Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Kenangan 32 Tahun Itu Terulang

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Kenangan 32 Tahun Itu Terulang
Mundakir bersama penulis saat Wisuda ke-55 Universitas Muhammadiyah Surabaya. Foto: Tho'at Stiawan
BANNER RSI AISYIYAH MALANG

Tidak ada jarak antara seorang rektor dan wisudawan. Yang terasa justru kehangatan persahabatan lama.

Saya menyambutnya sambil mengangkat ijazah. Kami lalu berdiri berdampingan.

Senyum kami mengembang. Sebuah foto pun diambil. Sekilas, mungkin hanya foto biasa antara rektor dan wisudawan. Tetapi bagi saya, ada cerita 32 tahun yang tersimpan di dalamnya.

Dua sahabat yang pernah menjalani proses perkaderan bersama kini berpose dalam suasana wisuda.

Mundakir dengan posisinya sebagai rektor. Saya dengan toga dan ijazah magister yang baru saja diterima.

Saya memandang foto itu dengan perasaan campur aduk. Bahagia karena berhasil menyelesaikan studi.

Bangga melihat sahabat lama mengemban amanah sebagai pimpinan perguruan tinggi. Sekaligus bersyukur pernah menjadi bagian dari perjalanan perkaderan yang mempertemukan kami.

Ali bin Abi Thalib pernah menyampaikan sebuah nasihat yang populer dinisbatkan kepadanya tentang persahabatan:

“Seorang sahabat sejati akan terlihat dalam tiga keadaan: ketika engkau membutuhkan bantuannya, ketika ia berada di belakangmu, dan ketika engkau telah tiada.”

Nasihat itu mengingatkan saya bahwa persahabatan bukan semata-mata soal seberapa sering bertemu.

Bukan pula tentang seberapa banyak foto bersama. Ada nilai kebersamaan, kepercayaan, dan pengalaman yang membuat sebuah persahabatan memiliki arti.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Saya dan Mundakir memang masih sering bertemu. Tetapi, hari wisuda itu memberi saya kesempatan melihat pertemanan kami dari sudut yang berbeda.

Bukan hanya sebagai dua orang yang masih menjalin silaturahmi, melainkan sebagai dua sahabat yang pernah tumbuh bersama dalam proses perkaderan.

Dulu, kami sama-sama duduk sebagai peserta DAD. Kini, Mundakir memimpin perguruan tinggi tempat saya kembali menuntaskan pendidikan.

Hidup membawa kami ke peran masing-masing. Namun, ada jejak perjalanan yang tetap menghubungkan.

Hari itu saya pulang membawa ijazah magister. Tetapi, saya juga membawa sesuatu yang tidak tertulis di dalam ijazah: ingatan tentang masa muda, persahabatan, dan proses panjang yang pernah kami jalani bersama.

Barangkali memang begitu cara kenangan bekerja. Ia tidak harus menunggu seseorang lama menghilang dari pandangan.

Kadang, kita bertemu setiap waktu, tetapi pada satu momen tertentu, sebuah peristiwa membuat kita melihatnya dengan perasaan yang berbeda.

Di Dyandra, hari itu, sebuah sapaan akrab dari Mundakir membuat saya sejenak menengok perjalanan 32 tahun silam.

Bukan karena kami lama tidak berjumpa. Melainkan karena saya kembali merasakan hangatnya kenangan ketika kami masih sama-sama berjuang di IMM. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 01/11/2026 22:24
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu