Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Basic Science Economics: Ketika Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi Tak Sekadar Bicara Angka

Iklan Landscape Smamda
Basic Science Economics: Ketika Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi Tak Sekadar Bicara Angka
Konsep Prof. Didin Fatihudin
Oleh : Prof. Dr. Didin Fatihudin, SE, M.Si, CIRR Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Manajemen, Universitas Muhammadiyah Surabaya

Ada kalanya kita perlu kembali ke bangku kuliah. Bukan untuk mengulang ujian, melainkan untuk memeriksa kembali ingatan: apa sebenarnya yang kita pelajari ketika pertama kali mengenal ilmu ekonomi, manajemen, dan akuntansi?

Di tengah derasnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), big data, digitalisasi, dan berbagai teori baru, pertanyaan-pertanyaan dasar itu justru menjadi semakin penting.

Tulisan ini adalah upaya sederhana untuk mereproduksi kembali ingatan tentang basic science di Fakultas Ekonomi dan Bisnis—dalam perspektif saya, bukan hasil reproduksi Artificial Intelligence.

Apa itu ilmu ekonomi?

Secara sederhana, ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia dan masyarakat menggunakan sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas.

Sumber daya atau faktor produksi tersebut antara lain sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM), modal atau finansial, serta teknologi.

Karena sumber daya terbatas, manusia harus menentukan pilihan. Mana yang harus diprioritaskan? Mana yang harus dikorbankan? Bagaimana sumber daya tersebut digunakan secara efisien agar menghasilkan pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat?

Di sinilah ilmu ekonomi bekerja: mempelajari pilihan di tengah keterbatasan.

Dalam kajian ekonomi, pembahasan secara umum terbagi menjadi dua ranah besar, yaitu makroekonomi dan mikroekonomi.

Makroekonomi melihat perekonomian secara agregat. Di dalamnya dibahas kebijakan fiskal dan moneter, pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, inflasi, suku bunga, perpajakan, pasar barang, pasar uang, pasar tenaga kerja, hingga pasar faktor produksi.

Sementara mikroekonomi lebih banyak melihat perilaku unit-unit ekonomi seperti rumah tangga dan perusahaan. Pokok bahasannya antara lain permintaan dan penawaran, struktur pasar, teori harga, teori produksi, dan teori biaya.

Dari sini kita memahami bahwa ekonomi bukan sekadar soal uang. Ekonomi pada dasarnya adalah ilmu tentang pilihan, keterbatasan, efisiensi, dan kesejahteraan.

Lalu, apa itu ilmu manajemen?

Jika ekonomi berbicara tentang bagaimana sumber daya yang terbatas digunakan secara efisien, manajemen berbicara lebih jauh: bagaimana manusia mengorganisasikan sumber daya tersebut untuk mencapai tujuan.

Manajemen merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana individu atau kelompok bekerja sama, berinteraksi, dan membangun relasi melalui organisasi atau lembaga untuk mencapai tujuan bersama.

Dalam praktiknya, manajemen membutuhkan proses perencanaan, pengorganisasian, penganggaran, pelaksanaan, serta pengendalian dan evaluasi.

Dahulu kita mengenalnya melalui konsep planning, organizing, budgeting, actuating, dan controlling—POBAC.

Merencanakan apa yang hendak dicapai. Mengorganisasikan siapa melakukan apa. Mengalokasikan anggaran. Menggerakkan orang untuk bertindak. Kemudian mengawasi, memonitor, dan mengevaluasi hasilnya.

Karena objeknya adalah organisasi dan manusia, ruang lingkup manajemen berkembang sangat luas.

Ada manajemen operasi dan produksi, manajemen sumber daya manusia, manajemen keuangan, manajemen pemasaran, hingga kajian perilaku konsumen.

Perkembangan zaman kemudian melahirkan berbagai cabang dan pendekatan baru. Manajemen tidak lagi hanya berbicara tentang bagaimana sebuah perusahaan bekerja, tetapi juga bagaimana organisasi menghadapi perubahan, ketidakpastian, teknologi, krisis, bahkan kecerdasan buatan.

Pada akhirnya, manajemen tetap kembali pada pertanyaan fundamental: Bagaimana manusia bekerja bersama untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien?

Bagaimana dengan ilmu akuntansi?

Akuntansi sering kali identik dengan angka. Padahal akuntansi tidak berhenti pada angka.

Akuntansi merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana data keuangan dikumpulkan, dicatat, diklasifikasikan, diolah, dan disajikan menjadi informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Angka bukan tujuan akhir. Angka adalah bahasa yang kemudian diterjemahkan menjadi informasi.

Informasi tersebut dibutuhkan oleh manajemen, pemilik organisasi, investor, pemerintah, kreditor, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Karena kebutuhan informasi terus berkembang, ilmu akuntansi pun mengalami diversifikasi. Kita mengenal akuntansi manajemen, akuntansi keuangan, akuntansi perpajakan, akuntansi syariah, akuntansi sektor publik, akuntansi perbankan, dan berbagai bidang pengembangan lainnya.

Dengan demikian, akuntansi sesungguhnya tidak sekadar menjawab pertanyaan: berapa?

Lebih penting dari itu, akuntansi membantu menjawab: apa arti angka tersebut dan keputusan apa yang seharusnya diambil?

Tiga Ilmu, Satu Realitas

Ekonomi, manajemen, dan akuntansi memang memiliki objek, pendekatan, dan tradisi keilmuan yang berbeda.

Namun ketiganya tidak hidup dalam ruang yang terpisah. Ekonomi berbicara tentang keterbatasan dan pilihan.

Manajemen berbicara tentang bagaimana sumber daya dan manusia diorganisasikan untuk mencapai tujuan.

SMPM 5 Pucang SBY

Akuntansi menyediakan informasi untuk membantu organisasi memahami kondisi dan mengambil keputusan.

Ketiganya bertemu dalam satu realitas: kehidupan manusia dan organisasi. Karena itu, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis tidak cukup hanya menghafal definisi. Yang jauh lebih penting adalah memahami hubungan antarkonsep dan kemampuan membaca realitas.

Ilmu terus berubah Di sinilah kita memasuki wilayah filsafat ilmu. Ilmu tidak pernah berhenti berkembang. Ia bergerak mengikuti perkembangan zaman, teknologi, kebutuhan manusia, dan perubahan peradaban.

Ilmu ekonomi, manajemen, dan akuntansi sebagai ilmu utama, cabang ilmu, maupun ranting-ranting keilmuannya juga terus mengalami perkembangan.

Perubahan tersebut berlangsung seiring dinamika kehidupan manusia dalam berbagai bidang—politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, serta sains dan teknologi.

Teori yang dahulu dianggap mapan dapat diuji kembali oleh realitas baru.

Teori lama dapat didukung oleh penelitian baru. Bisa pula disempurnakan. Bahkan tidak tertutup kemungkinan ditinggalkan ketika bukti empiris menunjukkan kelemahannya.

Karena itu, teori terdahulu tidak otomatis menjadi tidak penting hanya karena muncul teori baru.

Teori lama adalah pijakan. Riset baru adalah pengujian. Ilmu berkembang melalui dialog keduanya. Di sinilah kejujuran ilmiah menjadi sangat penting.

Kebenaran ilmiah tidak boleh dibangun berdasarkan kepentingan pribadi, popularitas, jabatan, atau keinginan untuk membenarkan pendapat sendiri.

Seorang ilmuwan harus berani menyampaikan hasil penelitian sebagaimana adanya. Jika hasil penelitian mendukung teori terdahulu, katakan mendukung.

Jika hasil penelitian menunjukkan keterbatasan teori terdahulu, katakan demikian. Jika teori tersebut perlu disempurnakan, sempurnakan.

Dan jika bukti ilmiah mengharuskan kita meninggalkannya, kita harus cukup rendah hati untuk mengakuinya.

Bisakah ilmu bebas nilai? Pertanyaan berikutnya menjadi lebih menarik: bisakah ilmu benar-benar bebas nilai?

Saya cenderung mengatakan: tampaknya tidak sepenuhnya. Memang, ilmu membutuhkan objektivitas, rasionalitas, metodologi, data, dan prosedur ilmiah. Tetapi ilmu diciptakan, dikembangkan, dan digunakan oleh manusia.

Pilihan mengenai apa yang diteliti, mengapa penelitian itu dilakukan, siapa yang memperoleh manfaat, bagaimana hasil penelitian digunakan, dan untuk tujuan apa teknologi dikembangkan, pada akhirnya selalu bersentuhan dengan nilai.

Ilmu ekonomi, misalnya, tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi. Ia juga berhadapan dengan pertanyaan tentang pemerataan dan kesejahteraan.

Manajemen tidak hanya berbicara tentang produktivitas. Ia juga berhadapan dengan manusia sebagai subjek organisasi.

Akuntansi tidak hanya berbicara tentang pencatatan angka. Ia juga berhadapan dengan transparansi, akuntabilitas, dan kejujuran informasi.

Maka ilmu tidak cukup hanya benar secara metodologis. Ilmu juga perlu dipertanyakan: untuk apa kebenaran itu digunakan? Di sinilah ilmu bertemu dengan etika.

Dari Angka Menuju Kemanusiaan

Mungkin inilah alasan mengapa kita perlu sesekali kembali mengingat basic science.

Di tengah AI yang mampu menghitung lebih cepat, mengolah data lebih besar, dan menemukan pola yang tidak mudah dilihat manusia, kemampuan manusia tidak boleh berhenti pada kemampuan menghitung.

Mahasiswa ekonomi perlu belajar berpikir ekonomis, tetapi tetap memiliki kepekaan sosial. Mahasiswa manajemen perlu mampu mengelola organisasi, tetapi tidak kehilangan pemahaman bahwa organisasi terdiri atas manusia.

Mahasiswa akuntansi perlu mampu membaca angka, tetapi juga harus memahami bahwa di balik angka terdapat keputusan, kepentingan, dan dampak bagi manusia.

AI mungkin dapat membantu mengolah data.

Tetapi pertanyaan tentang benar dan salah, adil dan tidak adil, bermanfaat atau merugikan, serta untuk siapa ilmu digunakan tetap membutuhkan manusia.

Karena itu, kembali ke basic science bukan berarti kembali ke masa lalu.

Justru sebaliknya. Semakin maju ilmu pengetahuan, semakin penting kita memahami fondasinya. Ekonomi mengajarkan kita tentang pilihan dalam keterbatasan.

Manajemen mengajarkan kita tentang bekerja bersama untuk mencapai tujuan. Akuntansi mengajarkan kita tentang informasi sebagai dasar pengambilan keputusan.

Filsafat ilmu mengingatkan kita bahwa semua pengetahuan harus terus diuji, dikritisi, dan dipertanggungjawabkan. Dan pada akhirnya, ilmu bukan hanya tentang seberapa jauh manusia mampu mengetahui sesuatu.

Ilmu juga tentang seberapa bijak manusia menggunakan pengetahuan yang dimilikinya. Semoga kita tidak lupa dengan basic science. (*)

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu