Saya sering mengelus dada membaca komentar di media sosial. Kata-katanya kasar. Nadanya tinggi. Kadang seperti orang sedang kehilangan akal sehat.
Ada yang menyebut setan. Ada yang menantang duel. Ada yang menggunakan istilah rakyat jelata untuk merendahkan orang lain. Belum lagi kosa kata lain yang rasanya tidak pantas keluar dari mulut manusia yang mengaku beradab.
Saya membacanya sambil bertanya-tanya. Sejak kapan menghina dianggap keberanian? Sejak kapan kata-kata kasar menjadi ukuran ketegasan? Dan sejak kapan orang merasa menang hanya karena berhasil membuat orang lain sakit hati?
Padahal, kita ini bangsa yang dikenal santun. Setidaknya, begitulah yang sering kita banggakan.
Di rumah, kita diajari menghormati orang tua. Di sekolah, kita belajar tata krama. Dalam pergaulan, kita mengenal unggah-ungguh, tepa selira, dan tenggang rasa.
Kita punya bahasa yang kaya. Punya banyak cara untuk menyampaikan maksud tanpa harus melukai.
Tetapi, begitu masuk media sosial, sebagian dari kita seperti lupa membawa bekal itu. Jari-jari menjadi liar. Kalimat-kalimat meluncur tanpa rem.
Orang yang di dunia nyata mungkin tidak berani berkata kasar, tiba-tiba merasa perkasa di balik layar telepon.
Aneh, bukan? Jari yang lebih berani daripada mulut
Saya membayangkan seseorang sedang duduk di ruang tamu. Telepon di tangan. Matanya membaca sebuah unggahan yang membuatnya marah. Ia tidak setuju. Mungkin merasa tersinggung. Mungkin menganggap pendapat orang itu keliru.
Lalu ia mengetik. Satu kalimat. Dua kalimat. Kemudian sebuah makian. Jempolnya berhenti di tombol kirim.
Dalam beberapa detik, kalimat itu berpindah ke layar orang lain. Selesai.
Tetapi benarkah selesai?
Kita tidak tahu bagaimana perasaan orang yang menerimanya. Kita tidak melihat wajahnya. Tidak mendengar suaranya. Tidak tahu apakah ia sedang menghadapi masalah lain. Kita hanya merasa sudah melampiaskan sesuatu.
Psikolog John Suler pernah menjelaskan fenomena ini melalui konsep online disinhibition effect. Lingkungan digital bisa membuat seseorang lebih mudah mengungkapkan sesuatu yang biasanya ditahan dalam pertemuan langsung.
Ada jarak. Ada layar. Ada perasaan bahwa kita tidak sedang berhadapan dengan manusia secara utuh. Akibatnya, rem yang biasanya bekerja bisa melemah.
Namun, saya kira kita perlu berhenti sebentar. Memahami mengapa orang mudah berkata kasar bukan berarti membenarkan kekasaran.
Justru di ruang yang membuat kita merasa bebas, karakter kita sedang diuji. Sebab, kesantunan paling mudah dilakukan ketika orang lain melihat.
Yang lebih sulit adalah menjaga ucapan ketika kita merasa tidak ada yang mengawasi.






0 Tanggapan
Empty Comments