Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Belajar dari Yahya bin Yahya: Pentingnya Menjadwalkan Waktu untuk Ilmu Syar’i

Iklan Landscape Smamda
Belajar dari Yahya bin Yahya: Pentingnya Menjadwalkan Waktu untuk Ilmu Syar’i
Belajar dari Yahya bin Yahya: Pentingnya Menjadwalkan Waktu untuk Ilmu Syar’i
Oleh : Ima Luthfiningrum Anggota Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Sidoarjo, Pengajar Pondok Pesantren Al Fattah Sidoarjo

Sebuah kisah klasik dari Andalusia memberikan tamparan keras bagi kita di era modern. Saat itu, Yahya bin Yahya al-Laitsi tengah duduk di majelis ilmu Imam Malik. Tiba-tiba suasana menjadi riuh. Seseorang berteriak, “Gajah besar datang!”

Hampir seluruh jamaah berhamburan keluar. Maklum, gajah merupakan hewan langka di Andalusia. Namun, Yahya tetap duduk tenang di tempatnya. Imam Malik pun bertanya heran, “Mengapa engkau tidak ikut melihat? Padahal gajah seperti itu tidak ada di negerimu.”

Jawaban Yahya begitu berkelas:

“Saya datang jauh-jauh dari Andalusia untuk belajar adab dan ilmu dari Anda, bukan untuk melihat gajah.”

Kekaguman Imam Malik berbuah julukan Aaqilu Ahli Andalus (orang paling cerdas di Andalusia) bagi Yahya. Sejarah kemudian mencatat, ia menjadi ulama besar di tanah kelahirannya.

Kisah tersebut menjadi cermin bagi kehidupan saat ini. Jika dahulu jamaah tergoda oleh seekor gajah, kini “gajah-gajah” itu hadir dalam bentuk lain: drama Korea, scrolling media sosial tanpa henti, hingga agenda hiburan yang tersusun rapi.

Ironisnya, banyak orang memiliki jadwal rutin hiburan, tetapi tidak memiliki waktu untuk menghadiri majelis ilmu. Alasan “sibuk” sering dijadikan pembenaran, seolah kebahagiaan hanya terletak pada kenikmatan dunia.

Padahal Rasulullah SAW telah bersabda:

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu syar’i maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. “(HR Muslim)

Mencari nafkah memang kewajiban. Namun, jika hidup hanya berputar pada makan, bekerja, dan hiburan, maka manusia kehilangan makna keberadaannya.

Allah SWT memberikan peringatan dalam Al-Qur’an Surah Muhammad ayat 12 tentang orang-orang yang hanya bersenang-senang dan makan seperti binatang ternak.

Ahmad bin Hanbal memberikan perumpamaan yang tajam:

“Manusia itu lebih membutuhkan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman di butuhkan sehari dua atau tiga kali,sedangkan ilmu dibituhkan disetiap waktu. Kalau bukan karena ilmu manusia seperti binatang. ”

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Tanpa ilmu, manusia kehilangan arah. Tanpa ilmu, kehidupan berjalan tanpa makna.

Kesibukan bukan alasan untuk jauh dari ilmu. Umar bin Khattab memberikan teladan luar biasa dalam manajemen waktu.

Ia memiliki tetangga dari kaum Anshar. Karena keduanya harus bekerja, mereka sepakat untuk bergantian menghadiri majelis Rasulullah SAW. Siapa pun yang hadir, akan menyampaikan ilmu kepada yang tidak hadir.

Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa riwayat ini mengajarkan pentingnya tidak meninggalkan ilmu meski dalam kesibukan.

Lalu, bagaimana memulai?

1. Buat Jadwal Khusus
Masukkan jadwal thalabul ilmi dalam kalender, sebagaimana jadwal kerja atau aktivitas penting lainnya.

2. Budayakan Literasi
Luangkan waktu untuk membaca buku agama atau mendengarkan kajian yang berkualitas.

3. Bangun Majelis Keluarga
Hidupkan suasana belajar di rumah bersama keluarga. Sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al-Ahzab: 34 untuk mengingat dan mempelajari ayat-ayat Allah serta sunnah Nabi di dalam rumah.

Jangan sampai di usia senja kita masih terbata-bata membaca Al-Qur’an atau tidak memahami petunjuk hidup yang Allah berikan.

Menuntut ilmu bukan menunggu waktu luang, melainkan tentang meluangkan waktu.

Revisi Oleh:
  • Satria - 19/04/2026 11:08
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡