Inovasi teknologi tepat guna menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga kelangsungan usaha tani di tengah tuntutan efisiensi biaya produksi. Menjawab tantangan tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan mesin pemisah cengkih semiotomatis yang diberi nama pada Senin (18/5/2026).
Inovasi ini dirancang sebagai solusi untuk membantu petani cengkih di Dusun Karanggongso, Trenggalek, yang selama ini menghadapi kendala tingginya biaya tenaga kerja dan lamanya proses panen manual.
Mesin ini merupakan karya dari Risqi Andy Sulbi Sasmita bersama timnya dari Program Studi Teknik Industri UMM angkatan 2022. Pada proses tradisional, pemisahan bunga dan tangkai cengkih memakan waktu yang cukup lama, dengan kapasitas pengerjaan manual manusia maksimal dua kilogram per jam.
Risqi menjelaskan bahwa mesin ini dirancang secara khusus untuk meningkatkan kapasitas produksi petani dengan biaya pengadaan alat yang terjangkau.
“Tujuan utama kami memang untuk meningkatkan kapasitas produksi petani hingga berkali-kali lipat dibandingkan cara manual. Apalagi, alat ini kami proyeksikan memiliki harga jual yang jauh lebih kompetitif, yaitu sekitar enam hingga tujuh juta rupiah, dibandingkan mesin serupa di pasaran yang bisa mencapai belasan juta,” ujar Risqi.
Melalui Clove Separator EVO, kapasitas pengolahan dapat mencapai 50 kilogram per jam dengan menggunakan satu hingga dua operator. Sistem kerja mesin ini dimulai saat bunga cengkih dimasukkan ke dalam corong, melewati rotor penggilingan, kemudian disaring menggunakan sistem ayakan bergetar untuk memisahkan bagian bunga dan tangkai secara utuh.
Tim mahasiswa UMM memastikan rancangan alat ini telah memperhatikan aspek kenyamanan serta keselamatan pengguna di bawah arahan dosen pembimbing.

Alat yang dikembangkan melalui proyek mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu (PST) ini juga didesain agar mudah dalam perawatan harian. Sesuai rencana, purwarupa Clove Separator EVO akan dikirim ke Desa Tasikmadu pada bulan Juni mendatang untuk menjalani uji coba lapangan langsung saat masa panen raya.
Risqi berharap karya dari mahasiswa Kampus Putih UMM ini dapat mendorong semangat sivitas akademika lainnya dalam membantu memecahkan persoalan riil di masyarakat.
“Kami berharap mahasiswa lain tidak perlu mencari ide terlalu jauh, cukup peka dengan kebutuhan di sekitar kita. Sebab, sekecil apa pun inovasi yang kita buat sangat berarti bagi masyarakat,” pungkasnya.
Kehadiran Clove Separator EVO menjadi salah satu bentuk hilirisasi riset di lingkungan perguruan tinggi yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Kolaborasi antara kepekaan sosial mahasiswa dan dukungan fasilitas kampus diharapkan mampu menghadirkan teknologi tepat guna yang berdampak langsung pada peningkatan ekonomi kerakyatan.
Inovasi ini diharapkan bisa mendapatkan dukungan lebih lanjut untuk diproduksi secara massal guna menjangkau petani cengkih di berbagai wilayah lainnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments