Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sumur Doa dan “Air Suci”: Jejak Dakwah Sahabat Nabi di Guangzhou

Iklan Landscape Smamda
Sumur Doa dan “Air Suci”: Jejak Dakwah Sahabat Nabi di Guangzhou
Shabi Well, sumur yg diyakini sebagai Air Suci yg digali ikeh Saad bin Abi Waqqas pada masa itu. Foto: Zainal Arifin/PWMU.CO

Di tengah rimbunnya kompleks makam bersejarah di Guangzhou, sebuah sumur tua yang dijuluki “Sumur Doa” menjadi saksi bisu ketulusan dakwah Islam di masa awal. Airnya yang disebut warga sebagai “Air Suci” bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi simbol pengabdian tanpa batas dari Sa’ad bin Abi Waqqas dalam menebarkan manfaat bagi umat.

Di dalam kompleks makam yang dikenal sebagai Masjid Xianxian, perhatian delegasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim tertuju pada sebuah sumur tua yang sarat makna sejarah.

Menurut keyakinan masyarakat setempat, sumur tersebut digali langsung oleh Sa’ad bin Abi Waqqas untuk menyediakan air bersih bagi musafir dan jamaah di masa awal perkembangan Islam di Tiongkok.

Hingga kini, air dari sumur tersebut dikenal sebagai “Air Suci”. Lebih dari sekadar sumber air, keberadaan sumur ini menjadi simbol nyata dedikasi seorang sahabat Nabi dalam memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya—sebuah nilai yang sejalan dengan semangat pengabdian Muhammadiyah.

Melanjutkan agenda kunjungan strategis di Tiongkok, Senin (13/4/2026) pukul 15.45 waktu setempat. rombongan PWM Jatim melakukan ziarah sejarah ke makam Sa’ad bin Abi Waqqas yang terletak di Guangzhou. Situs ini diyakini sebagai salah satu jejak awal masuknya Islam ke daratan Tiongkok pada abad ke-7 Masehi.

Rombongan yang dipimpin dr. Tamhid Masyhudi disambut hangat oleh imam masjid setempat. Dalam suasana penuh keakraban, sang imam menjelaskan posisi penting kompleks ini sebagai pusat awal penyebaran Islam di Asia Timur.

Kehadiran Sa’ad bin Abi Waqqas di Tiongkok merupakan bagian dari misi diplomatik besar pada masa Utsman bin Affan. Ia diutus untuk menemui Kaisar Gaozong dari Dinasti Tang sekitar tahun 651 Masehi, sekaligus membawa pesan damai Islam melalui jalur perdagangan internasional yang dikenal sebagai Jalur Sutra.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Sumur Doa dan “Air Suci”: Jejak Dakwah Sahabat Nabi di Guangzhou
Delegasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah di Guangzhou. Foto: Istimewa

Berbeda dengan catatan sejarah di Madinah yang menyebut beliau wafat di Al-Aqiq, tradisi Muslim di Tiongkok meyakini bahwa Sa’ad bin Abi Waqqas menghabiskan akhir hayatnya di Guangzhou. Ia menetap untuk membina komunitas Muslim awal serta membangun Masjid Huaisheng, yang dikenal sebagai Masjid Menara Cahaya.

Keikhlasan beliau meninggalkan tanah kelahiran demi dakwah membuat masyarakat setempat sangat menghormatinya. Setelah wafat di usia senja, beliau dimakamkan di Guangzhou sebagai bentuk penghormatan atas jasanya dalam menyebarkan Islam di Negeri Tirai Bambu.

Menariknya, kompleks makam ini menghadirkan suasana yang kontras dengan hiruk-pikuk kota modern. Dikelilingi pepohonan rindang, kawasan ini terasa seperti “hutan kota” yang menenangkan. Nuansa teduh dan hening menghadirkan pengalaman spiritual yang mendalam bagi para peziarah.

Selain itu, arsitektur Masjid Xianxian juga menjadi daya tarik tersendiri. Mengusung gaya tradisional Tionghoa dengan atap melengkung dan ornamen khas, masjid ini mencerminkan akulturasi budaya yang harmonis tanpa meninggalkan esensi sebagai tempat ibadah.

Kunjungan ini meninggalkan kesan mendalam bagi delegasi PWM Jawa Timur. Lebih dari sekadar ziarah, perjalanan ini menjadi refleksi bahwa dakwah sejati adalah tentang menghadirkan manfaat lintas batas—sebagaimana diwariskan oleh Sa’ad bin Abi Waqqas melalui Sumur Doa dan “Air Suci” yang terus mengalir hingga hari ini. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 14/04/2026 12:16
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡