Menjaga Api yang Dinyalakan Para Perintis
Kini, ketika Pendidikan Daarussalaam telah membersamai sekitar 250 anak melalui berbagai unit pendidikan, pertanyaan yang patut kita ajukan bukan sekadar seberapa jauh lembaga ini berkembang.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah api perjuangan yang dinyalakan dari ruang tamu itu masih menyala di dalam hati setiap penggeraknya?
Kepada seluruh asatidzah dan pejuang dakwah Pendidikan Daarussalaam, mari kita rapatkan saf. Menjaga kekompakan, meluruskan niat, dan membersihkan hati dari pamrih selain rida Allah.
Jangan sampai kesibukan mengurus lembaga membuat kita lupa pada tujuan awal mendirikannya. Jangan sampai pertumbuhan membuat kita kehilangan kesederhanaan hati. Dan jangan sampai pencapaian hari ini membuat kita merasa telah selesai berjuang.
Kita memang tidak tahu seberapa besar Pendidikan Daarussalaam akan berkembang pada masa mendatang. Namun, kita bisa menentukan bagaimana perjuangan ini dijalankan hari ini.
Barangkali, suatu saat nanti, anak-anak yang kini belajar di ruang-ruang kelas itu akan menjadi pendidik, pemimpin, ulama, atau penggerak kebaikan di tengah masyarakat. Mereka mungkin tidak lagi mengingat ruang tamu tempat lembaga ini bermula. Namun, nilai-nilai yang ditanamkan di sana semoga terus hidup dalam perjalanan mereka.
Sebab, warisan terbesar sebuah lembaga pendidikan bukanlah gedung yang berdiri kokoh, melainkan manusia-manusia yang tumbuh membawa nilai kebaikan.
Dari ruang tamu yang sederhana, sebuah perjuangan bisa menjangkau dunia. Tetapi untuk sampai ke sana, ada satu hal yang harus selalu dijaga: jangan pernah membiarkan besarnya cita-cita mengalahkan ketulusan niat.
Semoga Allah menjaga langkah kecil ini, menerima setiap ikhtiar, dan menjadikannya amal jariyah yang terus mengalir meski kelak para perintisnya telah tiada.
Amin ya Rabbal ‘Alamin. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments