Suasana menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah di SD Muhammadiyah Sampit tahun ini menghadirkan kisah sederhana namun menyentuh hati. Seorang siswi berusia tujuh tahun bernama Afifah Hilya Nafisa menjadi perhatian para guru dan murid setelah dengan penuh keikhlasan menyerahkan seluruh tabungannya untuk berkurban.
Kegiatan bertema “Dengan Berkurban Kita Tingkatkan Rasa Keikhlasan dalam Kehidupan” tersebut berlangsung pada Senin (25/5/2026). Di tengah semangat berbagi dan pembelajaran nilai-nilai keislaman, Afifah menunjukkan makna pengorbanan yang tulus di usia belia.
Menabung Demi “Kendaraan di Surga”
Dengan wajah polos dan penuh keyakinan, Afifah mengungkapkan alasan dirinya begitu tekun menabung selama hampir satu tahun penuh.
“Afifah ingin punya kendaraan di surga,” ucapnya lirih saat ditanya alasan rela menyerahkan seluruh tabungannya untuk berkurban.
Jawaban sederhana tersebut membuat banyak guru dan orang tua terharu. Di usia ketika sebagian besar anak-anak seusianya menggunakan tabungan untuk membeli mainan atau jajan, Afifah justru memilih mengikhlaskan seluruh simpanannya demi ikut berkurban.
Setiap pagi sebelum kegiatan belajar dimulai, Afifah rutin menyisihkan uang pemberian orang tuanya untuk ditabung melalui program kerja sama sekolah dengan BMT.
Nominal yang disisihkan berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per hari. Kebiasaan kecil itu dijalani dengan tekun dan penuh kesabaran hingga akhirnya tabungannya cukup untuk berpartisipasi dalam ibadah Kurban tahun ini.
Keputusan Afifah mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya. Mereka tidak hanya memberikan motivasi, tetapi juga menanamkan nilai keikhlasan dan kecintaan terhadap ibadah sejak dini.
Kepala SD Muhammadiyah Sampit, Madiyah Siregar, S.Pd., M.Pd.Gr., mengaku bangga sekaligus terharu atas ketulusan yang ditunjukkan siswinya tersebut.
“Saya sangat bahagia dan terharu karena seorang anak kecil yang masih berusia tujuh tahun, yang didukung oleh orang tua hebat, bisa ikhlas memberikan seluruh tabungannya untuk berqurban di tahun ini,” ujarnya.
Sebagai bentuk apresiasi, sekolah juga memberikan reward berupa boneka sapi kepada Afifah atas keikhlasan dan semangatnya dalam berkurban.
Menurut pihak sekolah, kisah Afifah menjadi inspirasi bagi murid-murid lain maupun para guru. Keteladanan yang lahir dari tindakan sederhana itu dinilai sebagai bentuk nyata keberhasilan pendidikan karakter dan spiritual di lingkungan sekolah.
Salah satu guru kelas Afifah, Bu Dewi, mengatakan bahwa Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan melatih keikhlasan dan ketakwaan sejak usia dini.
“Afifah adalah bukti bahwa keikhlasan untuk berqurban bisa tumbuh dalam diri anak-anak jika kita tanamkan nilai-nilai agama dengan penuh kasih dan didukung oleh orang tua yang mendidiknya dengan benar di rumah. Ini bukan hanya soal hewan qurban, tetapi tentang keikhlasan yang sangat dalam dan cinta kepada Allah sejak usia dini,” katanya.
Pelaksanaan penyembelihan hewan Kurban di SD Muhammadiyah Sampit sendiri dijadwalkan berlangsung pada hari tasyrik, Kamis (28/5/2026).
Tahun ini, sekolah menyembelih dua ekor sapi dan empat ekor kambing yang berasal dari partisipasi guru, murid, orang tua, dan masyarakat sekitar.
Di balik jumlah hewan Kurban yang disembelih, kisah Afifah menghadirkan makna yang jauh lebih mendalam.
Kisah tersebut bukan sekadar tentang seorang anak yang berhasil menabung dari uang receh harian, tetapi tentang ketulusan hati dan cita-cita sederhana menuju surga.
Nilai tersebut sejalan dengan pesan dalam Surah Al-Hajj ayat 37 yang menegaskan bahwa bukan daging dan darah hewan Kurban yang sampai kepada Allah SWT, melainkan ketakwaan hamba-Nya.
Di usia yang masih sangat muda, Afifah tampaknya telah memahami esensi pengorbanan itu: bahwa Kurban bukan tentang besar kecilnya pemberian, melainkan tentang keikhlasan hati saat memberi.





0 Tanggapan
Empty Comments