjadi kelas hidup.

Buku paket Ke-Muhammadiyahan (KMD) terbuka di tangan-tangan mungil, sementara guru-guru pendamping berkeliling menjelaskan.

Pemandangan yang jarang ditemui di sekolah lain ini adalah bagian dari pembelajaran inovatif. Yaitu, memindahkan ruang belajar dari dalam kelas ke pusat gerakan dakwah Muhammadiyah sendiri.

Hidupkan Teori dengan Atmosfer Perjuangan

Selama ini, materi “Bangga Menjadi Kader Muhammadiyah” diajarkan di dalam ruang kelas yang rapi dan sejuk.

Namun, pihak sekolah merasa bahwa memahami Muhammadiyah tidak cukup hanya dengan membaca dan menghafal. Harus ada rasa yang menyentuh, harus ada tempat yang membisikkan semangat perjuangan.

Maka, dipilihlah Masjid Syuhada’. Masjid yang tidak hanya megah berdiri, tetapi juga menyimpan napas panjang aktivitas persyarikatan. Di sinilah warga Muhammadiyah biasa berdiskusi, beribadah, dan menggerakkan dakwah.

“Kami ingin anak-anak SD Mumtaz tidak sekadar hafal teks. Kami ingin mereka merasakan langsung energi pengabdian di masjid ini. Bahwa mereka itu kecil, tapi mereka bagian dari keluarga besar yang luar biasa,” tutur salah satu guru KMD kelas 3 yang mendampingi kegiatan.

3 Pengalaman Utama

Selama sesi belajar di masjid, para siswa diajak menyelami langsung nilai-nilai kemuhammadiyahan melalui tiga pengalaman utama:

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

  1. Mengenal Struktur Pengurus dari Akar Rumput
    Dengan santai namun serius, guru menunjukkan bagan sederhana Pimpinan Ranting Muhammadiyah. Mereka belajar bahwa gerakan besar ini dimulai dari level terkecil di lingkungan sekitar. Tak ada yang terlalu kecil untuk jadi penggerak.
  2. Memahami Karakter Kader Sejati
    Lewat pengamatan langsung, siswa diajak melihat bagaimana tata tertib di Masjid Syuhada’ mengajarkan kedisiplinan, kerapian, dan kebersihan. Sandal yang tersusun rapi, saf salat yang teratur, hingga wajah-wajah ramah para jamaah—semua menjadi contoh nyata akhlak warga Muhammadiyah.
  3. Aksi Nyata Sedekah Ala Teologi Al-Ma’un
    Puncak dari pembelajaran adalah praktik sedekah. Satu per satu siswa bergantian memasukkan uang infak ke dalam kotak amal masjid. Guru menjelaskan bahwa ini adalah teladan dari surat Al-Ma’un: menolong orang lain, sekecil apa pun, adalah fondasi gerakan Muhammadiyah. Kedermawanan sejak dini tidak hanya diajarkan, tetapi langsung dicontohkan.

Harapan Besar

Di sela kegiatan, para guru menyampaikan harapan besar. Mereka tidak ingin siswa SD Mumtaz hanya bangga dengan status sebagai pelajar di sekolah Muhammadiyah.

Lebih dari itu, mereka ingin melahirkan generasi yang percaya diri menunjukkan identitas ke-Muhammadiyah-annya di mana pun berada.

“Kami ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak malu mengaku sebagai kader Muhammadiyah. Yang rajin ke masjid, yang ringan tangan bersedekah, dan kelak jadi penggerak kebaikan di masyarakat” tambah guru KMD lainnya.

Pulang dengan Semangat Baru

Kegiatan belajar di Masjid Syuhada’ tertutup dengan doa bersama di ruang utama masjid. Suara “aamiin” dari puluhan anak-anak menggema perlahan, terdengar tulus dan bersih.

Saat keluar dari masjid, wajah-wajah mereka tampak berbeda dari biasanya. Bukan sekadar lelah, tapi berbinar. Seperti membawa pulang sesuatu yang lebih dari sekadar materi pelajaran.

Yakni sebuah rasa memiliki, sebuah kebanggaan, dan sebuah janji kecil untuk menjadi “matahari yang menyinari semesta tanpa pamrih”.

Sebagaimana pernah dicita-citakan pendiri Muhammadiyah, semangat itu kini mulai bersemi di hati kecil mereka. Di Masjid Syuhada’ pagi itu. Di tengah buku paket dan infak yang mengalir.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 29/04/2026 10:00
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡