Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

MBG: Negara Memasak, Akal Sehat Dipanaskan, Bukti Ilmiah Didinginkan

Iklan Landscape Smamda
MBG: Negara Memasak, Akal Sehat Dipanaskan, Bukti Ilmiah Didinginkan
dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes. Foto: Dok/Pri
Oleh : dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes Mahasiswa Program Doktor PSDM Pascasarjana Unair

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tampaknya lahir dari dapur kebijakan dengan resep sederhana: “Kalau rakyat lapar, beri makan. Kalau sudah makan, pasti pintar.” MBG datang seperti pahlawan yang bangun agak siang: membawa nasi kotak, telur rebus, dan janji manis—anak-anak akan sehat, kuat, bahkan cerdas.

Sebuah narasi yang begitu menggoda, sampai-sampai terdengar seperti iklan multivitamin yang terlalu percaya diri. Namun, jika kita mengajak Immanuel Kant duduk sebentar di kantin sekolah penerima MBG, besar kemungkinan beliau akan mengernyit, lalu bertanya dengan tenang: “Apakah ini rasional? Dan lebih penting lagi, apakah ini bisa dijadikan hukum universal?”

Kant, yang dikenal sebagai filsuf yang memadukan rasionalisme dan empirisme, tidak akan mudah terpesona oleh niat baik. Baginya, moralitas harus lolos dua uji: rasio (logika) dan pengalaman (empiris).

Nah, di sinilah MBG mulai goyah seperti kursi plastik yang diduduki orang obesitas. Klaim bahwa pemberian makanan gratis dapat meningkatkan kecerdasan anak terdengar logis. Namun, ketika diuji secara empiris, hubungan tersebut tidak sesederhana anak makan lalu menjadi pintar.

Penelitian menunjukkan bahwa perkembangan kognitif anak dipengaruhi oleh kombinasi kompleks antara nutrisi berkualitas, stimulasi lingkungan, pendidikan, dan kondisi sosial-ekonomi (Grantham-McGregor et al., 2007; Black et al., 2013). Artinya, kalau makanannya sekadar ‘yang penting ada’, maka hasilnya juga bisa ‘yang penting kenyang’.

Di titik ini, MBG tampak seperti eksperimen sosial dengan bumbu optimisme berlebih. Seolah-olah negara berkata: ‘Kita kasih makan dulu, nanti pintar sendiri.’ Kant mungkin akan menyebut ini sebagai pelanggaran terhadap rasio praktis.

Lebih ekstrem lagi, ini bisa masuk kategori wishful thinking yang dilegalkan menjadi kebijakan. MBG tampak terlalu percaya diri pada satu asumsi: bahwa semua makanan adalah gizi, dan semua gizi adalah kecerdasan. Ini seperti menganggap semua buku membuat pintar, padahal kalau yang dibaca cuma katalog diskon, hasilnya tetap diskon pemahaman.

Komposisi makanan yang tidak seimbang dalam implementasi MBG memperkuat kesan bahwa program ini lebih fokus pada distribusi daripada kualitas. Dalam bahasa yang lebih jujur: yang penting sampai, urusan manfaat belakangan.

Sekarang mari kita bawa ke panggung utama Kant: imperatif kategoris. Prinsip ini, dalam versi sederhananya, menuntut agar setiap tindakan dapat dijadikan hukum universal.

Jadi, bayangkan jika seluruh dunia mengadopsi prinsip MBG versi minimalis: memberi makanan dengan komposisi gizi yang tidak jelas, lalu berharap kecerdasan meningkat. Apakah ini akan berhasil secara universal?

Atau justru menghasilkan generasi yang kenyang tapi bingung? Semoga jawabannya bukan yang kedua.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Kant juga mengingatkan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan (end in itself), bukan sekadar alat. Di sinilah MBG mulai terasa ‘nakal’. Program ini berisiko menjadikan Penerima Manfaat (PM) sebagai objek statistik dan panggung pencitraan: angka distribusi naik, foto kegiatan bertebaran, tetapi kualitas intervensi? Masih tanda tanya.

Anak-anak, dalam hal ini, bukan lagi subjek yang dibangun kapasitasnya, melainkan ‘bukti konsep’ (proof of concept) kebijakan. Dalam bahasa kekinian: mereka jadi konten, bukan konteks.

Dari sisi gizi? Gizi seimbang itu bukan sekadar karbohidrat plus lauk seadanya. Ia melibatkan keseimbangan makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) dan mikronutrien (vitamin, mineral).

Tanpa standar yang jelas, MBG berpotensi menjadi “program kenyang nasional”. Kenyang? Ya. Bergizi? Belum tentu. Cerdas? Kita tunggu episode berikutnya.

Namun, jangan salah: Kant bukan anti makan gratis. Beliau hanya anti terhadap kebijakan yang malas berpikir.

Dalam kerangka Kant, kebijakan yang baik harus berbasis rasio dan bukti empiris, bukan sekadar intuisi politik. Artinya, jika MBG ingin serius, maka ia harus dirancang seperti penelitian ilmiah, bukan seperti acara bagi-bagi takjil. Ada standar, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan.

Pada akhirnya, MBG mengajarkan kita satu pelajaran penting: niat baik itu seperti nasi hangat—menyenangkan, tapi tidak cukup. Harus ada lauk berupa data, sayur berupa logika, dan sambal berupa evaluasi kritis.

Tanpa itu, kita hanya sedang menghidangkan kebijakan yang terlihat lezat di atas kertas, tetapi hambar dalam dampak. Dan jika Kant benar-benar hadir hari ini, mungkin beliau tidak akan menolak makanannya.

Namun setelah itu, beliau pasti akan berkata: “Sapere aude, beranilah berpikir. Termasuk sebelum memasak kebijakan.” (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 14/04/2026 08:20
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡