Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Apresiasi Progres Kemendikdasmen RI: Memperkuat Fondasi Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Apresiasi Progres Kemendikdasmen RI: Memperkuat Fondasi Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Buya Dr. H. Amirsyah Tambunan, M.A. Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI); Praktisi Pendidikan dan Dosen UIN Jakarta DPK Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)

Genap dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sekaligus mengapresiasi berbagai upaya pemerintah dalam membangun fondasi pendidikan nasional.

Dalam konteks ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia memiliki peran strategis dalam mendorong pemerataan akses, peningkatan mutu pembelajaran, serta penguatan karakter generasi muda Indonesia.

Di bawah kepemimpinan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, Kemendikdasmen terus berupaya menghadirkan arah dan harapan baru bagi dunia pendidikan.

Dua tahun pertama pemerintahan ini dapat dipandang sebagai periode penguatan fondasi, antara lain melalui program revitalisasi sekolah, penyaluran bantuan pendidikan, peningkatan kompetensi guru, serta pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran.

Berbagai upaya tersebut patut mendapatkan apresiasi dari seluruh elemen masyarakat. Apresiasi bukan berarti menutup mata terhadap persoalan yang masih ada. Tapi juga untuk memberikan pengakuan terhadap kemajuan yang tercapai sekaligus mendorong perbaikan secara berkelanjutan.

Sebagai praktisi pendidikan, saya memandang bahwa mengukur pembangunan pendidikan tidak cukup hanya melalui capaian program dan pembangunan fisik sekolah.

Lebih dari itu, keberhasilan pendidikan harus tercermin dalam meningkatnya kualitas pembelajaran, kesejahteraan guru, pemerataan kesempatan belajar, dan terbentuknya karakter peserta didik yang berintegritas.

Penguatan Fondasi dan Pemerataan Kualitas Pendidikan

Selama dua tahun terakhir, perlu mengarahkan pada penguatan fondasi pendidikan sebagai upaya memperkecil kesenjangan mutu antardaerah. Persoalan pendidikan di wilayah perkotaan tentu berbeda dengan kondisi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Karena itu, kebijakan pendidikan harus mampu menjawab kebutuhan nyata setiap satuan pendidikan sesuai dengan kondisi geografis, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat setempat.

Program revitalisasi sekolah menjadi salah satu langkah penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, layak, dan mendukung proses pembelajaran.

Namun, pembangunan sarana dan prasarana perlu diikuti dengan ketersediaan tenaga pendidik, fasilitas pembelajaran yang memadai, serta pengelolaan sekolah yang efektif.

Di samping itu, penguatan literasi dan numerasi harus terus menjadi prioritas. Kemampuan membaca, memahami informasi, berpikir kritis, dan menguasai keterampilan dasar matematika merupakan fondasi penting bagi peserta didik untuk menghadapi tantangan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Penyempurnaan kurikulum juga perlu dilakukan secara adaptif dengan memperhatikan perkembangan zaman tanpa mengabaikan kebutuhan dasar peserta didik.

Kurikulum yang baik bukan sekadar memenuhi tuntutan administratif, melainkan mampu mendorong pembelajaran yang bermakna, kreatif, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Kesejahteraan dan Profesionalisme Guru

Salah satu pilar utama yang perlu terus mendapatkan perhatian adalah kesejahteraan dan profesionalisme guru. Guru merupakan ujung tombak pendidikan yang berinteraksi langsung dengan peserta didik.

Karena itu, peningkatan kualitas pendidikan tidak akan berjalan optimal apabila tidak diiringi dengan perhatian serius terhadap kondisi para pendidik.

Berbagai langkah untuk mempercepat sertifikasi, meningkatkan kompetensi, dan memperjelas status kepegawaian guru merupakan bagian penting dari upaya memperkuat kualitas pendidikan nasional.

Optimalisasi pengangkatan guru melalui skema Aparatur Sipil Negara (ASN), termasuk Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), pelaksanaannya harus secara terencana, transparan, dan sesuai dengan kebutuhan tenaga pendidik di setiap daerah.

Meskipun demikian, persoalan guru masih memerlukan penyelesaian yang komprehensif. Kesenjangan kesejahteraan, distribusi guru yang belum merata, kekurangan tenaga pendidik di sejumlah wilayah, serta gelombang pensiun merupakan tantangan yang harus diantisipasi sejak dini.

Pemerintah perlu memastikan bahwa kebijakan peningkatan kesejahteraan benar-benar menjangkau guru yang membutuhkan, termasuk mereka yang bertugas di wilayah terpencil.

Pada saat yang sama, peningkatan kompetensi guru harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pelatihan, pendampingan, penguatan komunitas belajar, dan pemanfaatan teknologi pendidikan.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Penentu profesionalisme guru tidak hanya karena memiliki kemampuan menguasai materi pelajaran.  Namun juga dengan keterampilan pedagogik, keteladanan, kemampuan berkomunikasi, serta kecakapan dalam memahami kebutuhan dan karakter peserta didik.

Transformasi Digital dan Penguatan Karakter

Kemajuan teknologi menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan. Pemanfaatan teknologi digital dapat memperluas akses terhadap sumber belajar, meningkatkan efektivitas pembelajaran, dan membantu guru mengembangkan metode pengajaran yang lebih inovatif.

Namun, transformasi digital harus terlaksana secara tepat guna dan berkeadilan. Ketersediaan perangkat, jaringan internet, dan kemampuan menggunakan teknologi masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah.

Oleh sebab itu, digitalisasi pendidikan tidak boleh memperlebar kesenjangan antara sekolah yang memiliki fasilitas memadai dan sekolah yang masih menghadapi keterbatasan.

Lebih penting lagi, kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan pendidikan karakter. Kecerdasan intelektual dan keterampilan digital memerlukan nilai-nilai moral, etika, tanggung jawab, dan kepedulian sosial sebagai landasannya

Nilai-nilai Pancasila, kebudayaan lokal, serta budi pekerti luhur perlu ditanamkan melalui praktik pendidikan sehari-hari. Penguatan karakter tidak cukup disampaikan melalui teori di ruang kelas, tetapi harus diwujudkan melalui keteladanan guru, budaya sekolah yang positif, kedisiplinan, penghormatan terhadap perbedaan, dan kepedulian terhadap sesama.

Pendidikan pada hakikatnya bukan semata-mata proses mentransfer pengetahuan. Lebih dari itu adalah proses membentuk manusia yang beriman, berakhlak mulia, mandiri, bertanggung jawab, dan mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa.

Dalam perspektif ini, keluarga dan masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya dengan sekolah. Orang tua perlu membangun komunikasi yang baik dengan pendidik. Sedangkan lingkungan masyarakat juga harus mendukung terciptanya ruang tumbuh yang aman dan sehat bagi anak-anak.

Kolaborasi untuk Menjawab Tantangan Pendidikan

Pemerintah tidak bisa sendirian untuk menghadapi tantangan pendidikan nasional ke depan. Perlu ada sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah, satuan pendidikan, guru, orang tua, organisasi kemasyarakatan, perguruan tinggi, dunia usaha, serta seluruh pemangku kepentingan.

Perlu membangun kolaborasi melalui pembagian peran yang jelas, pertukaran informasi, pengawasan yang konstruktif. Selain itu, juga perlu adanya evaluasi kebijakan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat. Setiap program pendidikan juga harus disertai indikator keberhasilan yang terukur agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan.

Di sisi lain, kecemasan terhadap berbagai persoalan pendidikan perlu direspons dengan langkah nyata, bukan dengan sikap pesimistis.

Persoalan keterbatasan anggaran, ketimpangan kualitas sekolah, kekurangan guru, hingga perubahan teknologi. Hal ini merupakan tantangan bersama untuk dapat mengatasinya dengan perencanaan matang, inovasi, dan kerja sama.

Pemerintah perlu membuka ruang partisipasi masyarakat agar kritik dan masukan dapat menjadi bahan perbaikan kebijakan. Dengan demikian, apresiasi terhadap capaian pemerintah dan sikap kritis terhadap persoalan yang belum terselesaikan dapat berjalan beriringan.

Menatap Indonesia Emas 2045

Dua tahun pertama pemerintahan Prabowo Subianto merupakan momentum untuk memperkuat fondasi pembangunan pendidikan nasional.

Berbagai program yang telah berjalan patut diapresiasi sepanjang memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas pembelajaran, kesejahteraan guru, pemerataan akses pendidikan, dan pembentukan karakter peserta didik.

Ke depan, Kemendikdasmen perlu menjaga kesinambungan kebijakan, memperkuat evaluasi berbasis data, dan memastikan bahwa setiap program benar-benar menjawab kebutuhan sekolah serta masyarakat.

Keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari besarnya anggaran atau banyaknya program yang dilaksanakan, tetapi harus dilihat dari perubahan nyata yang dirasakan oleh guru, peserta didik, orang tua, dan masyarakat.

Menuju Indonesia Emas 2045, pendidikan harus menjadi investasi strategis. Investasi ini mencakup membangun sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, berkarakter, dan berkeadaban. Karena itu, apresiasi terhadap progres Kemendikdasmen hendaknya menjadi energi positif untuk memperkuat komitmen bersama dalam memperbaiki pendidikan nasional.

Dengan sinergi dan kolaborasi yang berkelanjutan, kita optimistis bahwa berbagai tantangan pendidikan dapat diatasi secara bertahap. Pendidikan yang berkualitas, merata, dan berkarakter merupakan fondasi penting bagi terwujudnya Indonesia yang maju, adil, makmur, dan bermartabat.

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 30/10/2026 11:37
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu