Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kemerdekaan Belum Selesai: Dari Jejak Mas Mansur Menuju Indonesia Emas 2045

Iklan Landscape Smamda
Kemerdekaan Belum Selesai: Dari Jejak Mas Mansur Menuju Indonesia Emas 2045
Oleh : Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M. Deputi 2 Kemenko PMK RI dan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur

Di Surabaya pada dekade 1920-an, seorang pemuda bernama Soekarno tengah menempa gagasan tentang Indonesia merdeka. Dalam pergulatan intelektual itu, ia tidak hanya berdiskusi dengan para tokoh nasionalis, tetapi juga menjalin hubungan yang erat dengan ulama pembaru, KH Mas Mansur. Pertemuan mereka melahirkan pertukaran gagasan mengenai kemerdekaan, pendidikan, keadilan, dan martabat manusia.

Bung Karno memahami bahwa nasionalisme Indonesia tidak akan kokoh tanpa fondasi moral dan spiritual, sementara KH Mas Mansur meyakini bahwa Islam adalah agama yang membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan.

Hubungan itu mencapai momentum penting ketika Jepang membentuk Empat Serangkai yang terdiri atas Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH Mas Mansur. Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, mereka menyatu dalam cita-cita yang sama: Indonesia merdeka.

KH Mas Mansur dan Makna Kemerdekaan yang Bermartabat 

Namun, bagi KH Mas Mansur, kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Ketika melihat pemaksaan terhadap rakyat untuk menjadi romusha, hati nuraninya menolak tunduk pada kekuasaan yang menindas.

Beliau memilih meninggalkan kedudukan daripada mengkhianati rakyat. Setelah Indonesia merdeka, beliau tetap berdiri membela republik hingga ditangkap tentara NICA dan wafat pada 1946 akibat kondisi kesehatannya yang memburuk selama penahanan.

Jejak hidupnya mengajarkan bahwa kemerdekaan selalu menuntut keberanian, pengorbanan, dan integritas.

Warisan terbesar KH Mas Mansur bukan hanya keberaniannya menghadapi penjajah, melainkan pandangannya bahwa kemerdekaan harus melahirkan manusia yang berilmu, mandiri, dan bermartabat. Karena itu, perjuangan tidak berhenti pada 17 Agustus 1945.

Bentuknya saja yang berubah. Jika dahulu musuhnya adalah kolonialisme, hari ini musuh kita adalah kebodohan, kemiskinan, pengangguran, ketertinggalan teknologi, dan lunturnya etos kerja.

Mengisi Kemerdekaan: Dari Bonus Demografi Menuju Indonesia Emas 

Ironisnya, tantangan itu hadir ketika Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Dalam dua dekade menuju 2045, mayoritas penduduk Indonesia berada pada usia produktif.

Momentum yang hanya datang sekali dalam sejarah bangsa ini dapat menjadi modal besar untuk mewujudkan Indonesia Emas. Namun, tanpa sumber daya manusia yang unggul, bonus demografi justru berpotensi berubah menjadi beban berupa meningkatnya pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan sosial.

Karena itu, memaknai kemerdekaan hari ini harus sebagai kemampuan menciptakan kesempatan, bukan sekadar menunggu kesempatan. Generasi muda tidak cukup bercita-cita menjadi pencari kerja, tetapi harus didorong menjadi pencipta lapangan kerja.

Dunia digital, kecerdasan buatan, ekonomi kreatif, industri halal, pertanian modern, hingga kewirausahaan sosial membuka ruang yang sangat luas. Kebutuhannya adalah keberanian memulai, kemauan belajar, dan karakter yang tangguh.

Islam telah lama menanamkan etos produktivitas. Allah Swt. berfirman, “Apabila salat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah” (QS. Al-Jumu’ah: 10). Ayat ini menegaskan bahwa ibadah dan ikhtiar merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan.

Demikian pula firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Perubahan tidak lahir dari menunggu, melainkan dari usaha yang sungguh-sungguh. Semangat itulah yang diwariskan KH Ahmad Dahlan melalui Muhammadiyah.

SMPM 5 Pucang SBY

Beliau tidak hanya mengajarkan tauhid, tetapi juga membangun sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai amal usaha sebagai sarana membebaskan masyarakat dari kebodohan, kemiskinan, dan ketergantungan.

Dakwah diwujudkan dalam amal nyata yang menghadirkan solusi bagi kehidupan umat. Jejak perjuangan KH Mas Mansur juga terus hidup dalam gerakan Muhammadiyah.

Ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, pesantren, dan amal usaha yang berkembang hingga kini merupakan ikhtiar untuk melahirkan generasi yang beriman, berilmu, produktif, serta mampu bersaing di tingkat global.

Namun, tantangan Indonesia tidak mungkin dipikul oleh satu organisasi saja. Pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, media, dan masyarakat sipil harus membangun kolaborasi yang saling menguatkan agar setiap anak muda memperoleh ruang untuk tumbuh, berkarya, dan berinovasi.

Dalam berbagai kesempatan, masyarakat sering mengutip kalimat yang dinisbatkan kepada Bung Karno, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Para sejarawan masih memperdebatkan keaslian kutipan tersebut. Namun, terlepas dari autentisitasnya, pesan moral yang dikandungnya tetap relevan.

Musuh terbesar bangsa hari ini bukan lagi tentara kolonial, melainkan korupsi, rendahnya disiplin, budaya instan, penyebaran hoaks, intoleransi, serta keengganan untuk terus belajar dan bekerja keras.

Peringatan Hari Kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada seremoni mengibarkan bendera Merah Putih. Kemerdekaan harus menjadi momentum memperbarui tekad untuk membangun bangsa yang lebih produktif, adil, dan berkemajuan.

Kita menghormati para pendiri bangsa bukan hanya dengan mengenang jasa mereka, tetapi dengan melanjutkan cita-cita yang mereka wariskan.

Delapan puluh satu tahun lalu, KH Mas Mansur, Ki Hajar Dewantara, Ir. Soekarno, Mohammad Hatta melalui warisan gerakannya, serta para pejuang lainnya telah membuka jalan menuju Indonesia merdeka. Kini, tanggung jawab generasi penerus adalah mengisi kemerdekaan dengan ilmu, inovasi, kerja keras, dan pengabdian.

Jika semangat itu terus dihidupkan, maka Indonesia Emas 2045 tidak akan sekadar menjadi slogan pembangunan, melainkan menjadi buah dari perjuangan panjang yang berakar pada nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Itulah makna kemerdekaan yang sesungguhnya: kemerdekaan yang terus diperjuangkan melalui karya nyata bagi umat, bangsa, dan masa depan Indonesia.

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu