Tiga puluh dua tahun lalu, kami pernah duduk bersama sebagai mahasiswa. Mengikuti pengaderan, berdiskusi, berdebat, dan menjalani berbagai aktivitas organisasi.
Masa itu sudah lama berlalu. Namun, kenangannya tetap tersimpan. Sesekali muncul kembali, terutama ketika sebuah peristiwa mengingatkan kami pada perjalanan masa muda.
Ahad (1/11/2026), salah satu kenangan itu hadir di tengah prosesi Wisuda ke-55 Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).
Saya berada di Dyandra Convention Center Surabaya. Mengikuti upacara wisuda bersama para lulusan lainnya. Suasananya khidmat.
Bagi saya, hari itu menjadi momen istimewa. Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya saya menuntaskan pendidikan magister di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Umsura.
Tetapi, ada cerita lain yang membuat wisuda kali ini terasa berbeda.
Rektor Umsura yang memimpin prosesi wisuda adalah sahabat saya, Prof. Mundakir.
Sebenarnya, saya bukan baru hari itu bertemu Mundakir. Kami masih sering berjumpa. Kadang di kampus, kadang dalam berbagai kegiatan lainnya. Komunikasi dan silaturahmi juga tetap terjalin.
Namun, suasana wisuda hari itu menghadirkan perasaan yang agak berbeda. Ada secuil kenangan masa lalu yang tiba-tiba melintas.
Kenangan ketika kami masih sama-sama menjadi mahasiswa dan aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Tiga puluh dua tahun silam, kami pernah berada dalam ruang pengaderan yang sama. Mengikuti Darul Arqam Dasar (DAD).
Menjalani berbagai dinamika kehidupan mahasiswa. Berdiskusi, bertukar pikiran, mengikuti kegiatan sosial, dan melakukan banyak aktivitas bersama.
Waktu itu, kami tentu belum membayangkan akan berada pada posisi seperti sekarang. Mundakir menjadi rektor.
Sementara saya, setelah menempuh perjalanan panjang, kembali ke Umsura untuk menyelesaikan pendidikan magister.
IMM menjadi salah satu ruang penting dalam perjalanan kami. Di sana, kami tidak hanya belajar berorganisasi.
Kami juga belajar menyampaikan gagasan, memahami persoalan masyarakat, membangun kepedulian, dan mengenal arti perjuangan.
Banyak cerita dari masa itu. Sebagian mungkin sudah samar. Namun, pengalaman menjalani perkaderan bersama meninggalkan jejak yang tidak mudah hilang.
Waktu kemudian membawa kami menempuh jalan masing-masing. Aktivitas dan tanggung jawab bertambah. Pengalaman hidup terus berkembang. Posisi kami pun berubah.
Kini, dalam prosesi wisuda itu, saya duduk sebagai salah seorang wisudawan. Mundakir berdiri di depan sebagai Rektor Umsura. Ia memimpin upacara akademik yang menjadi penanda keberhasilan para lulusan menyelesaikan studi.
Pemandangan itu membuat saya sejenak mengingat masa ketika kami masih sama-sama menjadi kader IMM. Ada sesuatu yang terasa menarik. Dua orang yang pernah belajar bersama dalam ruang perkaderan kini bertemu dalam suasana yang berbeda.
“Selamat, Bro?” Sapaan itu datang setelah prosesi wisuda. Mundakir menghampiri saya. Kalimatnya pendek, tetapi terasa akrab.
Pages: 1 2






0 Tanggapan
Empty Comments