Langit Babat siang itu terasa lebih hangat dari biasanya. Di halaman SMA Muhammadiyah 1 Babat, ratusan pasang mata tertuju ke satu panggung sederhana, tempat harapan, kenangan, dan masa depan berkelindan dalam satu momentum: Purna Siswa angkatan ke-52, Sabtu (9/5/2026).
Di tengah suasana haru dan bangga, hadir seorang tamu istimewa. Dr. Mariman Darto, S.E., M.Si, Staf Ahli Manajemen Talenta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, berdiri menyampaikan orasi edukasi motivasi. Namun yang ia bawa bukan sekadar sambutan formal, melainkan cerita, kegigihan, dan pesan kehidupan yang menggetarkan.
“Saya tidak mengalah, saya tidak menyerah,” ucapnya tegas, membuka kisah tentang komitmennya hadir di Babat. Bahkan, di tengah padatnya agenda kenegaraan, ia tetap memperjuangkan kehadirannya di acara ini. Sebuah simbol bahwa pendidikan, sekecil apa pun ruangnya, tetap layak diperjuangkan dengan sepenuh hati.
Ia lalu mengajak hadirin merenung pada sebuah kutipan legendaris tahun 2003 dari tokoh dunia: pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Kalimat itu tidak hanya menggema di telinga, tetapi juga terasa hidup di tengah realitas yang ia paparkan, tentang ketimpangan akses pendidikan, tentang desa-desa yang belum sepenuhnya tersentuh, dan tentang perjuangan panjang membangun generasi.
“Pendidikan itu dimulai dari dasar. Dari sanalah peradaban dibangun,” ujarnya.
Di hadapan para siswa yang baru saja menuntaskan satu fase hidup, ia menegaskan bahwa sekolah bukan sekadar tempat belajar. Sekolah adalah “rumah keteladanan”, tempat karakter ditempa, dan ladang lahirnya para pemimpin masa depan.
Ia pun mengapresiasi SMA Muhammadiyah 1 Babat, sekolah yang pernah menyandang predikat favorit, sekaligus memiliki tema wisuda yang sarat makna: “Ukir Kenangan, Raih Impian.”
“Ini bukan sekadar kalimat. Ini warisan nilai. Ini arah hidup,” tuturnya.
Lebih dalam, ia mengurai tiga fondasi karakter yang harus dimiliki para lulusan. Pertama, keikhlasan. Menuntut ilmu, katanya, bukan sekadar mengejar nilai atau gelar, tetapi proses pengabdian yang membutuhkan hati yang tulus. Kedua, adab. Di tengah derasnya arus zaman, adab menjadi benteng utama agar ilmu tetap bermakna. Ketiga, ketekunan dan kesabaran: dua kunci yang telah melahirkan banyak ulama besar dari tanah Lamongan.
“Menuntut ilmu itu bukan jalan cepat. Ia adalah perjalanan panjang yang butuh kesabaran,” pesannya.
Ia juga menyinggung sosok Prof. Dr. Abdul Mu’ti sebagai teladan kesederhanaan. Bahwa menjadi besar tidak harus meninggalkan nilai-nilai sederhana. Justru dari kesederhanaan itulah lahir ketulusan dan kekuatan karakter.
Di ujung orasinya, Mariman menyampaikan harapan besar. Ia mendukung hadirnya Islamic Muhammadiyah Boarding School di Babat, sebagai bagian dari upaya memperkuat pendidikan berbasis karakter dan keislaman. Bahkan, ia berjanji akan menyampaikan gagasan itu kepada Menteri.
Namun satu pesan paling kuat yang ia titipkan kepada para siswa adalah ini:
“Jangan berhenti di sini. Kalian harus melanjutkan kuliah.”
Kalimat sederhana, tetapi penuh makna. Sebab di balik toga kelulusan hari itu, sejatinya bukan akhir dari perjalanan, melainkan pintu awal menuju peradaban yang lebih luas. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments