Pendidikan bahasa Inggris pada hakikatnya tidak sekadar mengajarkan kosakata, tata bahasa, berbicara, membaca, menulis, dan menyimak. Bahasa merupakan bagian dari kehidupan sosial dan budaya. Bahasa juga membawa nilai, perspektif, serta cara pandang tertentu.
Karena itu, pembelajaran bahasa Inggris semestinya tidak berhenti pada pencapaian kompetensi komunikatif. Pembelajaran juga perlu berkontribusi pada pembentukan karakter peserta didik.
Dalam konteks pendidikan Muhammadiyah, pengembangan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dapat menjadi landasan. Dengan landasan tersebut, penguasaan bahasa Inggris dapat berjalan seiring dengan pembentukan pribadi yang beriman, berakhlak, berkemajuan, dan memiliki kepedulian sosial.
Salah satu ruang strategis untuk mengintegrasikan nilai tersebut adalah melalui coursebook analysis atau analisis buku ajar.
Buku Ajar sebagai Ruang Pembentukan Nilai
Buku ajar bukan sekadar kumpulan materi bahasa. Di dalamnya terdapat teks, ilustrasi, dialog, latihan, pertanyaan, dan aktivitas komunikasi. Semua unsur tersebut secara tidak langsung memperkenalkan peserta didik pada nilai, budaya, perilaku, dan cara memandang dunia.
Karena itu, analisis buku ajar tidak cukup hanya bertanya, what language is taught. Kita juga perlu bertanya, what values are communicated through the language.
Dalam perspektif AIK, kita dapat mengevaluasi materi bahasa Inggris berdasarkan nilai-nilai yang direpresentasikan. Ketika sebuah buku membahas lingkungan, keberagaman, kehidupan sosial, teknologi, kesehatan, atau pembangunan berkelanjutan, kita tidak hanya perlu menilai kesesuaian topik dengan tingkat kemampuan bahasa peserta didik.
Kita juga perlu melihat apakah materi tersebut mendorong tauhid, akhlak, kepedulian sosial, tanggung jawab, keadilan, kerja sama, serta penghargaan terhadap ciptaan Allah SWT.
Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Islam Berkemajuan. Penguasaan bahasa Inggris dapat menjadi sarana untuk membuka akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi global, dan kolaborasi internasional.
Namun, kemampuan berbahasa global perlu serta dengan identitas dan nilai yang kuat. Peserta didik tidak cukup hanya menjadi pengguna bahasa Inggris yang fasih. Mereka juga harus mampu membawa nilai Islam dalam interaksi global.
Dengan kata lain, English proficiency and Islamic values should not be positioned as two separate educational goals.
Menghubungkan Pembelajaran Bahasa dengan Nilai AIK
Contoh sederhana dapat ditemukan dalam tema “Getting to Know One Another.” QS Al-Hujurat ayat 13 menyebut bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, li ta‘ārafū, agar saling mengenal.
Nilai tersebut dapat diintegrasikan melalui materi self-introduction, describing people, cultural diversity, intercultural communication, atau international collaboration. Peserta didik tidak hanya belajar ungkapan seperti “Where are you from?” atau “Nice to meet you.”
Mereka juga memahami bahwa perbedaan bangsa dan budaya merupakan kesempatan untuk membangun saling pengertian, penghormatan, dan kerja sama.
Demikian pula, nilai amar ma’ruf nahi munkar dapat dihubungkan dengan materi mengenai persoalan sosial. Ketika peserta didik membaca teks tentang bullying, ketidakadilan, kemiskinan, kerusakan lingkungan, atau penggunaan media sosial, pembelajaran tidak harus berhenti pada reading comprehension.
Guru dapat mengajak peserta didik melakukan refleksi melalui pertanyaan seperti, “What should we do to help others?”, “How can we prevent bullying?”, atau “What can young people do to protect the environment?”
Dengan demikian, kompetensi bahasa dapat menjadi jembatan menuju pembentukan karakter dan kepedulian.
Nilai gotong royong, ukhuwah, keadilan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan juga memiliki irisan kuat dengan Education for Sustainable Development (ESD) dan Sustainable Development Goals (SDGs).
Kepedulian lingkungan, misalnya, dapat dikaitkan dengan SDG 13 tentang Climate Action. Sementara itu, kepedulian sosial dapat dihubungkan dengan SDG 3 tentang Good Health and Well-being atau SDG 10 tentang Reduced Inequalities.
Dalam perspektif ini, AIK dapat menjadi ethical and spiritual foundation yang memberikan arah moral terhadap pembelajaran isu-isu keberlanjutan.
QS Ar-Rum ayat 41 juga memberikan landasan penting dalam membangun kesadaran ekologis. Tema seperti environmental sustainability, climate change, waste management, dan responsible consumption tidak hanya dapat dipahami sebagai topik bahasa Inggris.
Tema-tema tersebut juga dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran tentang tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Menuju Analisis Buku Ajar Berbasis AIK
Karena itu, coursebook analysis di lingkungan pendidikan Muhammadiyah perlu mengembangkan pertanyaan evaluasi yang lebih kritis. Tidak cukup hanya bertanya, “Does the activity develop students’ speaking skills?”
Kita juga perlu bertanya: nilai apa yang direpresentasikan? Apakah materi mendorong penghargaan terhadap keberagaman? Apakah perlu mengajak peserta didik untuk bertanggung jawab terhadap persoalan sosial dan lingkungan?
Kita juga perlu melihat apakah tersedia ruang untuk refleksi etis dan nilai-nilai Islam.
Dari sinilah kita dapat mengembangkan AIK-informed coursebook analysis framework. Kerangka analisis buku ajar ini memadukan aspek kebahasaan, pedagogis, sosial, keberlanjutan, dan nilai AIK.
Integrasi tersebut tidak perlu dilakukan secara artifisial melalui penempelan ayat atau simbol keagamaan. Nilai Islam dapat hadir melalui pilihan tokoh, konteks dialog, cara sebuah isu direpresentasikan, aktivitas kolaboratif, pertanyaan reflektif, serta tindakan yang diharapkan dari peserta didik.
Pada akhirnya, pendidikan bahasa Inggris dalam perspektif Muhammadiyah perlu mengarah pada global competence without losing Islamic identity. Bahasa Inggris memberikan kemampuan untuk berkomunikasi dan berkolaborasi dengan masyarakat global.
Sementara itu, AIK memberikan landasan tentang bagaimana peserta didik menggunakan kemampuan tersebut secara bertanggung jawab.
Dengan demikian, coursebook analysis bukan sekadar upaya untuk menentukan apakah sebuah buku “baik” dalam mengajarkan bahasa Inggris. Lebih jauh, analisis tersebut menjadi cara untuk mengkritisi nilai-nilai pada sebuah buku.
Analisis juga membantu kita memahami manusia seperti apa yang sedang dibentuk melalui pembelajaran bahasa Inggris.
Inilah tantangan sekaligus peluang pendidikan Muhammadiyah: melahirkan generasi yang English proficient, tetapi sekaligus beriman, berakhlak, kritis, peduli, terbuka terhadap keberagaman, dan mampu berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan global.***





0 Tanggapan
Empty Comments