Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Keringat yang Bisa Menjadi Ibadah

Iklan Landscape Smamda
Keringat yang Bisa Menjadi Ibadah
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Pagi belum benar-benar ramai. Seorang pedagang membuka pintu tokonya. Ia menyapu lantai, menata barang, lalu duduk menunggu pembeli. Di tempat lain, seorang guru memasuki kelas. Seorang sopir menyalakan mesin kendaraannya. Seorang petani memeriksa sawahnya. Seorang pegawai mulai menyalakan komputer.

Pekerjaan mereka berbeda. Tetapi ada satu hal yang bisa membuat semuanya bernilai sama di hadapan Allah: niat dan cara menjalaninya.

Pekerjaan tidak selalu harus berada di masjid untuk menjadi ibadah. Tangan yang memegang cangkul, mengetik laporan, mengemudikan kendaraan, menjahit pakaian, berdagang di pasar, atau mengajar di depan kelas bisa menjadi jalan menuju rida Allah.

Syaratnya: dilakukan dengan jujur dan diniatkan untuk kebaikan.

Imam Abu Hasan As-Syadzili pernah berpendapat bahwa seseorang yang bekerja dengan jujur berarti telah berjuang melawan hawa nafsunya yang selalu condong kepada kebohongan. Sebab, bekerja dengan jujur tidak selalu mudah.

Ada kesempatan untuk mengambil keuntungan lebih besar. Ada peluang menyembunyikan kesalahan. Ada godaan mengurangi timbangan. Ada keinginan melaporkan pekerjaan yang sebenarnya belum selesai. Di situlah kejujuran menjadi perjuangan.

Dalam sebuah taushiyah, Abu Hasan As-Syadzili berkata: “Barang siapa bekerja dan teguh menjalankan perintah-perintah Allah, maka benar-benar sempurna perjuangannya dalam melawan hawa nafsu.”

Bayangkan seorang pedagang yang sebenarnya bisa mengurangi timbangan, tetapi memilih menambahnya sedikit.

Tidak ada yang tahu. Pembeli mungkin juga tidak akan menyadarinya. Namun ia tahu bahwa Allah melihat.

Atau seorang pegawai yang menemukan kesalahan dalam laporan. Ia bisa saja diam karena kesalahan itu tidak akan merugikan dirinya. Tetapi ia memilih memperbaikinya.

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada penghargaan. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih penting: hati yang tetap merasa diawasi Allah. Di situlah pekerjaan berubah menjadi ibadah.

Setelah kejujuran dalam bekerja kita raih, ada satu langkah lagi yang perlu dilakukan: menghadirkan niat ibadah dalam pekerjaan.

Abu Abbas al-Mursi memberikan gambaran yang menarik: “Bekerjalah kamu dan jadikanlah alat tenunmu, bila engkau penenun, sebagai tasbih. Jadikan kapakmu, bila engkau bekerja sebagai tukang kayu, sebagai tasbih. Jadikan jarummu, bila engkau penjahit, sebagai tasbih. Dan jadikan kepergianmu, bila engkau berdagang, sebagai tasbih.”

Pesannya dalam. Tasbih tidak selalu berada di tangan. Zikir tidak selalu dilakukan sambil duduk di atas sajadah.

Seorang penjahit bisa berzikir sambil menggerakkan jarumnya. Seorang petani bisa mengingat Allah sambil mencangkul tanah. Seorang pedagang bisa berzikir sambil melayani pembeli. Seorang guru bisa menjadikan setiap ilmu yang diajarkannya sebagai amal.

SMPM 5 Pucang SBY

Alat kerja tidak harus menjadi penghalang untuk mengingat Allah. Justru alat kerja bisa menjadi jalan untuk mendekat kepada-Nya.

Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui.’” (QS Az-Zumar: 39)

Karena itu, jangan meremehkan pekerjaan hanya karena terlihat biasa. Mungkin setiap hari kita hanya membuka toko kecil.

Mungkin kita hanya mengantar orang dari satu tempat ke tempat lain. Mungkin pekerjaan kita hanya menjawab pesan pelanggan, membersihkan ruangan, mengajar anak-anak, mengurus administrasi, memasak, menjahit, bertani, atau menjaga sebuah kantor.

Tetapi pekerjaan yang terlihat kecil bisa menjadi besar nilainya ketika dilakukan dengan cara yang benar.

Seorang ibu yang memasak untuk keluarganya dengan niat memberi makanan yang halal sedang menanam kebaikan.

Seorang ayah yang berangkat pagi mencari nafkah dengan cara yang halal sedang menunaikan tanggung jawab.

Seorang pekerja yang menolak menerima uang yang bukan haknya sedang menjaga kehormatan dirinya.

Seorang pedagang yang tetap jujur ketika sedang membutuhkan uang sedang membuktikan bahwa rezeki tidak harus dicari dengan mengorbankan kejujuran.

Begitulah kehidupan. Kita sering mengira ibadah hanya sesuatu yang dilakukan setelah pekerjaan selesai. Padahal, pekerjaan itu sendiri bisa menjadi bagian dari ibadah. Yang membedakan bukan semata-mata jenis pekerjaannya.

Melainkan untuk siapa pekerjaan itu dilakukan, bagaimana cara menjalaninya, dan apa yang kita cari melalui pekerjaan itu.

Maka berangkatlah bekerja dengan niat yang baik. Bekerjalah dengan jujur. Jangan curang meskipun ada kesempatan. Jangan mengambil yang bukan hak meskipun tidak ada yang melihat. Jangan merugikan orang lain meskipun keuntungan terbuka di depan mata.

Sebab bisa jadi, keringat yang jatuh ketika bekerja hari ini menjadi saksi di hadapan Allah kelak. Dan bisa jadi, pekerjaan yang selama ini kita anggap hanya sebagai cara mencari nafkah ternyata sedang menjadi ladang amal yang luas. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 08/10/2026 16:12
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu