PWMU.CO — Di tengah dinamika kehidupan remaja masa kini, memilih jalan sebagai penghafal Al-Qur’an bukanlah perkara mudah. Namun, pilihan mulia itu berhasil dijalani oleh Anas Musthofa, siswa MA Muhammadiyah 02 Pondok Modern Paciran (MAMDA), yang sukses menuntaskan hafalan 30 juz di penghujung masa studinya.
Lahir di Lamongan pada 19 November 2007 dan tumbuh di Pamekasan, Anas merupakan anak kedua dari empat bersaudara, putra pasangan Sudirman dan Zulfadilah. Lingkungan keluarga yang religius menjadi fondasi kuat dalam perjalanan spiritualnya, terlebih dengan sosok kakak yang juga hafiz Al-Qur’an sekaligus alumni MAMDA tahun 2024.
Awalnya, Anas tidak memiliki keinginan khusus menjadi seorang hafiz. Namun, keputusan orang tuanya untuk memondokkannya sejak kelas VI SD menjadi titik awal perubahan besar dalam hidupnya. Ia memulai pendidikan dari MI Hidayatus Sibyan, kemudian melanjutkan ke SD Negeri Tlontoraja 8. Perjalanan mondok dimulai di Pondok Pesantren Ibnu Ali, Madura, dilanjutkan ke MTs Sabi Al-Haq di Kapong, hingga akhirnya berlabuh di MAMDA Paciran sembari memperdalam hafalan di Pondok Pesantren Darul Qur’an Paciran.
Keseriusan dalam menghafal Al-Qur’an mulai ia tekuni sejak kelas I MTs. Dengan disiplin tinggi, Anas mampu menyelesaikan hafalan 30 juz saat kelas III MTs, meski saat itu belum sepenuhnya mutqin (kuat). Demi menyempurnakan hafalannya, ia mengambil jeda satu tahun khusus untuk memperkuat kualitas hafalan sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Dalam keseharian, Anas menggunakan metode hafalan terstruktur dengan mushaf Al-Huffaz berblok warna. Ia menghafal secara bertahap, membaca berulang, menghafal per bagian, lalu menguatkannya tanpa melihat mushaf. Setoran hafalan dilakukan dua kali sehari: ba’da Subuh untuk ziyadah dan ba’da Maghrib untuk muroja’ah. Sistem disiplin pondok yang ketat juga turut menjaga konsistensinya.
Meski demikian, perjalanan tersebut tidak lepas dari tantangan. Rasa malas menjadi ujian yang kerap datang. Namun, Anas memiliki cara sederhana namun kuat untuk mengatasinya, yakni dengan mengingat perjuangan kedua orang tuanya. “Kita harus berpikir bagaimana agar tidak mengecewakan harapan mereka,” ungkapnya.
Di balik tantangan, ia juga menemukan kebahagiaan tersendiri dalam menghafal Al-Qur’an. Ia menikmati keindahan kisah-kisah Al-Qur’an, doa-doa yang menyentuh, hingga isyarat ilmiah di dalamnya. Baginya, kebahagiaan terbesar adalah mampu membahagiakan kedua orang tua. Namun, ia juga menyadari bahwa menjaga hafalan merupakan tantangan yang lebih besar daripada menghafalnya.
Setelah lulus dari MAMDA pada 2026, Anas berencana mengabdi selama satu tahun di Pondok Pesantren Darul Qur’an Paciran sebelum melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Madinah dan menjadi pendakwah yang memberikan manfaat luas bagi umat.
Kepada para penghafal Al-Qur’an, Anas berpesan agar senantiasa meluruskan niat. Menghafal bukan untuk prestise atau pengakuan, melainkan semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Ia meyakini, ketika seseorang mengejar akhirat, maka dunia akan mengikuti.
Perjalanan Anas Musthofa menyelesaikan 30 juz dalam waktu 2 tahun 4 bulan di tengah kesibukan belajar menjadi bukti nyata bahwa ketekunan, disiplin, dan niat tulus mampu mengantarkan pada pencapaian luar biasa. Lebih dari sekadar hafalan, ia telah menapaki jalan sebagai pribadi Qur’ani yang menginspirasi generasi muda. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments