Membuat tiang bendera bukan sekadar perkara membuat beberapa batang bambu atau stik berdiri tegak.
Di baliknya ada simpul, ikatan, ketelitian, keseimbangan, kerja sama, dan tentu saja kesabaran.
Itulah yang dipraktikkan peserta Hizbul Wathan (HW) MI Muhammadiyah Gedeg (MI Megah) dalam kegiatan Miniatur Pioneering Tiang Bendera, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan yang semula hampir luput dari dokumentasi itu justru menyisakan cerita menarik. Peserta dan pembina terlalu larut dalam proses merangkai dan menyelesaikan karya hingga kamera nyaris terlupakan.
Dokumentasi baru berhasil dilakukan pada menit-menit terakhir menjelang penutupan. Saat itu, beberapa karya miniatur tiang bendera telah terbentuk, lengkap dengan rangkaian ikatan yang menjadi bagian penting dari proses pioneering.
Dimulai dari Simpul Pangkal
Dalam praktiknya, peserta tidak asal mengikat. Mereka diperkenalkan dan mempraktikkan sejumlah teknik dasar pioneering.
Simpul pangkal menjadi pembuka sekaligus penutup ikatan. Dari simpul inilah rangkaian konstruksi mulai dibangun. Peserta kemudian mengaplikasikan ikatan pangkal, ikatan palang, ikatan canggah, hingga katrol sesuai kebutuhan konstruksi miniatur.
Ikatan harus cukup kuat agar konstruksi tidak mudah bergeser. Posisi stik harus tepat agar rangkaian tetap seimbang.
Sementara penggunaan katrol menjadi bagian yang menarik karena peserta tidak hanya belajar membuat struktur. Tetapi juga memahami bagaimana sebuah sistem sederhana dapat bekerja.
Salah sedikit, ikatan dibuka. Kurang kuat, diperbaiki. Tidak seimbang, dicari kembali titik yang tepat.
Di sinilah pioneering berubah menjadi laboratorium kecil bagi anak-anak untuk belajar memecahkan masalah.
Belajar dari Tali dan Simpul
Kegiatan ini bukan semata-mata menghasilkan miniatur tiang bendera. Lebih jauh, peserta belajar bahwa sesuatu yang tampak sederhana membutuhkan proses yang tidak sederhana.
“Melalui kegiatan pioneering ini, kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal nama-nama simpul dan ikatan, tetapi juga memahami fungsi serta mempraktikkannya dengan benar. Mereka belajar bahwa membuat konstruksi yang kokoh membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan kerja sama,” ujar Diah Kusumaningrum SS, salah satu pembina HW MI Megah.
Ada ketelitian ketika membuat simpul, kekompakan saat menyusun konstruksi, komunikasi ketika bekerja bersama, dan kesabaran ketika hasil pertama belum sempurna.
Pioneering mengajarkan satu hal penting: sebuah bangunan yang kokoh tidak lahir dari satu ikatan saja. Ia lahir dari ikatan-ikatan yang dibuat dengan benar dan saling menguatkan.
Begitu pula dalam kehidupan.
Satu simpul menguatkan ikatan. Satu ikatan menopang konstruksi. Dan satu kerja sama membuat karya menjadi lebih berarti.
Nyaris Lupa Dokumentasi, Tak Lupa Makna
Menariknya, kesibukan peserta menyelesaikan miniatur membuat dokumentasi kegiatan nyaris terlupakan.
Baru ketika kegiatan mendekati penutupan, kamera kembali diaktifkan. Momen-momen terakhir pun berhasil diabadikan.
Peserta, stik, tali, dan miniatur tiang bendera yang menjadi bukti bahwa proses belajar benar-benar telah berlangsung.
Tidak banyak waktu untuk mengambil gambar. Namun justru dokumentasi spontan di penghujung kegiatan itu menjadi pengingat bahwa pengalaman belajar tidak selalu harus dimulai dengan kamera; terkadang anak-anak perlu terlebih dahulu tenggelam dalam prosesnya.
Kegiatan HW tersebut berlangsung di bawah bimbingan Diah Kusumaningrum SS, Nur Azizah Perwitasari SPdI, Alfi Agustina SPdSD, Vita Kurnia Jayanti SPdI, Etika Rustantik SPd, dan Ghoniatul Maghfiroh SPd.
Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, peserta bersama para pembina kemudian menutup kegiatan dengan membaca doa bersama.
Dari simpul pangkal mereka belajar memulai dan mengakhiri dengan benar. Dari ikatan pangkal, palang, dan canggah mereka belajar ketelitian. Dan dari katrol mereka belajar mekanisme dan keseimbangan.
Kemudian dari seluruh proses itu, mereka belajar bahwa menjadi pandu bukan hanya pandai membuat ikatan, tetapi juga mampu mengikat kebersamaan, tanggung jawab, dan semangat untuk terus belajar.





0 Tanggapan
Empty Comments