Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

8 Perkara Penguat dan Perusak Iman yang Wajib Diketahui Muslim

Iklan Landscape Smamda
8 Perkara Penguat dan Perusak Iman yang Wajib Diketahui Muslim
Foto: orlandparkprayercenter.org
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Hidup ini adalah perjalanan menuju Allah. Dalam perjalanan itu, ada bekal yang menguatkan iman, dan ada pula jebakan yang menghancurkan kehidupan.

Dalam kitab Nashaih al-‘Ibad, para ulama merangkum hikmah yang sangat dalam: ada perkara yang mengangkat derajat manusia, dan ada yang justru menjatuhkannya tanpa ia sadari.

Renungan ini bukan sekadar untuk dibaca, tapi untuk ditanya kepada diri sendiri: di posisi mana kita hari ini?

Perkara yang Menguatkan Iman

1. Ilmu

Ilmu bukan sekadar pengetahuan, tapi cahaya yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Tanpa ilmu, seseorang bisa merasa benar padahal sedang tersesat.

Ilmu juga yang menumbuhkan rasa takut kepada Allah, karena semakin seseorang mengenal Rabb-nya, semakin ia sadar betapa kecil dirinya.

Allah Wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan jalannya ke surga.” (HR. Muslim)

Kita sering melihat dua orang dengan latar yang sama. Yang satu rajin menghadiri majelis ilmu, yang lain merasa cukup dengan apa yang ia tahu.

Dalam perjalanan waktu, yang pertama menjadi semakin hati-hati dalam bicara dan bertindak, sementara yang kedua mudah menghakimi, bahkan menyebarkan informasi yang belum tentu benar. Di sinilah ilmu menjadi pembeda arah hidup seseorang.

Apakah ilmu kita sudah mendekatkan kita kepada Allah, atau justru hanya menambah kesombongan?

2. Amal

Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Ia ada, tapi tidak memberi manfaat. Amal adalah bukti keimanan yang nyata.

Bahkan amal kecil yang konsisten lebih dicintai Allah daripada amal besar tapi jarang dilakukan.

Allah Wa Ta’ala berfirman: “Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh…” (QS. Al-‘Asr: 3)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari Muslim)

Ada seseorang yang tidak dikenal luas, tidak memiliki jabatan, tapi ia menjaga salat tepat waktu, rutin bersedekah meski sedikit, dan ringan membantu orang lain.

Di sisi lain, ada yang sering berbicara tentang kebaikan, tapi sulit melaksanakannya. Dalam diam, amal yang kecil tapi istiqamah itulah yang justru menjadi penolong di akhirat.

Sudahkah kita mengamalkan apa yang kita ketahui?

3. Ikhlas

Ikhlas adalah rahasia antara hamba dan Allah. Amal yang besar bisa menjadi tidak bernilai jika kehilangan keikhlasan.

Ikhlas juga berat, karena ia menuntut kita untuk tidak mencari pujian manusia, bahkan tidak peduli apakah orang lain melihat atau tidak.

Allah Wa Ta’ala berfirman: “Padahal mereka hanya diperintah untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas…” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari Muslim)

Seorang dermawan bisa saja memberikan bantuan besar, namun diam-diam berharap namanya disebut. Sementara orang lain memberi dalam diam, bahkan tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan tangan kanannya. Yang tampak di mata manusia bisa berbeda nilainya di sisi Allah.

Apakah kita beramal karena Allah, atau karena ingin dilihat manusia?

4. Tawakal

Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, tapi berserah diri setelah maksimal berikhtiar. Hati yang bertawakal tidak mudah gelisah, karena ia yakin Allah adalah sebaik-baik pengatur.

Orang yang bertawakal tidak takut kehilangan, karena ia tahu semua sudah dalam ketetapan Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkannya.” (QS. At-Talaq: 3)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian diberi rezeki seperti burung…” (HR. Tirmidzi)

Seorang pedagang sudah berusaha maksimal, namun dagangannya sepi. Ia tetap tenang, tidak putus asa, dan tidak mengambil jalan haram. Ia yakin rezeki tidak akan tertukar. Ketenteraman seperti ini hanya dimiliki oleh hati yang bertawakal.

Apakah kita benar-benar percaya kepada Allah, atau masih bergantung pada selain-Nya?

Perkara yang Membinasakan Manusia

1. Cinta Dunia Berlebihan

Dunia bukan untuk ditinggalkan, tapi jangan sampai ia menguasai hati. Ketika dunia menjadi tujuan utama, akhirat akan dilupakan.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Cinta dunia membuat seseorang rela melakukan apa saja, bahkan mengorbankan agama.

Allah Wa Ta’ala berfirman: “Kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau…”
(QS. Al-Hadid: 20)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin…”
(HR. Muslim)

Ada orang yang begitu sibuk mengejar jabatan hingga melupakan keluarga dan ibadahnya. Waktu terus habis untuk urusan dunia, tapi hatinya kosong. Ketika semua itu hilang, ia baru sadar bahwa yang dikejar tidak pernah benar-benar memberi ketenangan.

Apakah dunia ada di tangan kita, atau justru sudah masuk ke dalam hati kita?

2. Mengikuti Hawa Nafsu

Hawa nafsu selalu mengajak kepada kesenangan sesaat, tapi melupakan akibat jangka panjang.

Nafsu tidak akan pernah puas. Jika diikuti, ia akan terus menuntut hingga manusia jatuh dalam dosa.

Allah Wa Ta’ala berfirman: “Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan…”
(QS. Shad: 26)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak beriman seseorang hingga hawa nafsunya mengikuti ajaran yang aku bawa.” (HR. Hakim)

Seseorang awalnya hanya mencoba hal kecil yang dilarang. Karena terbiasa, ia merasa itu biasa saja. Dari yang kecil menjadi besar, dari yang ringan menjadi berat. Hingga akhirnya ia sulit kembali. Nafsu memang tidak terasa menghancurkan, tapi perlahan menyeret ke jurang.

Apakah kita mengendalikan nafsu, atau justru dikendalikan olehnya?

3. Panjang Angan-angan

Terlalu banyak angan membuat manusia menunda taubat, menunda ibadah, dan merasa masih punya banyak waktu.

Padahal kematian bisa datang kapan saja.

Allah Wa Ta’ala berfirman: “Biarkan mereka dilalaikan oleh angan-angan…” (QS. Al-Hijr: 3)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan (kematian).” (HR. Tirmidzi)

“Masih muda, nanti saja berubah.” Kalimat ini sering terdengar. Namun berapa banyak orang yang tidak sempat menua? Kematian tidak menunggu kesiapan kita. Ia datang sesuai ketetapan Allah, bukan rencana manusia.

Berapa banyak rencana dunia yang kita susun, tapi lupa mempersiapkan akhirat?

4. Sombong

Kesombongan adalah dosa pertama yang dilakukan makhluk (Iblis). Ia merasa lebih baik, sehingga menolak kebenaran.

Orang sombong sulit menerima nasihat, karena merasa dirinya paling benar.

Allah Wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.”
(QS. An-Nahl: 23)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan…” (HR. Muslim)

Ada orang yang ketika diingatkan justru marah, bukan merenung. Ia merasa pengalaman dan ilmunya sudah cukup. Padahal bisa jadi kebenaran datang dari orang yang lebih muda atau lebih sederhana. Kesombongan menutup pintu hidayah tanpa disadari.

Apakah kita mudah menerima kebenaran, atau justru menolaknya karena ego?

Hidup ini bukan tentang siapa yang paling kaya, tapi siapa yang paling siap kembali kepada Allah.

Empat perkara menguatkan iman—dan empat lainnya bisa menghancurkan segalanya.

Maka setiap hari adalah pilihan: menguatkan iman… atau perlahan menghancurkannya.

Karena sejatinya, kehidupan bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang bagaimana kita menutup perjalanan ini dengan husnul khatimah.

Doa

Ya Allah, terangilah hati kami dengan ilmu-Mu,
hiasilah amal kami dengan keikhlasan,
kuatkan kami dalam bertawakal kepada-Mu.

Jauhkan kami dari cinta dunia yang melalaikan,
hawa nafsu yang menyesatkan,
angan-angan yang menipu,
dan hati yang sombong.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (*)

Revisi Oleh:
  • Satria - 16/04/2026 10:32
  • Agus Wahyudi - 16/04/2026 10:27
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡