Menjawab tantangan pendidikan di masa depan, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris SMP/MTs Muhammadiyah Kota Surabaya menggelar workshop. Bertajuk “Pop Culture as Direction for Learning in the 22nd Century”, kegiatan yang berlangsung di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya pada Sabtu (2/5/2026).
Tujuannya membekali para pendidik agar mampu memanfaatkan tren budaya populer sebagai media ajar yang efektif. Dalam penjelasannya, Maria Elen Veronica, Pembina MGMP sekaligus Kepala SMP Muhammadiyah 3 Surabaya menjelaskan posisi pop culture dalam pembelajaran Bahasa inggris. Pop culture bukan sekadar tren sesaat, tapi pintu masuk menuju pembelajaran yang bermakna.
“Anak-anak kita hidup dengan musik, gim, dan media sosial. Jika guru bisa mengemasnya dengan baik, kelas bahasa Inggris bukan lagi beban. Melainkan ruang yang menggembirakan sekaligus melatih nalar kritis mereka,” kata Elen.
Dalam sesi materi, terungkap bahwa pop culture menawarkan keunggulan kontekstual. Siswa tidak lagi menghafal teks kaku, melainkan belajar dari lirik lagu atau dialog film yang mereka sukai. Namun, Elen mengingatkan agar guru tetap berperan sebagai kurator yang bijak. Konten yang dibawa ke kelas harus tetap disaring agar selaras dengan nilai adab dan karakter.
“Dunia siswa hari ini adalah musik, film, dan media sosial. Kita tidak bisa menutup mata dari itu. Tugas guru bukan lagi sekadar memberi materi, tapi menjadi kurator cerdas yang mampu mengubah tren budaya populer menjadi ruang belajar bahasa Inggris yang menyenangkan, bermakna, dan tetap beradab,” lanjut Elen.
Sebelumnya, workshop ini dibuka oleh Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kota Surabaya, Dikky Shadqomullah. Dalam arahannya, Dikky memuji langkah MGMP yang dinilai berani keluar dari zona nyaman. Menurutnya, inovasi ini membuktikan bahwa pendidikan Muhammadiyah selalu relevan dengan perkembangan zaman.
“MGMP ini tidak terjebak rutinitas. Memilih tema pop culture adalah langkah cerdas karena itulah dunia yang dihadapi siswa hari ini,” ungkap Dikky.
Dukungan serupa datang dari Atiko, M.,MPd, MM, Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Ia menilai pendekatan berbasis budaya popular -seperti film, musik, dan media sosial–, akan membuat materi bahasa Inggris lebih mudah diterima oleh generasi muda.
Sebagai tindak lanjut, workshop ini menghasilkan kesepakatan pembentukan komunitas belajar antar-guru. Melalui wadah ini, para pengajar akan saling berbagi konten ajar berbasis budaya populer yang kreatif namun tetap berpijak pada capaian kurikulum yang ada.
Dengan semangat ini, MGMP Bahasa Inggris Muhammadiyah Surabaya optimis mampu mencetak generasi yang melek media namun tetap berkarakter kuat.





0 Tanggapan
Empty Comments