Ada yang masih gelisah dengan berbagai masalah, hingga tak bisa istirahat dengan tenang?
Pikiran berputar tanpa henti, hati terasa sesak, dan tidur pun tak lagi nyenyak. Gelisah tak kunjung usai?
Izinkan saya membisikkan sesuatu:
Sesuatu yang tak selesai dengan pikiran kita, jangan terus dipikir.
Pasrahkan saja kepada Allah.
Sesuatu yang di luar kemampuan kita dalam menyelesaikan dan mengatasinya, jangan terus dipikul sendiri.
Sebab tidak semua hal harus kita tuntaskan dengan logika. Ada wilayah takdir, yang hanya bisa kita tempuh dengan tawakal.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita melihat seseorang yang tampak tenang, padahal beban hidupnya tidak ringan. Seorang ayah yang tetap tersenyum meski usahanya sedang sepi. Seorang ibu yang tetap sabar meski keuangan keluarga terbatas. Atau seorang pegawai yang tetap bekerja dengan sungguh-sungguh meski sedang menghadapi tekanan pekerjaan.
Mengapa mereka bisa tetap tenang?
Bukan karena mereka tidak punya masalah.
Tetapi karena mereka tahu ke mana harus mengembalikan masalah itu.
Sebaliknya, ada pula yang secara lahir tampak berkecukupan, tetapi hatinya gelisah. Sedikit masalah membuatnya panik. Sedikit ujian membuatnya putus asa. Karena ia memikul semuanya sendirian, tanpa melibatkan Allah dalam hatinya.
Setiap manusia memiliki masalah.
Namun tidak setiap manusia bingung dengan masalah.
Karena mereka punya iman.
Ingat…!
Nabi Ayyub punya penyakit yang sangat berat, bertahun-tahun lamanya.
Namun lisannya tidak pernah berhenti berdzikir.
Nabi Nuh memiliki anak dan istri yang durhaka.
Namun beliau tetap teguh dalam dakwahnya.
Nabi Ibrahim harus menghadapi ayah yang menentang risalahnya.
Namun beliau tetap santun dan tidak kehilangan kasih sayang.
Nabi Muhammad saw memiliki paman, Abu Lahab, yang memusuhinya terang-terangan.
Namun beliau tetap sabar dan tidak membalas dengan kebencian.
Mereka semua tidak larut dalam kegelisahan.
Mengapa?
Karena mereka tahu, hidup ini bukan tentang mengendalikan segalanya, tetapi tentang menyerahkan segalanya kepada Allah.
Coba kita renungkan dalam kehidupan kita.
Saat usaha tidak sesuai harapan, kita gelisah berhari-hari.
Saat ucapan orang lain menyakitkan, kita memikirkannya berulang-ulang.
Saat rencana tidak berjalan, kita merasa dunia seakan runtuh.
Padahal, mungkin Allah sedang mengajarkan kita satu hal sederhana:
bahwa tidak semua harus kita kendalikan.
Seperti seorang petani. Ia menanam, menyiram, dan merawat. Tetapi ia tidak bisa memaksa hujan turun. Ia tidak bisa memerintahkan benih agar tumbuh seketika. Ia hanya berusaha, lalu berserah.
Begitulah seharusnya kita menjalani hidup.
Karenanya, tenangkan hati.
Hidup ini ada yang mengatur. Dialah Allah.
Semua pasti ada hikmahnya, meski kadang kita belum memahaminya hari ini.
Yang penting:
Luruskan hati.
Teruslah berbuat di jalan kebenaran.
Jangan pernah merancang keburukan untuk orang lain, meski kita disakiti.
Karena sering kali, ketenangan hidup bukan datang dari hilangnya masalah, tetapi dari bersihnya hati.
Selanjutnya:
Pasrahkan kepada Allah.
Berdoalah… lalu istirahatlah.
Ada saatnya kita harus berhenti memikirkan, dan mulai mempercayakan.
Ada saatnya kita berhenti berjuang dengan cara kita, dan mulai berserah dengan cara Allah.
Dan jangan lupa, di tengah segala kesibukan dan kegelisahan kita, sisakan ruang untuk mendoakan orang lain. Karena doa yang tulus untuk sesama sering kali menjadi jalan datangnya pertolongan bagi diri kita sendiri.
Hari Jumat telah hadir kembali.
Mari kita hidupkan dengan amalan:
Membaca Surah Al-Kahfi,
Memperbanyak shalawat,
Istighfar,
Berdoa,
Dan bersedekah.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerima amal ibadah kita,
Mengampuni dosa-dosa kita,
Serta memberikan kemudahan dalam setiap langkah hidup kita—
baik dalam bekerja, beribadah, maupun menghadapi ujian.
Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments