Ada yang tidak biasa dalam rapat Tim Jurnalis SMP Muhammadiyah 12 Paciran (Spemudas) atau yang dikenal dengan sebutan TERAS, Rabu (4/11/2026).
Sebanyak 26 siswa-siswi kelas VIII dan IX itu rapat di Perpustakaan SMPM 12 Paciran, pukul 13.00 – 14.45 WIB. Ruang ber-AC yang biasanya hening, sore itu justru ramai. Bukan karena debat yang panas, tapi karena suara kriuk… kriuk… kriuk kerupuk yang dimakan peserta rapat.
Kerupuk itu bukan sembarang kerupuk. Namanya “Kerupuk Tayamum”. Disebut Kerupuk Tayamum karena cara menggorengnya tidak pakai minyak, tapi pakai pasir. Seperti tayamum yang pakai debu sebagai pengganti air.
Oleh-oleh unik itu sengaja dibawa Pembina TERAS, Gondo Waloyo, sepulang mengikuti Pelatihan Hukum Jurnalisme Siber di Trawas, Mojokerto, 31 Oktober 2026 lalu.
“OOO ini toh kerupuk Tayamum itu, saya penasaran. Masa kerupuk digoreng pakai pasir? Ternyata enak, krispi dan gurih. Makanya anak-anak TERAS pada semangat menikmati kerupuk ini,” ujar Yasifun yang juga pembina TERAS Bidang IT.
Selain kerupuk tayamum, rapat TERAS sore itu juga disuguhi bakso dan ada juga hidangan penutup yaitu es krim yang dibuat oleh Fazid Ulya Nahari, Pembina TERAS.
Sri Asian, Koordinator sekaligus pimpinan sidang TERAS, ikut mencicipi dan langsung memberi testimoni.
“Ternyata gurih juga, meskipun tanpa minyak dan hanya dengan pasir. Ini recommended dan sehat, non kolesterol,” ujarnya sambil terus mengunyah.
Suasana rapat pun jadi cair. Di sela membahas agenda pelatihan Jumat deoan, para jurnalis cilik Spemudas itu bergantian mengambil kerupuk dari plastik. Rapat yang seharusnya serius, jadi terasa seperti piknik.
Dari kerupuk tayamum ini, anak-anak TERAS belajar satu hal: menjadi jurnalis itu harus peka pada hal-hal unik di sekitar. Karena berita yang menarik, kadang lahir bukan dari peristiwa besar, tapi dari sepotong kerupuk yang digoreng dengan pasir. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments