Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan, Fathurrahim Syuhadi, menegaskan pentingnya meneguhkan ideologi dan merawat etika dalam dakwah Muhammadiyah di tengah arus perubahan zaman. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan In House Training Pelatihan Mubaligh Karyawan Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) Lamongan, Kamis (23/4/2026).
Dalam pemaparannya, Fathurrahim Syuhadi menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah bukan sekadar aktivitas seremonial, melainkan merupakan denyut nadi gerakan yang telah dirintis sejak masa KH Ahmad Dahlan.
“Dakwah adalah ruh Muhammadiyah. Ia tidak boleh kehilangan arah, apalagi di tengah perubahan zaman yang begitu cepat,” tegasnya di hadapan para peserta.
Ia menjelaskan, era modern yang ditandai dengan globalisasi dan digitalisasi membawa tantangan serius bagi dakwah. Perubahan pola pikir masyarakat, terutama generasi muda, menuntut pendekatan yang lebih cerdas dan adaptif.
“Hari ini ruang dakwah semakin luas, tetapi pada saat yang sama, potensi distorsi pesan keagamaan juga semakin besar,” ujarnya penuh semangat
Menurutnya, ideologi dakwah Muhammadiyah harus tetap berpijak pada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam. Dari sinilah lahir konsep Islam Berkemajuan yang mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam satu kesatuan utuh.
“Islam harus menjadi kekuatan yang mendorong kemajuan, bukan justru menghambat perubahan,” jelasnya dihadapan peserta In House Training Pelatihan Mubaligh
Wakil Ketua LPCR PM PWM Jatim ini juga menyoroti pentingnya tajdid atau pembaruan dalam dakwah Muhammadiyah. Ia menyebutkan bahwa tajdid mencakup dua aspek utama, yakni purifikasi dan dinamisasi.
“Kita harus menjaga kemurnian ajaran, tetapi sekaligus mampu menyesuaikan metode dakwah dengan perkembangan zaman,” ungkap ayah tiga putra putri ini
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah tidak hanya dilakukan melalui ceramah, tetapi juga melalui tindakan nyata dan tulisan. “Dakwah bil hal seringkali lebih kuat daripada dakwah bil lisan. Apa yang kita lakukan adalah pesan yang paling mudah dipercaya,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Fathurrahim juga menggarisbawahi pentingnya etika dalam berdakwah. Menurutnya, dakwah yang tidak dilandasi etika justru berpotensi menimbulkan konflik di tengah masyarakat.
“Dakwah harus dilakukan dengan hikmah, dengan kelembutan, dan dengan cara yang mencerahkan,” tegas pria yang tinggal di Babat Lamongan ini
Ia menjelaskan bahwa prinsip mau’izhah hasanah menuntut dai untuk menyampaikan pesan dengan bahasa yang santun dan tidak provokatif. Sementara itu, mujadalah bil lati hiya ahsan mengajarkan pentingnya dialog yang sehat dan menghargai perbedaan.
“Kita tidak sedang memaksakan kebenaran, tetapi mengajak dengan cara yang bijak,” imbuh penulis produktif ini
Selain itu, ia menekankan bahwa keteladanan merupakan kunci utama keberhasilan dakwah. Seorang mubaligh, lanjutnya, harus mampu menjadi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Ketika ucapan tidak sejalan dengan tindakan, maka kepercayaan akan hilang,” ujar penulis buku Berfikir Positif dan Optimis, Kunci Hidup Bahagia Penuh Makna
Fathurrahim juga mengingatkan pentingnya menjaga moderasi dan inklusivitas dalam dakwah Muhammadiyah. Di tengah maraknya paham ekstrem, Muhammadiyah harus tampil sebagai kekuatan penyeimbang yang meneduhkan. “Dakwah harus menjadi rahmat, bukan sumber perpecahan,” katanya.
Dalam konteks implementasi, ia menyebutkan bahwa dakwah Muhammadiyah telah hadir melalui berbagai amal usaha, seperti pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Rumah sakit Muhammadiyah, termasuk RSM Lamongan, menjadi bagian penting dari dakwah bil hal yang dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.
Ia juga mendorong para peserta pelatihan untuk memanfaatkan media digital sebagai sarana dakwah. “Media sosial harus kita isi dengan konten yang kreatif, edukatif, dan inspiratif. Jangan sampai ruang digital dikuasai oleh narasi yang menyesatkan,” pesannya.
Mengakhiri pemaparannya, Fathurrahim menegaskan bahwa tantangan dakwah ke depan akan semakin kompleks, mulai dari globalisasi, radikalisme, hingga krisis keteladanan. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh mubaligh untuk terus memperkuat ideologi dan menjaga etika dalam berdakwah.
“Dakwah Muhammadiyah harus menjadi cahaya yang menerangi, bukan api yang membakar. Kita hadir untuk mencerdaskan, mencerahkan, dan membebaskan,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments