Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Brawijaya (UB) melantik pengurus periode 2026 di Aula Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang, Sabtu (31/10/2026). Pelantikan ini menjadi momentum untuk memperkuat keberadaan dan peran gerakan Muhammadiyah di lingkungan kampus non-Muhammadiyah.
Mengusung tema “Tajdid Gerakan: Meneguhkan Kepemimpinan Transformatif dan Adaptif”, kepengurusan baru diharapkan mampu menghadirkan pembaruan organisasi tanpa meninggalkan nilai dan identitas perjuangan IMM.
Ketua Koordinator Komisariat (Koorkom) IMM Universitas Brawijaya, Immawan Alvin Surya Ramadhan, menjelaskan bahwa tajdid atau pembaruan bukan berarti meninggalkan prinsip yang telah diwariskan, melainkan menyesuaikan cara bergerak dengan perkembangan zaman.
“Tajdid itu bukan membuang yang lama. Kita menjaga nilai dan prinsipnya, tetapi cara kita bergerak harus terus diperbarui supaya tetap relevan dengan zaman dan kebutuhan mahasiswa hari ini,” ujarnya.
Menurut Alvin, kepemimpinan transformatif menuntut kemampuan membawa perubahan ke arah yang lebih baik, baik dalam pengelolaan organisasi maupun perkaderan. Sementara itu, kepemimpinan adaptif diperlukan agar pengurus mampu membaca perubahan dan memahami kebutuhan mahasiswa.
“Mahasiswa hari ini punya cara belajar dan berkomunitas yang berbeda dari generasi sebelumnya. Kalau IMM tidak mau menyesuaikan diri, kita akan tertinggal. Tapi kalau terlalu larut mengikuti arus, kita bisa kehilangan jati diri,” tuturnya.
Merawat Muhammadiyah di Kampus Non-Muhammadiyah
Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Lowokwaru, H. Mulyani, S.P., menegaskan bahwa status Universitas Brawijaya sebagai perguruan tinggi non-Muhammadiyah bukan penghalang bagi kader untuk mengembangkan gerakan persyarikatan.
“Kita berada di kampus yang bukan milik Muhammadiyah. Itu bukan alasan untuk berhenti bergerak. Justru di sini kita punya kesempatan menghadirkan nilai-nilai Muhammadiyah di tengah mahasiswa yang latar belakangnya beragam,” ungkapnya.
Ia berharap IMM menjadi ruang terbuka bagi mahasiswa, baik yang ingin mengenal Muhammadiyah, bergabung sebagai kader, maupun sekadar berdiskusi. Menurutnya, keberadaan IMM harus mampu memberikan manfaat lebih luas bagi lingkungan kampus.
Mulyani yang akrab disapa Pak Mul juga mengingatkan pentingnya menjaga perjuangan para pendahulu sekaligus menghadirkan inovasi baru.
“Kita punya tugas merawat apa yang sudah dibangun kakak-kakak sebelumnya. Tapi merawat saja belum cukup. Kepengurusan ini harus berani mencoba langkah baru untuk menjawab tantangan ke depan,” katanya.
Ia menambahkan, kader IMM perlu mengimplementasikan Tri Kompetensi Dasar, yakni religiusitas, intelektualitas, dan humanitas dalam kehidupan akademik maupun pengabdian kepada masyarakat.
Harapkan Gerakan Lebih Progresif
Salah satu pengurus IMM Universitas Brawijaya periode 2026, Kemal Ahmad W., mengaku bersyukur atas kelancaran pelantikan. Ia berharap kepengurusan baru mampu melanjutkan perjuangan kader terdahulu dan memperkuat keberadaan Muhammadiyah di lingkungan kampus.
Menurutnya, meskipun UB bukan perguruan tinggi Muhammadiyah, nilai-nilai persyarikatan telah hadir melalui sejumlah tokoh yang berkiprah di lingkungan universitas.
“Universitas Brawijaya memang bukan kampus Muhammadiyah. Namun, ada yang menyebut UB sebagai Universitas Bermuhammadiyah, mengingat cukup banyak pimpinan di lingkungan universitas yang berasal dari Muhammadiyah. Menurut saya, kita perlu meneladani apa yang telah dibawa dan diperjuangkan oleh para pendahulu,” ungkapnya.
Kemal berharap IMM semakin progresif, mampu mendampingi kader dalam proses perkaderan, serta menghadirkan program yang bermanfaat bagi mahasiswa dan masyarakat luas.
“Harapan saya, IMM ke depan bisa lebih progresif dan mampu membersamai kader-kadernya. Selain itu, dapat menciptakan kegiatan yang bermanfaat bagi mahasiswa, masyarakat, dan bangsa pada umumnya,” tambahnya.
Melalui kepengurusan baru ini, IMM Universitas Brawijaya diharapkan mampu menjaga kesinambungan perjuangan, memperkuat identitas kader, dan menghadirkan gerakan yang inklusif serta adaptif tanpa kehilangan nilai-nilai Muhammadiyah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments