Maraknya kasus pelecehan seksual di sejumlah kampus besar di Indonesia yang mencuat hampir bersamaan memantik keprihatinan luas. Fenomena ini dinilai bukan hal baru, melainkan kasus lama yang kini mulai terungkap ke publik.
Menanggapi hal tersebut, Nurfi Laili, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, menyampaikan bahwa kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus sebenarnya telah lama terjadi.
“Kasus pelecehan seksual di kampus itu sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Bisa terungkap sekarang karena ada yang mulai berani bicara dan mencari pertolongan,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam beberapa kasus, kondisi tersebut cenderung ditutupi oleh institusi sehingga seolah tidak pernah terjadi.
Menurutnya, pelaku yang sering berasal dari kalangan terdidik tidak lepas dari rendahnya kesadaran diri (self-awareness). Pendidikan tinggi, kata dia, tidak otomatis membuat seseorang memiliki empati dan penghargaan terhadap orang lain.
“Meskipun berpendidikan tinggi, jika kesadaran dirinya rendah, itu bisa menjadi celah. Apalagi jika berada di lingkungan yang kurang sehat,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pola komunikasi dalam keluarga. Kurangnya ruang dialog tentang nilai diri dan penghargaan terhadap orang lain dapat memengaruhi cara seseorang berperilaku di lingkungan sosial.
“Jika sejak keluarga tidak ada komunikasi tentang memahami diri dan menghargai orang lain, itu bisa menjadi celah munculnya perilaku menyimpang,” tambahnya.
Selain itu, pola pengasuhan yang terlalu memanjakan juga dinilai berkontribusi pada rendahnya kepekaan sosial individu.
Nurfi menjelaskan, dalam sejumlah kasus di perguruan tinggi, pelaku pelecehan seksual kerap bertindak secara berkelompok. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk diterima dalam suatu kelompok sosial.
Menurutnya, terutama pada usia remaja dan dewasa awal, individu cenderung memiliki kebutuhan kuat untuk diakui dalam lingkaran pertemanan (friendship centered).
“Seseorang bisa mengikuti perilaku kelompok meskipun bertentangan dengan nilai pribadinya, karena takut dikucilkan,” ungkapnya.
Dalam kondisi lingkungan yang tidak sehat, individu kerap kesulitan keluar dari tekanan sosial tersebut dan akhirnya memilih mengikuti arus.
Dari sisi korban, dampak terbesar terjadi pada kondisi psikologis, terutama pada harga diri (self-esteem).
“Ketika seseorang menjadi objek pembicaraan yang tidak pantas, itu bisa membuatnya merasa rendah dan jijik terhadap dirinya sendiri. Ini sangat merusak harga diri,” jelasnya.
Dalam jangka panjang, dampak psikologis tersebut dapat berkembang menjadi gangguan psikosomatis, seperti kecemasan berlebih, jantung berdebar, hingga reaksi ekstrem seperti freeze atau pingsan.
Korban juga berpotensi menarik diri dari lingkungan sosial jika tidak mendapatkan dukungan yang memadai.
Nurfi menegaskan bahwa pelaku kerap menargetkan individu dengan harga diri rendah karena dianggap lebih mudah dimanipulasi.
“Pelaku seperti memiliki ‘radar’ untuk mendeteksi individu dengan self-esteem rendah, dan itu yang menjadi target,” pungkasnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun kesadaran diri dan harga diri sejak dini, bahkan sejak masa kanak-kanak, sebagai langkah pencegahan jangka panjang.





0 Tanggapan
Empty Comments