Ada yang menarik dari sejarah lahirnya gerakan-gerakan besar. Tidak semuanya dimulai dari gedung megah, modal berlimpah, atau dukungan orang-orang berpengaruh. Sebagian justru berawal dari ruang sempit, fasilitas seadanya, dan keyakinan besar kepada pertolongan Allah.
Sejarah Muhammadiyah adalah salah satu contohnya.
Siang itu, saya membaca tulisan guru literasi saya, Ustaz Anwar Djaelani, berjudul Muhammadiyah, Wisata Edukasi, dan Kesadaran Bersejarah, yang dimuat PWMU.CO, Jumat (30/10/2026). Tulisan tersebut membawa ingatan saya menyusuri kembali jejak perjuangan Kiai Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah.
Dari sebuah rumah sederhana di Kauman, Yogyakarta, keduanya merintis gerakan pendidikan dan dakwah yang kelak menjelma menjadi kekuatan besar. Madrasah rintisan yang dimulai pada awal 1912 itu hanya menempati ruang tamu berukuran 6 × 2,5 meter. Muridnya sembilan orang.
Namun, siapa yang menyangka, dari ruang sekecil itu kelak tumbuh gerakan yang menaungi ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan berbagai amal usaha sosial di Indonesia, bahkan menjangkau dunia?
Sejarah tersebut mengajarkan satu hal penting: ukuran awal sebuah perjuangan tidak selalu menentukan besarnya hasil yang akan dicapai.
Dari 21 Santri Menuju 250 Anak
Membaca sejarah Muhammadiyah membuat saya teringat perjalanan Pendidikan Daarussalaam di Yogyakarta. Ada kemiripan yang menggetarkan hati.
Pendidikan Daarussalaam juga tidak lahir dari bangunan besar. Langkah pertamanya justru dimulai dari ruang tamu sebuah rumah. Hanya dengan membersamai 21 santri Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), ikhtiar pendidikan itu dirintis.
Tidak ada kemegahan yang bisa dibanggakan saat itu. Yang ada hanyalah niat untuk menghadirkan tempat belajar, mengenalkan Al-Qur’an, dan menanamkan nilai-nilai Islam kepada anak-anak.
Waktu terus berjalan. Atas izin dan pertolongan Allah, ikhtiar kecil itu berkembang. Pendidikan Daarussalaam yang semula berfokus pada TPA kini memiliki sejumlah unit layanan pendidikan, mulai dari PAUD, Kuttab, hingga Program Kesetaraan Paket A, B, dan C.
Jumlah santrinya pun kini mencapai kurang lebih 250 anak.
Angka tersebut tentu patut disyukuri. Namun, bagi saya, yang lebih penting bukanlah semata pertambahan jumlah santri atau banyaknya unit pendidikan. Ada amanah yang ikut membesar di balik perkembangan itu.
Setiap anak yang datang membawa masa depan. Setiap ruang kelas menyimpan tanggung jawab. Setiap guru memikul tugas yang tidak ringan: bukan sekadar mengajarkan pengetahuan, melainkan ikut membentuk manusia yang mengenal Allah, mencintai Rasulullah, dan memahami tujuan hidupnya.
Di sinilah sebuah perjuangan diuji. Ketika lembaga berkembang, apakah niat awal tetap terjaga? Ketika jumlah santri bertambah, apakah kualitas pendidikan ikut tumbuh? Ketika fasilitas semakin baik, apakah keikhlasan para penggeraknya juga semakin kuat?
Sebab, tidak semua pertumbuhan otomatis menghadirkan keberkahan.






0 Tanggapan
Empty Comments