Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP), menggelar kegiatan Panen Jagung Produk Rekayasa Genetik (PRG) di petak uji produksi benih.
Acara ini dilaksanakan pada Selasa, 3 November 2026, berlokasi di lahan pengembangan UMM di Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.
Kegiatan panen ini merupakan wujud keberlanjutan penelitian kerja sama antara Prodi Agroteknologi UMM dengan PT Syngenta Indonesia yang telah berjalan sejak tahun 2012.
Afif Ziyadi Rafi, perwakilan PT Syngenta Indonesia, menjelaskan bahwa kemitraan strategis ini bertujuan mengambil data fase generatif sebagai syarat pelepasan varietas baru ke pasaran.
“Karena kebetulan kita sudah mencapai fase panen dan fase generatif sudah selesai, kita akan ambil data-data panennya di sini. Ini akan dijadikan salah satu data utama sebagai proses pelepasan varietas jagung PRG atau jagung bioteknologi,” ungkap Afif.
Ia menambahkan, inovasi bioteknologi ini menuntut tahapan yang panjang. “Proses asesmennya cukup lama, start 2012 dan baru bisa mulai launching produk di 2024, jadi kurang lebih 12 tahun proses registrasi jagung bioteknologi ini,” jelasnya.
Pada lahan seluas hampir dua hektar tersebut, diuji tiga varietas yakni NK Sumo, NK Perkasa, dan NK Pendekar yang memiliki keunggulan tahan herbisida glifosat serta berbagai hama merusak.
Dari sisi akademis, riset ini melibatkan kontribusi krusial dari kepakaran dosen UMM yang dibagi ke dalam beberapa divisi spesifik.
Kepala Prodi Agroteknologi FPP UMM, Dr. Ir. Agus Zainudin, MP, memaparkan keunggulan teknologi rekayasa ini bagi sektor pertanian.
“Secara istilah sederhananya adalah produk jagung ini nanti tanamannya tahan terhadap serangan hama, ada hama yang spesifik menyerang tongkol, menyerang batangnya, dan menyerang daunnya. Ketiga jenis hama itu bisa diatasi, artinya tidak menyebabkan kerusakan pada tanaman yang sudah dikembangkan oleh PT Syngenta Indonesia,” paparnya.

Lebih dari sekadar riset agribisnis, lahan di Kota Batu ini difungsikan secara optimal sebagai laboratorium terapan yang memberdayakan masyarakat sekitar dan mahasiswa kampus. Terkait pelibatan akademisi muda, ia menegaskan komitmen program studi.
“Selama proses kegiatan pengujian, kita melibatkan mahasiswa semester akhir supaya tidak mengganggu studinya. Ini juga sebagai bentuk pembelajaran bagi mahasiswa, semacam demo pengujian, bahwa kalau ingin mengembangkan suatu tanaman hasil rekayasa itu bisa melakukan seperti ini pola kerjanya,” terangnya.
Berkat pengalaman terjun langsung ini, banyak alumni yang dinilai berkinerja baik langsung diserap sebagai pekerja di PT Syngenta Indonesia.
Kerja sama yang telah melewati tiga periode pengujian ini direncanakan akan terus berlanjut untuk proyek riset berikutnya hingga 2028. Agus menutup kegiatan panen tersebut dengan harapan besar bagi lulusannya.
“Harapannya dari situ semua mahasiswa, semua alumni yang terlibat itu menjadi patokan kita bersama bahwa bekerja di industri benih itu peluangnya sangat besar, sangat terbuka, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para mahasiswa Prodi Agroteknologi UMM khususnya,” pungkasnya.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments