Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) 08 Lembor, Brondong, Lamongan menggelar pawai keliling kampung pada Selasa (21/4/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 50 siswa yang berjalan menyusuri rute desa sambil menyanyikan lagu-lagu patriotik dengan penuh semangat.
Di bawah pendampingan para guru, di antaranya Miftahul Fatah dan Ali Imron, S.Pd., para siswa melantunkan berbagai lagu kebangsaan seperti Ibu Kita Kartini, Bangun Pemuda Pemudi, Berkibarlah Benderaku, dan Halo-Halo Bandung. Suasana pawai berlangsung meriah dan penuh antusiasme.
Ali Imron menjelaskan bahwa rute pawai dimulai dari MIM 08 menuju arah utara ke lapangan voli dan gapura Desa Lembor, kemudian berputar kembali ke selatan hingga pertigaan desa, dan berakhir kembali di madrasah.
“Peringatan Hari Kartini ini kami isi dengan kegiatan sederhana namun bermakna, seperti pawai dan lomba menggambar poster Kartini. Tujuannya agar siswa mengenal sosok Kartini dan memahami perjuangannya dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan,” ujarnya.
Para siswa juga mengenakan pakaian adat sederhana hasil kreasi orang tua, tanpa harus menyewa. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pengenalan budaya sekaligus menanamkan nilai kesederhanaan.
Kecintaan Terhadap Lagu-lagu Nasional
Kepala MIM 08 Lembor, Indah Setia Yuni, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan siswa terhadap lagu-lagu nasional yang mulai jarang dihafal oleh anak-anak.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal lagu populer, tetapi juga lagu-lagu kebangsaan. Ke depan, kami akan terus mengadakan kegiatan serupa pada hari-hari besar nasional,” tuturnya.
Selain pawai, kegiatan juga diisi dengan lomba mewarnai gambar Ibu Kartini yang diikuti seluruh kelas. Dari setiap kelas akan dipilih satu karya terbaik sebagai pemenang.
Salah satu guru pendamping, Mafazah Helna, menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi refleksi bagi guru untuk terus mengenalkan sejarah perjuangan para pahlawan kepada siswa.
“Masih banyak siswa yang bertanya siapa Kartini dan mengapa kita harus mengenangnya. Ini menjadi pengingat bahwa peringatan hari besar tidak sekadar seremonial, tetapi juga sarana pembelajaran yang bermakna,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat perjuangan Kartini dapat tertanam dalam diri siswa, tidak hanya sebagai simbol, tetapi juga sebagai nilai yang menginspirasi kehidupan mereka di masa depan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments