Peringatan Hari Kartini menjadi momentum penting dalam pelaksanaan Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang. Kegiatan yang digelar di Hall Dome UMM ini tidak hanya menandai kelulusan akademik, tetapi juga menjadi refleksi atas gagasan emansipasi dan peran strategis perempuan dalam pembangunan bangsa.
Di tengah meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi, pertanyaan mengenai kontribusi nyata mereka menjadi semakin relevan. Wisuda bukan sekadar seremoni akademik, melainkan awal dari tanggung jawab sosial yang lebih luas.
Dalam orasinya, Ira Puspadewi, Ph.D menegaskan bahwa kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas institusi dan sumber daya manusia, bukan sekadar faktor geografis. Ia juga menyoroti masih rendahnya keterlibatan perempuan pada level kepemimpinan strategis.
“Jika kita ingin Indonesia maju, maka kualitas institusi harus diperbaiki, dan di dalamnya peran perempuan menjadi sangat penting. Wisudawan dan wisudawati hari ini adalah bagian dari kelompok kecil masyarakat terdidik yang memiliki tanggung jawab besar untuk membawa perubahan. Perempuan harus berani meningkatkan kepercayaan diri terhadap kemampuannya, tidak terjebak dalam batasan sosial, serta memiliki role model yang kuat agar mampu tampil sebagai pemimpin,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar tidak hanya terletak pada struktur sosial, tetapi juga pada persepsi diri perempuan yang kerap meragukan kemampuannya sendiri. Oleh karena itu, dukungan dari lingkungan, keluarga, dan institusi pendidikan menjadi faktor penting dalam membangun keberanian perempuan untuk tampil sebagai pemimpin.
Sementara itu, Mukarromah, Sekretaris Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur, menegaskan bahwa wisuda bukanlah titik akhir, melainkan pintu awal untuk berkontribusi di tengah masyarakat.
“Ilmu yang kalian peroleh harus dihidupkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi capaian akademik semata. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, terutama di era digital, menjadi kunci agar tidak tertinggal. Di sisi lain, adab dan etika harus tetap menjadi landasan utama dalam setiap langkah, karena keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian, tetapi juga dari cara mencapainya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya integrasi antara ilmu, keterampilan, dan nilai kejujuran sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan, sekaligus menegaskan peran perempuan dalam menjaga nilai keagamaan dan mendorong kemajuan bangsa.
Pandangan serupa disampaikan oleh Rektor UMM, Nazaruddin Malik, yang menegaskan komitmen kampus dalam menghasilkan lulusan unggul secara akademik sekaligus berkarakter kuat.
“Universitas Muhammadiyah Malang akan terus kami proyeksikan untuk melahirkan lulusan yang berkualitas karena prosesnya kami jamin, sekaligus membentuk insan dengan karakteristik yang mulia. Kami ingin melahirkan alumni yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental, adaptif terhadap perubahan, serta mampu menjadi problem solver di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa berbagai program pengembangan seperti Center of Excellence (CoE) dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis dan adaptif terhadap dinamika global.
Di balik prosesi wisuda yang berlangsung khidmat, pesan yang mengemuka tidak berhenti pada capaian akademik semata. Para lulusan dihadapkan pada realitas bahwa tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah menyandang gelar.
Wisuda menjadi titik awal untuk membuktikan kapasitas, integritas, dan keberanian dalam berkontribusi nyata bagi masyarakat. Sejalan dengan semangat Hari Kartini, lulusan perempuan diharapkan tidak hanya hadir sebagai bagian dari sistem, tetapi juga sebagai penggerak perubahan yang berdampak bagi bangsa.





0 Tanggapan
Empty Comments