Dosen FK UMSURA, Dr. dr. Nova Primadina, Sp.BP-RE, C.Herbs, CH, Cht, berhasil mencuri perhatian dalam forum internasional melalui inovasi riset di bidang aromaterapi dan herbal medis. Ia tampil sebagai pembicara dalam ajang AAC-AAIC 2026 (Asia Aroma Conference & Asia Aroma Ingredient Congress & Expo) yang diselenggarakan di Seoul, Korea Selatan. Presentasi tersebut menjadi sorotan karena menawarkan pendekatan baru dalam mempercepat penyembuhan luka.
Dalam paparannya, dr. Nova menjelaskan hasil penelitian yang menunjukkan efektivitas kombinasi tersebut. Ia menyebut, “Tanaman aromatik khas Indonesia jika dikombinasikan dengan herbal tradisional mampu mempercepat penyembuhan luka melalui tiga mekanisme sekaligus.”
Menurutnya, topik ini penting dibawa ke tingkat global karena membuka perspektif baru bagi praktisi aromaterapi dunia. Selama ini, tanaman aromatik lebih dikenal sebatas pemanfaatan essential oil untuk relaksasi. Padahal, melalui inovasi ini, tanaman tersebut dapat memberikan manfaat medis yang lebih luas.
“Inovasi ini menunjukkan bahwa aromaterapi tidak hanya untuk relaksasi, tetapi bisa dikombinasikan dengan herbal medicine untuk mempercepat penyembuhan luka akut,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa metode tersebut mampu mempercepat proses penyembuhan luka terbuka dari yang umumnya dua minggu menjadi hanya 5–7 hari.
Respons peserta terhadap presentasi tersebut di luar ekspektasi. dr. Nova mengaku terkejut dengan antusiasme audiens internasional yang memberikan apresiasi tinggi. “Mereka sangat antusias, bahkan di luar ekspektasi saya,” katanya.
Apresiasi tersebut diwujudkan dalam berbagai tawaran kolaborasi dan pengakuan internasional. Ia menerima permintaan riset kolaboratif, undangan menjadi anggota International Federation of Aromatherapists (IFA), hingga diminta bergabung sebagai board member dalam Aromatic Research Quality Appraisal Taskforce (ARQAT). Selain itu, Nova juga diundang kembali sebagai pembicara dalam kongres aromaterapi di Australia tahun 2027 dan Asia-Oceania Aromatherapy Congress di India tahun 2028.
Dalam forum tersebut, dr. Nova juga bertemu sejumlah tokoh penting di dunia aromaterapi, di antaranya Salvatore Battaglia dari Australia, Margaret Karlinsky dari Inggris, serta pakar dari Korea dan Jepang. Pertemuan lintas disiplin ini memberinya banyak wawasan baru.
Ia mengungkapkan bahwa perkembangan aromaterapi global sangat pesat, termasuk penemuan berbagai jenis essential oil baru dan metode penyulingan yang memengaruhi karakter aroma. Selain itu, diskusi bersama para pakar lintas negara turut membuka cakrawala keilmuan yang lebih luas, mulai dari aspek bisnis, kimia, hingga farmakologi.
Menutup wawancara, dr. Nova berharap pencapaian ini dapat memotivasi lebih banyak dokter Indonesia untuk terlibat dalam pengembangan aromaterapi berbasis ilmiah. “Semoga semakin banyak dokter Indonesia yang belajar aromaterapi dan memperkenalkan tanaman lokal ke dunia internasional,” tuturnya.
Ia juga berkeinginan membentuk tim independen dokter peneliti aromaterapi di Indonesia. Menurutnya, keberhasilan ini tidak boleh berhenti pada individu semata, tetapi harus menjadi gerakan bersama untuk mengangkat potensi kekayaan hayati Indonesia di kancah global. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments