Ada masa ketika kita merasa diri ini begitu rapi: ingatan tertata, langkah terukur, dan hal-hal kecil tak pernah luput dari genggaman. Namun kini, entah sejak kapan, ada yang perlahan berubah. Bukan sesuatu yang tiba-tiba runtuh, melainkan seperti benang halus yang satu per satu terlepas tanpa kita sadari.
Cerita dua sejoli yang berusia lebih dari setengah abad ini bisa jadi pelajaran. Mereka kini mulai sering lupa. Bukan lupa yang besar, yang dramatis, yang membuat orang lain panik atau khawatir berlebihan. Justru lupa-lupa kecil, yang tampak sepele, namun diam-diam menggerogoti rasa percaya diri. Lupa yang datang tanpa permisi, lalu meninggalkan jejak penyesalan yang sulit diabaikan.
Entah sudah untuk keberapa kali mereka terjebak dalam kelupaan. Yang terakhir, saat mereka pulang dari pelesir. Perjalanan yang biasa saja, tidak tergesa-gesa, tidak pula penuh beban. Mereka naik kereta api seperti biasa—duduk, menikmati perjalanan, sesekali melihat keluar jendela, membiarkan pikiran mengembara.
Saat turun, mereka merasa semuanya sudah beres. Barang bawaan mereka tidak banyak: satu travel bag dan satu tas biasa berisi camilan. Tidak ada yang terasa kurang.
Mereka melangkah keluar stasiun dengan tenang, memesan taksi online, lalu duduk santai sepanjang perjalanan pulang. Sampai di titik tertentu, mendekati rumah, tiba-tiba seperti ada yang mengetuk kesadaran mereka dari dalam: tas selempang.
Seketika dada mereka seperti ditarik. Ada jeda sunyi beberapa detik sebelum pikiran mereka benar-benar menyadari bahwa tas itu tertinggal di kereta yang baru saja mereka tinggalkan.
Mereka mencoba mengingat ulang, mencari-cari dalam ingatan yang mendadak terasa kabur. Namun semakin dipaksa, semakin jelas bahwa tas itu memang tidak bersama mereka.
Tas itu tidak mahal. Tas selempang kecil, dua kantong, warna kombinasi cokelat-hitam. Isinya pun sederhana: power bank putih, headset, buku catatan, dan pulpen. Tidak ada barang berharga secara materi.
Namun ada satu hal yang membuat kehilangan itu terasa lebih dalam. Tas itu adalah hadiah dari anak sulung mereka—hadiah ulang tahun. Di situlah letak sesalnya. Bukan pada benda yang hilang, tetapi pada makna yang ikut terbawa pergi. Ada rasa bersalah yang sulit dijelaskan, seolah mereka tidak cukup menjaga sesuatu yang diberikan dengan penuh kasih.
Mereka sempat berharap, barangkali tas itu ditemukan. Barangkali ada penumpang lain atau petugas yang menyimpannya. Namun pihak kereta menyampaikan tidak ada laporan penemuan, tidak ada serah terima. Tas itu benar-benar hilang. Dan mereka hanya bisa menerima, meski tidak sepenuhnya ikhlas.
Ini bukan yang pertama. Sebelumnya, dalam kejadian yang jauh lebih sederhana, sang suami pernah membeli sesuatu di toko kelontong. Transaksi berjalan normal: membayar, menerima kembalian, bahkan sempat berbincang ringan dengan penjualnya. Ia pulang seperti biasa.
Namun sesampainya di rumah, ada yang terasa janggal. Setelah beberapa saat, barulah sang suami sadar: barang yang dibelinya tidak ia bawa pulang. Ia kembali ke toko itu. Penjualnya menyambut dengan senyum yang seolah sudah mengerti.
“Lho, kok barangnya nggak dibawa, Pak?”
Sang suami hanya bisa tersenyum kecut. Tangan refleks menggaruk kepala—sebuah gestur klasik saat kita kehabisan alasan untuk menjelaskan kecerobohan kecil kita sendiri.
***
Sang istri pun tak jauh berbeda. Suatu hari, ia dan suaminya singgah di sebuah warung soto langganan. Warung sederhana di pinggir jalan, dengan aroma kuah hangat yang menggoda sejak dari luar. Seperti biasa, mereka memesan dua porsi soto dengan nasi setengah—kebiasaan lama yang terasa pas di perut dan di hati.
Mereka makan lahap. Sesekali saling bercerita tentang rencana hari itu, tentang pekerjaan, juga hal-hal ringan yang membuat suasana tetap hangat. Sendok beradu pelan dengan mangkuk, uap kuah mengepul, dan waktu berjalan begitu biasa—tanpa tanda apa pun.
Setelah selesai, mereka berdiri, melangkah keluar, lalu menuju kendaraan untuk melanjutkan aktivitas. Semua terasa wajar. Terlalu wajar, justru.
Tiba-tiba, dari belakang terdengar suara seorang perempuan, agak tergesa namun tetap sopan, “Bu, makannya belum bayar.”
Langkah sang istri terhenti seketika. Waktu seperti tersentak mundur. Wajahnya memerah, campuran antara kaget dan malu. Spontan ia berucap, “Astaghfirullah…”
Ia segera berbalik, meminta maaf berulang kali, lalu merogoh tasnya dengan gerakan sedikit gugup, mencari lembaran uang yang seharusnya tadi sudah ia keluarkan. Tangannya sedikit gemetar—bukan karena tidak mampu membayar, tetapi karena rasa tak enak yang sulit dijelaskan. Hal kecil, namun terasa besar di dalam hati.
Ada lagi kejadian lain. Suatu ketika, mereka bertakziah ke rumah seorang teman. Sejak dari rumah, sang istri sudah menyiapkan amplop berisi uang duka. Ia bahkan meletakkannya di tas bagian depan, agar mudah diambil—sebuah tanda bahwa ia tidak ingin lupa.
Suasana rumah duka itu tenang, dipenuhi bisik-bisik doa dan wajah-wajah yang menyimpan kesedihan. Mereka duduk, berbincang sebentar, menyampaikan belasungkawa, lalu bersiap pamit.
Namun saat berdiri dan melangkah keluar, sang istri justru nyelonong begitu saja, melewati momen yang seharusnya ia siapkan sejak awal.
Sang suami, yang berjalan di sampingnya, perlahan mencolek bahunya. Ia menyebut namanya dengan pelan, memberi isyarat halus—seolah mengingatkan tanpa ingin mempermalukan.
Sang istri tersentak. “Astaghfirullah…” ucapnya lirih, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri.
Ia segera membuka tas, mengambil amplop yang sejak tadi sudah disiapkan dengan rapi, lalu kembali mendekat untuk menyerahkannya. Senyum kecil dipaksakan, menutupi rasa kikuk yang muncul tiba-tiba.
Hal-hal seperti ini, jika terjadi sekali, mungkin bisa dianggap kebetulan. Dua kali, mungkin masih bisa dimaklumi. Namun ketika mulai berulang, ia berubah menjadi tanda tanya yang diam-diam mengusik:
Ada apa dengan diri ini?
Yang lebih menggelisahkan justru terjadi dalam ruang yang paling sakral: saat salat.
Di sana, di tengah usaha untuk khusyuk, justru sering muncul keraguan yang mengganggu. Rakaat ke berapa sekarang? Tiga atau empat? Sudah tasyahud awal atau belum?
Tubuh tetap bergerak, bacaan tetap terucap, tetapi pikiran seperti tertinggal di belakang. Ada jeda. Ada kekosongan yang sulit dijelaskan.
Bukan lupa gerakan, melainkan kehilangan jejak. Seolah berjalan dalam ibadah, tetapi tidak sepenuhnya hadir di dalamnya.
Ia mencoba mengingat. Mengulang dalam kepala. Mengira-ngira dengan keyakinan yang tidak utuh. Kadang memilih melanjutkan dengan ragu, kadang berhenti sejenak lebih lama dari biasanya—mencari kepastian yang tak kunjung datang.
Dan setelah salam, yang tersisa hanyalah pasrah. Istighfar terucap pelan.
Bukan hanya karena khawatir ada yang kurang dalam salat, tetapi juga karena merasa ada yang kurang dalam diri—dalam kesadaran, dalam kehadiran sebagai manusia yang seharusnya utuh, namun kini terasa terpecah-pecah.
Kelupaan-kelupaan ini mungkin tampak kecil. Tidak mengubah arah hidup secara drastis. Tidak pula membuat dunia runtuh.
Namun ia seperti cermin. Cermin yang memantulkan sesuatu yang lebih dalam: bahwa diri ini tidak lagi setajam dulu, tidak lagi seutuh dulu dalam mengingat, dalam memperhatikan, dalam benar-benar hadir.
Dan mungkin, di situlah letak kegelisahan yang sebenarnya.
Bukan pada apa yang hilang, melainkan pada apa yang perlahan berubah. Tanpa kita benar-benar siap menerimanya.
***
Barangkali, semua ini bukan sekadar rangkaian kejadian acak. Ada satu kesadaran yang perlahan muncul di benak mereka—datang tidak sekaligus, tapi menetes sedikit demi sedikit, seperti air yang akhirnya memenuhi gelas.
Mereka mulai sadar, bahwa apa yang saya alami hari ini… dulu pernah saya lihat pada orang lain. Pada teman-teman yang lebih senior.
Dulu, ketika mereka masih merasa muda—lebih sigap, lebih ingat, lebih percaya diri—mereka sering menyaksikan mereka lupa. Lupa menaruh barang, lupa membawa sesuatu, lupa waktu, bahkan lupa hal-hal yang menurut saya saat itu terasa sederhana.
Ada yang lupa kacamata yang sebenarnya sedang dipakai. Ada yang sibuk mencari jam tangan yang ternyata sudah melingkar di pergelangan. Ada pula yang berkali-kali kembali ke suatu tempat hanya untuk memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah dilakukan.
Saat itu, mereka mungkin hanya tersenyum. Bahkan, diam-diam merasa, “Ah, itu karena sudah tua.” Kalimat yang ringan, tapi ternyata menyimpan makna yang dalam.
Kini, tanpa mereka sadari, mereka sedang berjalan di jalur yang sama. Mengalami apa yang dulu hanya mereka amati. Menjadi bagian dari fase kehidupan yang dulu terasa jauh, tapi sekarang begitu dekat. Bahkan melekat.
Dan di titik ini, mereka mulai bertanya, bukan lagi “kenapa saya sering lupa?”, tetapi “apa yang seharusnya saya lakukan menghadapi fase ini?”
Dalam perspektif Islam, menua bukan sekadar proses biologis. Ia adalah perjalanan ruhani. Setiap fase kehidupan memiliki maknanya sendiri, dan masa menua adalah fase kembali—kembali kepada kesadaran akan keterbatasan, dan pada akhirnya, kembali kepada Allah.
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa manusia akan dikembalikan kepada usia yang lemah, di mana pengetahuan yang dulu dimiliki perlahan memudar. Bukan sebagai bentuk kehinaan, tetapi sebagai pengingat bahwa manusia, sekuat apa pun, tetap makhluk yang terbatas.
Kelupaan, dalam hal ini, bukan cuma penurunan daya ingat. Kelupaaan bisa menjadi tanda, bahwa kita diminta untuk mengurangi ketergantungan pada diri sendiri, dan mulai memperbesar ketergantungan kepada Allah.
Maka, apa yang seharusnya dilakukan?
Pertama, memperbanyak dzikir dan mengingat Allah. Jika ingatan terhadap dunia mulai melemah, maka kuatkan ingatan kepada Sang Pencipta. Ironis jika kita masih bisa mengingat banyak hal duniawi, tapi lalai mengingat Allah.
Maka ketika kelupaan datang, jadikan itu sebagai pintu untuk lebih sering berzikir. Mengucap tasbih, tahmid, takbir, dan istighfar. Bukan hanya di lisan, tetapi di hati.
Kedua, menerima dengan lapang dada. Menua adalah sunnatullah. Tidak ada yang bisa menghindarinya. Menolak hanya akan menambah kegelisahan. Sebaliknya, menerima dengan ikhlas justru akan menghadirkan ketenangan. Bahwa lupa adalah bagian dari proses, bukan kegagalan.
Ketiga, menjaga ibadah dengan lebih sadar. Jika dalam salat kita mulai lupa rakaat, maka itu bukan alasan untuk putus asa, tetapi justru panggilan untuk lebih menghadirkan hati.
Memperbanyak doa sebelum salat, memperlambat gerakan, dan tidak tergesa-gesa. Bahkan ketika ragu, Islam telah mengajarkan sujud sahwi sebagai bentuk kasih sayang syariat terhadap keterbatasan manusia.
Keempat, memperbanyak istighfar. Kelupaan bisa jadi bukan hanya faktor usia, tetapi juga karena hati yang terlalu penuh dengan urusan dunia. Istighfar membersihkan hati, menenangkan pikiran, dan membuka kembali ruang kesadaran yang mungkin selama ini tertutup.
Kelima, memperbanyak amal dan mempersiapkan bekal. Fase menua adalah waktu terbaik untuk memperbanyak kebaikan. Bukan lagi tentang mengejar dunia, tetapi menyiapkan pulang. Setiap kelupaan seakan mengingatkan: bahwa yang akan kita bawa bukanlah benda-benda yang sering kita lupa itu, tetapi amal yang kita lakukan.
Kini mereka mulai memahami, bahwa lupa bukan cuma kehilangan ingatan. Kelupaan adalah panggilan. Panggilan untuk melambat. Untuk merenung. Untuk tidak lagi terlalu sibuk menggenggam dunia yang memang pada akhirnya akan terlepas.
Dan mungkin, di balik setiap kelupaan itu, ada pesan lembut dari Allah: Bahwa yang paling penting untuk diingat… bukanlah barang yang tertinggal, tetapi arah pulang yang jangan sampai terlupa. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments