Suasana Gedung Biru SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) terasa berbeda. Sejak pagi, senyum dan sapaan hangat siswa CSI (Centre Student Information) menyambut kedatangan tim penilai dari Direktorat Jenderal Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam rangka asistensi pelaksanaan Sekolah Model Implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) dan Koding serta Kecerdasan Artifisial (KKA).
Hadir dalam kegiatan tersebut Namira dan Putri dari tim penilai Direktorat Jenderal Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Turut membersamai, Dr. Sunikan, S.Kom., M.Pd., Kepala Bidang Pengelolaan Pendidikan Sekolah Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, Nurhayati, S.Pd., Kepala Seksi Sekolah Dasar (Kasi SD), serta Pengawas SD Kecamatan Manyar, Siti Nor Hanafiah, M.Pd.
Tepat pukul 08.00 WIB, rombongan tiba di Gedung Biru. Bukan sekadar salam dan jabat tangan yang menyambut kedatangan mereka. Para siswa CSI hadir sebagai wajah pertama sekolah—menyapa, mendampingi, sekaligus mengarahkan para tamu menuju ruang Dikdasmen dengan penuh percaya diri.
Cara siswa CSI menjalankan perannya ternyata meninggalkan kesan tersendiri bagi Namira dan Putri. Dengan luwes, hangat, dan tanpa terlihat canggung, para siswa mampu berkomunikasi dan mendampingi tamu sekolah. Sebuah gambaran kecil, tetapi menjadi bukti bahwa pengalaman belajar di sekolah tidak hanya dibangun melalui pembelajaran di dalam kelas.
Memasuki ruang Dikdasmen, kegiatan berlanjut dengan sesi wawancara. Pimpinan sekolah, guru, siswa, hingga pengawas sekolah mendapatkan kesempatan untuk berbagi cerita tentang implementasi Pembelajaran Mendalam dan Koding serta Kecerdasan Artifisial di SDMM.
Berbagai pengalaman di lapangan menjadi cerita yang mengalir. Para ustaz dan ustazah menjelaskan praktik baik yang telah dilakukan, mulai dari bagaimana pembelajaran dirancang agar lebih bermakna hingga bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk memperkaya pengalaman belajar siswa.
Salah satu cerita menarik datang dari Ustaz Zaki Abdul Wahid, pengajar KKA kelas 6. Ia mengisahkan perjalanan pembelajaran teknologi di SDMM yang ternyata telah dimulai sejak sekolah berdiri pada tahun 2004.
“Dulu pembelajaran teknologi lebih banyak seputar Microsoft Office. Sekarang terus berkembang dan bertransformasi mengikuti perkembangan zaman melalui koding dan Kecerdasan Artifisial,” demikian gambaran perjalanan pembelajaran KKA yang disampaikan dalam sesi tersebut.
Perjalanan itu menunjukkan bahwa transformasi bukan berarti meninggalkan apa yang telah dilakukan sebelumnya, tetapi terus menyempurnakannya agar tetap relevan dengan kebutuhan anak dan perkembangan zaman.
Bagian yang tak kalah menarik terjadi ketika tiga siswa SDMM, Astama Razin Resmawan, Azkadina Alfanani, dan Aisha Shazia Azzahra, mendapat kesempatan untuk berbagi pengalaman.
Sesi wawancara justru berlangsung dalam suasana yang santai dan menyenangkan. Namira mengawali percakapan dengan membacakan sebuah buku kepada siswa. Dari sana, pertanyaan demi pertanyaan mengalir.
Apa yang mereka rasakan saat belajar? Pembelajaran seperti apa yang mereka sukai? Bagaimana pengalaman mereka selama berada di sekolah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan suasana yang cair. Tidak ada kesan siswa sedang menghadapi wawancara yang menegangkan. Yang terlihat justru tiga anak yang nyaman bercerita tentang pengalaman belajar mereka.
Dari percakapan sederhana tersebut, suara siswa menjadi bagian penting dalam melihat bagaimana pembelajaran benar-benar dirasakan oleh mereka.
Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah pembelajaran tidak hanya terlihat dari apa yang tertulis dalam perangkat ajar, tetapi juga dari apa yang dirasakan, dipahami, dan dialami oleh siswa.
Asistensi kemudian berlanjut ke ruang kelas. Tim melakukan pengamatan langsung terhadap pembelajaran di kelas 5 Beta bersama Ustazah Zahara Firdausi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan materi teks prosedural.
Pembelajaran Mendalam
Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada tim untuk melihat secara langsung proses pembelajaran yang berlangsung di kelas, sekaligus menyaksikan bagaimana konsep Pembelajaran Mendalam diimplementasikan dalam pengalaman belajar siswa.
Setelah dari ruang kelas, rombongan melanjutkan perjalanan menyusuri berbagai ruang di Gedung Biru. Hachi Library, ruang kelas, ruang multimedia, hingga ruang terapi menjadi bagian dari kunjungan.
Setiap ruang menghadirkan cerita yang berbeda. Namun, semuanya bermuara pada satu tujuan: menciptakan lingkungan belajar yang mendukung tumbuh kembang siswa secara utuh.
Asistensi hari itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda penilaian. Ia menjadi ruang untuk berbagi, melihat, mendengar, dan merefleksikan perjalanan pendidikan yang sedang berlangsung.
Dari guru, tim penilai melihat praktik baik yang lahir dari pengalaman nyata di kelas. Dari siswa, mereka mendengar cerita tentang bagaimana pembelajaran dirasakan. Dari lingkungan sekolah, mereka melihat bagaimana ruang-ruang belajar dirancang untuk mendukung pengalaman pendidikan yang lebih beragam. Gedung Biru kembali menjadi saksi bahwa pendidikan selalu memiliki ruang untuk bertumbuh.
Pembelajaran Mendalam mengajak anak belajar dengan lebih bermakna. Koding dan Kecerdasan Artifisial mengajak mereka mengenal dan mencipta teknologi. Dan guru menjadi penggerak yang memastikan keduanya tetap berpijak pada kebutuhan anak.
Hari itu, SD Muhammadiyah Manyar tidak hanya menerima kunjungan. SDMM berbagi sebuah perjalanan tentang bagaimana sekolah terus belajar, beradaptasi, dan bertransformasi. Sebab sekolah yang hebat bukanlah sekolah yang berhenti ketika telah mencapai sesuatu.
Sekolah yang hebat adalah sekolah yang terus belajar untuk menjadi lebih baik. Dan dari Gedung Biru, langkah itu akan terus dilanjutkan, mendalam belajarnya, kreatif karyanya, cerdas teknologinya., kuat karakternya, dan siap masa depannya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments